Satu Data Layanan Kesehatan Banyuwangi

BANYUWANGI-Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berencana mengembangkan program Satu Data untuk layanan kesehatan banyuwangi. Program tersebut nantinya akan mengintegrasikan sistem pelayanan di puskesmas dengan rumah sakit di Banyuwangi.
“Kami sudah berdiskusi dengan Plt Kadinkes dan akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Saat ini sistemnya sedang di-develop bersama Dinas Kominfo,” kata Ipuk.
Lebih lanjut terkait layanan kesehatan, Ipuk menekankan pentingnya penentuan skala prioritas dalam bekerja.
Ipuk menyebut terdapat empat hal yang harus dipenuhi oleh Dinas Kesehatan Banyuwangi. Pertama pencapaian SDGs (Suistanable Development Goals), Standard Pelayanan Minimum (SPM), Jaminan Kesehatan Nasional(JKN), hingga sikronisasi program antara pusat dan daerah.
“Semua harus dipilah dan ditentukan masing-masing skala prioritasnya, agar kinerja kita dapat terukur dengan dampaknya terhadap masyarakat,” ungkapnya.
Ipuk juga meminta para kepala puskesmas kembali menggiatkan program Mall Orang Sehat di tempat masing-masing. “Penerapan Mall Orang Sehat di Puskemas harus dipacu lagi. Pandemi telah mengajarkan pada masyarakat agar senantiasa menjaga kesehatan,” jelas Ipuk.
Baca Juga:
Ipuk juga mengungkapkan terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan di Banyuwangi yang telah kerja keras, sehingga pandemi Covid-19 gelombang kedua di Banyuwangi dapat tertangani dengan baik. Begitu juga dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banyuwangi juga meningkat, di mana salah satu indikatornya adalah sektor kesehatan.
Pada petugas kesehatan Banyuwangi, baik jajaran Dinas Kesehatan, organisasi tenaga kesehatan, rumah sakit, dan Puskesmas, Ipuk berpesan, pertama peningkatan aksesabilitas layanan kesehatan untuk warga kurang mampu.
Sesuai standar prosedur yang telah ditetapkan, seluruh jajaran pemerintah daerah wajib merespons dan menangani masalah kesehatan warga kurang mampu maksimal dalam empat jam setelah laporan masuk.
”Ada aduan segera selesaikan, terutama dari warga kurang mampu. Bantu mereka. Perbanyak turun ke lapangan, cek apabila ada warga yang belum mendapat penanganan kesehatan dengan baik. Ini harus menjadi perhatian seluruh tenaga kesehatan,” kata Ipuk.
Kedua manfaatkan teknologi informasi untuk akselerasi layanan. Masalah klasik dalam peningkatan pelayanan kesehatan, biasanya adalah keterbatasan SDM. Sementara tugas semakin banyak.
“Tentu saja ini kita terus carikan jalan keluar, salah satunya dengan mengoptimalkan SDM yang ada di antaranya dengan mengubah pandangan tentang tata kelola SDM. Jangan hanya berpaku pada kuantitas SDM saja namun lebih diarahkan dalam mengoptimalkan kualitas SDM-nya,” jelas Ipuk.
“Manfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan dengan efisien dan efektif untuk mempermudah warga,” kata Ipuk.