Sekolah Rakyat Banyuwangi dan Air Mata Seorang Ibu Tunanetra

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 1 Oktober 2025, 09:02 WIB
HARU: Nur Wahidah (50), seorang ibu tunanetra asal Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. Dengan suara terbata dan air mata yang menetes, ia bercerita kepada Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tentang perjuangan hidupnya.
HARU: Nur Wahidah (50), seorang ibu tunanetra asal Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. Dengan suara terbata dan air mata yang menetes, ia bercerita kepada Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tentang perjuangan hidupnya.

 

BanyuwangiNet.com – Sebanyak 73 siswa resmi memulai pendidikan di Sekolah Rakyat yang dibuka di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Selasa (30/9/2025).

Program sekolah berasrama gratis ini merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto, yang bertujuan memberikan kesempatan pendidikan setara bagi semua anak Indonesia.

Momen menyentuh dalam peresmian sekolah ini datang dari Nur Wahidah (50), seorang ibu tunanetra asal Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. Dengan suara terbata dan air mata yang menetes, ia bercerita kepada Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tentang perjuangan hidupnya.

Nur Wahidah kehilangan penglihatan sejak sembilan tahun lalu. Suaminya pergi meninggalkan keluarga ketika anak bungsunya, Rehan Meizi, baru berusia sebulan. Sejak itu, ia membesarkan empat anaknya seorang diri dengan penghasilan dari jasa pijat.

Ratusan Warga Ikuti Operasi Katarak Gratis Banyuwangi, 360 Pasien Jalani Operasi

“Sudah sembilan tahun saya kehilangan penglihatan. Untuk hidup, saya hanya bisa bekerja sebagai tukang pijat. Dengan adanya Sekolah Rakyat ini, saya merasa sangat terbantu. Semoga anak saya bisa maju, berkembang, dan menjadi orang yang sukses kelak,” ujar Wahidah.

Bupati Ipuk yang hadir langsung memberi semangat. “Tetaplah semangat ngih Bu. InsyaAllah anak-anak ibu bisa menggapai cita-citanya. Bapak Presiden melalui Sekolah Rakyat ini ingin semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan,” ucap Ipuk.

Tak hanya Wahidah, banyak orang tua lain juga menitipkan harapan besar pada sekolah ini. Tutik (54), warga Songgon, mengaku lega dan bahagia saat mengantar anaknya, Hidayatur Ramadan, siswa kelas 2 SMA, untuk menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

Sekolah Rakyat, Pendidikan Berbasis Asrama untuk Anak dari Keluarga Miskin di Banyuwangi Bertambah

“Perasaan saya senang sekali setelah tahu tempatnya nyaman. Daripada di rumah main terus, di sini anak saya lebih terarah. Hati saya juga lega, apalagi semuanya gratis,” kata Tutik.

Sejak suaminya meninggal sembilan tahun lalu, Tutik harus menghidupi keluarga dengan berjualan es dan camilan. Meski penghasilan terbatas, semangatnya tetap kuat demi masa depan anak-anaknya.

Sementara itu, Yesi, siswi SMA asal Siliragung, juga menunjukkan semangatnya. Sebelumnya ia bersekolah di Tulungagung, namun kembali ke Banyuwangi untuk merawat neneknya yang sakit.

Tradisi Muludan Bumi Blambangan Banyuwangi, Ribuan Telur dan Tausiyah Ustadz Wijayanto

“Awalnya saya mau sekolah di SMK PGRI, lalu saya direkomendasikan oleh pendeta saya bahwa ada sekolah program presiden. Saya tertarik, karena memang kami kurang mampu akhirnya saya memutuskan untuk sekolah di sini,” tutur Yesi.

Yesi bercita-cita melanjutkan kuliah dan menjadi psikolog. Selain itu, ia juga mengembangkan bakat di bidang seni, khususnya menyanyi dan menari.

Bupati Ipuk menyemangati Yesi dan seluruh siswa agar tekun belajar. “Semoga apapun cita-cita kalian bisa terwujud. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jadikan Sekolah Rakyat ini sebagai langkah awal untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya.

Artikel Terkait