Ngopi Sepuluh Ewu Kemiren, Tradisi Kopi Gratis yang Sarat Filosofi Suguh, Gupuh, Lungguh

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 8 November 2026, 17:35 WIB
WhatsApp Image 2026-11-07 at 22.13.42 (1)
Pengunjung memadati Desa Kemiren saat pelaksanaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu.

BanyuwangiNet.com – Festival Ngopi Sepuluh Ewu kembali digelar di Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu (7/11/2026) malam. Ribuan cangkir kopi disajikan gratis oleh warga kepada para pengunjung sebagai wujud keramahan masyarakat Suku Osing dalam menyambut tamu.

Festival budaya ini tidak sekadar menjadi ajang menikmati kopi, tetapi juga menggambarkan filosofi masyarakat Osing dalam menerima tamu, yakni suguh, gupuh, lungguh. Tiga nilai tersebut merupakan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dijaga hingga sekarang.

Sejak pertama kali digelar pada 2014, Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadi salah satu agenda budaya yang dinantikan wisatawan. Setiap penyelenggaraan, ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara, memadati jalan utama Desa Kemiren.

Mereka disambut hangat oleh warga yang menyediakan kopi di depan rumah masing-masing. Selain menikmati kopi secara gratis, pengunjung juga dapat mencicipi aneka kudapan tradisional masyarakat Osing, seperti kucur, tape ketan berbungkus daun kemiri, hingga pisang goreng.

Suasana kebersamaan dan keramahan warga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Mereka bisa merasakan langsung tradisi masyarakat Kemiren dalam menjamu tamu, sekaligus menikmati cita rasa kopi khas yang disajikan warga.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan tradisi minum kopi masyarakat Osing bukan sekadar kebiasaan, melainkan memiliki makna lebih dalam sebagai simbol persaudaraan. Filosofi tersebut tercermin dalam semboyan Sak Corot Dadi Sakduluran, yang berarti sekali seduh menjadi saudara.

“Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong. Masyarakat ikhlas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan,” ungkapnya.

Ipuk mengapresiasi masyarakat Kemiren yang konsisten menjaga tradisi leluhur hingga desa tersebut dikenal luas sebagai desa adat wisata. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, lanjutnya, akan terus mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan potensi wisata Desa Kemiren.

Sementara itu, Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin, menjelaskan bahwa Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan hanya tentang menyajikan ribuan cangkir kopi kepada pengunjung. Lebih dari itu, festival tersebut menjadi gambaran karakter masyarakat Osing yang menjunjung tinggi keramahan dan penghormatan kepada tamu.

Kemiren Banyuwangi, Desa Adat Osing Banyuwangi yang Mendunia lewat Keramahan dan Tradisi

“Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu,” katanya.

Menurut Arifin, suguh berarti memberikan suguhan atau hidangan kepada tamu, meskipun hanya berupa minuman. Sementara gupuh bermakna antusias dan sigap dalam menyambut kedatangan tamu. Adapun lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang layak agar tamu merasa nyaman.

Menpar Dorong Desa Wisata Kemiren Banyuwangi Raih Predikat Best Tourism Village UN Tourism

Ketiga nilai tersebut menjadi pedoman masyarakat Osing dalam membangun hubungan sosial dan menjaga tradisi menjamu tamu. Melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu, nilai-nilai budaya itu diperkenalkan kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda dan wisatawan dari berbagai daerah.

“Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kearifan ini perlu terus kita rawat dan wariskan kepada anak cucu,” ujarnya.

Artikel Terkait