Ritual Kelulusan Penari Gandrung Banyuwangi Tuai Decak Kagum Wisatawan
Meras Gandrung merupakan prosesi ritual para penari gandrung Banyuwangi untuk dinyatakan lulus.
BanyuwangiNet-Pagelaran sendratari Meras Gandrung yang merupakan ritual kelulusan pera penari gandrung Banyuwangi menuai decak kagum ratusan wisatawan yang memadati Taman Gandrung Terakota, Licin, Banyuwangi, Minggu (25/12).
Meras Gandrung menyajikan sisi lain dari perjuangan para penari Gandrung yang menjadi ikon Banyuwangi itu. Sendratari Meras Gandrung bercerita mengenai penari gandrung lanang (laki-laki), yang menunjuk wadon (perempuan) untuk menjadi penari gandrung profesional.
Gandrung muda itu dipupuh untuk menjadi profesional yang prosesinya sangat sulit dan menyakitkan. Ketika prosesi berlangsung akan terjadi perang batin antara energi positif dan negatif, di dalam diri penari Gandrung muda ini. Setelah dipupuh maka penari Gandrung muda akan diwisuda (meras) dan ditetapkan sebagai penari Gandrung profesional.
Ribuan Warga Kawasan Hutan dan Perkebunan Manfaatkan Layanan Adminduk di Camping Embun Banyuwangi
Prosesi untuk menjadi penari gandrung profesional itulah yang dikisahkan dalam Meras Gandrung. Paduan penari dan alunan gamelan, ditambah latar pemandangan persawahan dan ornamen ribuan patung gandrung, membuat suasana di Taman Gandrung Terakota menjadi mistik dan mampu menuai decak kagum penonton yang hadir.
Jose Endragon (23), wisatawan asal China, mengaku terpukau dengan pertunjukan Meras Gandrung. “Perpaduan tarian mistis dan pemandangan yang eksotis adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” katanya.
Hal yang sama juga disampaikan wisatawan asal Jakarta, Fikri Aldi (31). Aldi ikut menari setelah terkena lemparan selendang tarian Jejer Gandrung. Mereka yang terkena wajib ikut menari bersama di venue acara.
“Nilai luhur yang ada pada pertunjukan ini sangat kuat. Mulai dari perjuangan lawan penjajah hingga penerimaan diri untuk menjadi penari Gandrung,” Ujarnya.
Inovasi Kesehatan Banyuwangi, Mulai Gerbang Pantura hingga Kampung Cerdik
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang turut menyaksikan pagelaran tersebut mengatakan, pertunjukan Meras Gandrung adalah upaya melestarikan seni tari gandrung. Pertunjukan yang mayoritasnya anak muda itu menjadi perekat kecintaan pemuda terhadap budaya lokal.
“Zaman yang saat ini semakin modern nyatanya tak menggerus keinginan anak muda Banyuwangi untuk mempelajari seni budaya. Berapa kali menonton tetap takjub dengan pertunjukan ini,” kata Ipuk.
Ipuk juga mengapresiai langkah Sigit Pramono, pendiri Padepokan Seni Gandrung Terakota. Menurutnya, Sigit mampu membangkitkan kencintaan anak muda untuk menjadi pegiat seni Banyuwangi. “Saya sangat bangga. Terima kasih Bapak Sigit dan semua yang terlibat,” kata Ipuk.
Sementara Sigit mengatakan pagelaran Meras Gandrung bukan hanya helatan pariwisata, tapi bagian pemajuan budaya daerah. “Selain unjuk seni, pertunjukan ini sebagai upaya regenerasi pecinta dan pelaku seni Banyuwangi,” kata Sigit.
Gandrung Meras, lanjut Sigit, menjadi ruang bagi para seniman sebagai syiar budaya dan kesenian Banyuwangi.
“Kami ingin wisatawan bisa tahu kapan harus menyaksikan kesenian ini, oleh karena itu kami beruapaya digelar rutin tiap pekan.