Dari Kemeriahan Artos Kembang Langit, Tercetus 10 Desember jadi Hari Seni Rupa Banyuwangi

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 11 Desember 2021, 19:26 WIB
IMG-20211211-WA0030
Dari Kemeriahan Artos Kembang Langit, Tercetus 10 Desember jadi Hari Seni Rupa Banyuwangi

BANYUWANGI-Dari Pameran lukisan “ArtOs Kembang Langit” yang resmi dibuka, Jumat (10/12/2021) malam, di kompleks Gedung Juang 45, Jalan Veteran Nomor Banyuwangi itu, tercetuslah 10 Desember akan diperingati sebagai Hari Seni Rupa Banyuwangi.

Pembukaan pameran berskala nasional itu ditandai pemukulan gong oleh Bupati Ipuk Fiestiandani didampingi ketua panitia Imam Maskun, bersama para tokoh seni lukis seperti kolektor lukisan dr Oei Hong Djien, dr Melani W. Setiawan, Nasirun, Nirwan Dewanto, Edi Sunaryo, dan Sujiwo Tejo. Hadir pula anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo. Sementara Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengikuti secara virtual.

Dari pameran itulah tercetus 10 Desember akan diperingati sebagai Hari Seni Rupa Banyuwangi. “Usul dari teman-teman seni rupa, pada 10 Desember diperingati sebagai Hari Seni Rupa Banyuwangi. Ini juga menandai berikutnya Artos Kembang Langit akan digelar rutin setiap tahunnya,” kata Imam yang diamini oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Ipuk sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh seniman-seniman Banyuwangi. “Saya bersyukur event ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari tokoh-tokoh seniman di Indonesia. Yang membuat saya bangga adalah event ini digelar oleh anak-anak muda Banyuwangi. Ini menunjukkan Banyuwangi sudah siap menjadi daerah seni dan budaya,” kata Ipuk.

“Seni itu tidak hanya soal berapa harga dan terjual berapa. Tapi kekuatan karakter yang harus muncul dari seni,” tambah Ipuk.

Ipuk mengatakan 10 Desember bisa menjadi Hari Seni Rupa Banyuwangi, karena setiap tahun menjelang Harjaba, Banyuwangi selalu rutin menggelar pameran seni lukis.

ArtOs Kembang Langit sendiri berasal dari kata Art Os yang merupakan singkatan dari Artistika Osing. Semua tahu Osing adalah suku (etnik) asli yang mendiami wilayah Banyuwangi. Sebagai subkultur Jawa, Osing ditengarai sebagai suku campursari Jawa, Bali dengan sedikit Madura. Sebuah campursari yang lantas melahirkan unsur-unsur seni budaya yang kaya dan unik. Sementara Kembang Langit bisa dimaknai sebagai bunga-bunga mekar yang menghiasi langit kehidupan semua orang.

Dalam pembukaan tersebut juga ditampilkan aksi monolog dari seniman dan budayawan Sujiwo Tejo bersama anak-anak muda Banyuwangi. “Mereka (anak-anak muda Banywuangi) ini baru saya latih tadi siang, dan langsung tampil malam ini,” kata Sujiwo Tejo.

Sujiwo Tejo mengatakan Artos Kembang Langit sangat luar biasa. Bisa mendatangkan berbagai tokoh penting dalam seni rupa Indonesia. “Ini luar biasa kolektor dan pengamat lukisan dr Oei Ong Djien, pengamat dr. Melani, teman-teman pelukis seperti Nasirun dan Nirwan Dewanto bisa datang ke sini. Ini sangat luar biasa,” kata Sujiwo Tejo.

“Ada daya tarik yang luar biasa pada Banyuwangi. Ditambah lagi insfrastruktur Banyuwangi yang memadai, ada penerbangan, dan lainnya. Karya-karya yang dipamerkan juga bagus, dan menarik perhatian saya. Mudah-mudahan ini terus berlanjut tiap tahunnya,” tambahnya.

Baca Juga:

Kembali Raih Prestasi, Desa Banyuwangi Juara 1 Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 Kategori Digital Kemenparekraf
120 Karya Seni Rupa dari 75 Perupa, Dipamerkan di Artos Kembang Langit Banyuwangi

Bahkan Sujiwo Tejo berkeinginan untuk hadir lagi tahun depan dan akan ikut melukis di Artos Kembang Langit berikutnya. “Kalau boleh saya usul, tema tahun depan tentang Ketuhanan. Bagaimana cara berketuhanan yang asyik. Saya sudah membayangkan ingin melukis di rumah Osing,” pinta Sujiwo Tejo.

Sementara dr Oei Hong Djien mengaku tidak menyangka Banyuwangi bisa menggelar pameran lukisan yang luar biasa. dr. Oei Hong Djien atau yang lebih dikenal juga dengan panggilan OHD adalah seorang kolektor asal Magelang, Jawa Tengah. Ia merupakan pendiri dan kurator OHD Museum, sebuah museum seni rupa Indonesia modern dan kontemporer.

“Ini luar biasa, saya sangat berterima kasih diundang di Banyuwangi. Teman-teman pelukis juga banyak yang hadir di sini. Banyuwangi telah memberikan perhatian yang besar pada seni lukis,” katanya.

Di tiga lantai Gedung Juang pengunjung akan disuguhkan berbagai seni rupa karya seniman Banyuwangi dan berbagai daerah. Terdapat 120 karya seni tidak hanya lukisan, terdapat karya seni lain, seperti seni patung dan seni instalasi, dari 75 perupa juga dipamerkan dalam ajang yang digelar untuk memeriahkan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-250 tersebut.

Lukisan dari dua maestro seni lukis Banywuangi almarhum Bani Amora dan Mozes Misdy juga ditampilkan dalam pameran tersebut.

“Pameran ini juga untuk kami persembahkan untuk almarhum Bani Amora dan Mozez Misdy. Lukisan Bani Amora dan Mozes Misdy yang dijunjung sebagai penggerak utama seni lukis modern Banyuwangi, juga ditampilkan sebagai penanda sejarah. Ini sebagai bentuk apresiasi kami bagi mereka,” kata Imam.

Pameran ini juga dihadiri puluhan pelukis dan perupa terkenal dari berbagai kota. Di antaranya adalah Koeboe Sarawan, Nasirun, Raka Swasta, Masdibyo, Amor Pandawa Lima, Nyoman Sujana Kenyem, Ketut Putrayasa, dan lainnya.