Antrean di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Terjadi Lagi, ASDP Targetkan Segera Terurai
BanyuwangiNet.com – Antrean kendaraan di sekitar Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kepadatan tersebut dipicu surut ekstrem permukaan air laut yang menyebabkan kapal di dermaga Landing Craft Machine (LCM) kesulitan, bahkan tidak dapat bersandar.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Media Syahrianto, mengatakan, kepadatan kendaraan merupakan dampak dari kondisi surut ekstrem yang terjadi sekitar lima hari sebelumnya. Saat itu, kondisi air laut surut hingga dua kali dalam sehari selama hampir dua hari berturut-turut.
“Saat itu hampir 2 hari kita itu kena surut air (laut). Surut air itu hampir 2 kali, pagi sore dan besoknya pagi sore juga,” jelas Media, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, setiap periode surut ekstrem berlangsung sekitar lima hingga enam jam. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas kapal jenis LCT yang melayani bongkar muat di dermaga LCM. Ketika air laut surut ekstrem, kapal-kapal tersebut tidak dapat bersandar sehingga kendaraan logistik, terutama truk berukuran besar, tidak bisa menyeberang.
“Apalagi muatan-muatan tronton, truk besar, kendaraan besar di sana semua. Jadi memang itu yang terdampak sekali,” tegasnya.
Media menjelaskan, saat ini diperlukan waktu untuk memulihkan kondisi operasional agar antrean kendaraan logistik dapat segera terurai. Kendaraan yang tertahan harus diatur secara bertahap, mulai dari masuk ke buffer zone di Bulusan hingga dapat dimuat ke kapal.
“Mudah-mudahan ini bisa berjalan sesuai dengan rencana. Kita atur lagi semoga ini antrian bisa terurai lebih cepat,” tegasnya.
Saat ini, panjang antrean kendaraan tercatat mencapai sekitar 4,5 kilometer. ASDP menargetkan antrean dapat terurai dalam beberapa hari ke depan, dengan catatan kondisi cuaca mendukung, tidak terjadi surut ekstrem, dan tidak ada lonjakan jumlah kendaraan.
“Kemungkinan besok sudah harus dikelar, artinya bisa masuk semua ke dalam buffer zone di Bulusan,” terangnya.
Selama terjadi surut ekstrem, ASDP juga melakukan pengerukan di sekitar dermaga LCM. Pengerukan lebih dahulu dilakukan di dermaga LCM Gilimanuk karena kondisi perairannya relatif landai. Namun, pekerjaan tersebut sempat dihentikan ketika kepadatan kendaraan kembali meningkat.
Selain itu, ASDP berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) sebagai regulator untuk mengatur pola operasional dan jadwal kapal.
ASDP dan Pemkab Banyuwangi Siapkan Sejumlah Langkah Atasi Antrean Ketapang
ASDP telah mengusulkan pengerahan kapal-kapal berukuran besar, penerapan pola operasi tiba bongkar berangkat (TBB), serta percepatan proses bongkar muat untuk meningkatkan kapasitas penyeberangan.
Media menegaskan, kepadatan kali ini disebabkan faktor cuaca berupa surut ekstrem. Menurutnya, tidak ada kendala pada kondisi dermaga maupun kapal yang beroperasi.
“Kalau faktor cuaca kita tidak bisa lawan,” tegasnya.
ASDP Siapkan Buffer Zone Baru di Eks Gudang Pusri, Target Beroperasi Sebelum Nataru 2026/2027
Ia berharap memasuki musim hujan tidak terjadi lagi surut ekstrem yang menghambat operasional penyeberangan. Meski demikian, kondisi cuaca saat musim hujan juga memiliki tantangan lain, yakni arus laut yang cenderung lebih kuat dan dapat menyulitkan kapal ketika bersandar.
“Tapi yang kami kuatirkan saat hujan ini adalah arus. Mungkin agak terhambat sedikit (proses sandar) karena cuaca,” ujarnya.