Ulum, Bocah 12 Tahun dari Banyuwangi Piawai Bikin Kostum Jaranan dan Barong
BanyuwangiNet.com – Ahmad Robert Rif’al Ulum, siswa kelas VI SD asal Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, punya ketertarikan yang tak biasa di usianya yang masih 12 tahun. Di tengah dominasi tren digital dan hiburan modern, Ulum justru memilih jalan berbeda, menekuni dunia seni tradisional, khususnya kesenian jaranan dan barong.
Sejak kecil, Ulum memang sudah akrab dengan dunia seni. Ia aktif di berbagai kelompok kesenian, salah satunya adalah Barong Cilik Mitro Dirgohayu Bodoyo—komunitas seni yang diikuti oleh anak-anak seusianya. Bersama kelompok ini, Ulum bahkan pernah menjuarai lomba tari Jaranan Buto di tingkat lokal.
Spesial Idul Adha 2025, “Banyuwangi Berbagi” Salurkan Daging untuk Warga Miskin
Namun, kecintaannya pada seni tradisi tak hanya berhenti di panggung pertunjukan. Ketertarikannya terhadap kostum-kostum megah dan berwarna-warni yang digunakan dalam kesenian barong dan jaranan mendorongnya untuk mencoba membuat sendiri kostum-kostum tersebut.
“Saya belajar membuat baru sekitar tiga bulan. Belajar otodidak dari media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram,” ungkap Ulum.
Dengan memanfaatkan bahan dan alat seadanya, Ulum mulai membuat kostum seni untuk anak-anak sebayanya. Salah satu karya yang sedang ia garap saat ini adalah topeng pitik-pitikan—kostum dengan bentuk menyerupai ayam berwarna kuning cerah. Kostum ini biasa digunakan dalam pertunjukan Barong Kemiren, bagian dari tradisi masyarakat adat Suku Osing di Banyuwangi yang sering ditampilkan pada momen-momen budaya tertentu.
Tradisi Unik Idul Adha di Banyuwangi, Sapi Kurban Dihias dan Dimuliakan Sebelum Disembelih
Tak disangka, karya Ulum mendapat respon positif. Anak-anak di sekitarnya tertarik dan mulai memesan. Hingga saat ini, ia telah menerima lima pesanan kostum jaranan dan barong dengan harga antara Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu per buah—jumlah yang terbilang cukup besar bagi seorang anak sekolah dasar.
“Ke depan, saya ingin lebih fokus pada pembuatan perlengkapan kostum jaranan dan barong. Selain jadi penari, saya juga ingin menjadi pembuat kostum seni tradisional Banyuwangi,” ujar Ulum penuh semangat.
“Ijen Rijig: Kawah Ijen Ditutup Setiap Awal Bulan Demi Kebersihan dan Pemulihan Ekosistem”
Bagi Ulum, seni tradisional bukan sekadar hobi atau pelarian dari tren masa kini. Ia merasa seni lokal punya daya tarik yang kuat dan mendalam. Di saat teman-teman seusianya lebih tertarik pada hiburan digital dan budaya populer, Ulum justru merasa lebih nyaman dan terpenuhi saat terlibat dalam seni tradisi.
Terlebih lagi, hobinya ini sudah mulai menghasilkan. Pendapatan dari pesanan kostum yang ia buat bisa menambah uang jajan dan bahkan membuka peluang baru bagi dirinya dan anak-anak lain yang tertarik menekuni seni tradisional.