Potensi Industri Rumahan Pengolahan Ikan Tradisional di Muncar

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 1 Agustus 2024, 11:21 WIB
IMG-20240729-WA0092

BanyuwangiNet.com – Kecamatan Muncar, Banyuwangi, terkenal dengan potensi perikanan lautnya yang besar. Di kawasan ini, selain terdapat industri pengolahan ikan modern, juga banyak usaha rumahan yang mengolah hasil perikanan secara tradisional, salah satunya di Desa Sumberberas. Di desa ini, warga pesisir secara turun-temurun menekuni usaha pengolahan ikan secara tradisional, yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

Salah satu contoh adalah Dusun Sidomulyo, tempat belasan rumah pengasapan ikan tradisional berada. Salah satu usaha rumahan milik Nuryanto (52) masih mempertahankan metode pengasapan tradisional, menggunakan serabut kelapa dan bonggol jagung kering. “Dengan itu, aromanya lebih terasa. Yang diasap mayoritas ikan pari. Tapi tergantung ketersediaan ikan juga,” ujar Nuryanto saat dikunjungi Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Sumberberas pada Senin (29/7/2024).

Setiap hari, Nuryanto mengasapi hingga 100 kilogram ikan pari di rumah pengasapan miliknya. Ikan-ikan yang telah diasap tersebut kemudian dijual dengan harga antara Rp 3.500 hingga 4.500 per tusuk. Nuryanto bersama istrinya mengelola industri rumahan ini, dibantu oleh para istri nelayan setempat yang bertugas membersihkan ikan, mengasapi, hingga menyiapkan bambu untuk menjepit ikan asap. Dalam sehari, Nuryanto bisa meraih omzet hingga Rp 3 juta dari penjualan ikan asap yang sebagian besar dipasarkan ke sejumlah pasar di Banyuwangi.

Kopi Robusta Banyuwangi Diuji untuk Mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis

“Pernah diminati untuk dikirim ke China juga. Tapi kita tidak bisa karena targetnya harus sampai puluhan ton. Sementara stok ikan pari kami tidak sampai sebanyak itu,” ungkap Nuryanto.

Selain usaha pengasapan ikan, di Desa Sumberberas juga terdapat usaha pengolahan petis udang, seperti yang dikelola oleh Heru Dwi Narto. Usaha keluarga ini telah beroperasi selama 28 tahun dan mampu memproduksi hingga 7 kwintal petis udang setiap harinya. “Keunggulan produksi petis udang kami memakai gula yang kami buat sendiri, sehingga ada cita rasa yang khas. Pasar kami masih untuk memenuhi kebutuhan pasar Banyuwangi,” jelas Heru.

Pendaftaran Beasiswa Banyuwangi Cerdas Kembali Dibuka

Bupati Ipuk Fiestiandani mengapresiasi upaya masyarakat dalam mempertahankan metode pengolahan hasil perikanan secara tradisional, yang menurutnya menjadi keunggulan tersendiri. “Pengolahan tradisional seperti ini harus tetap dipertahankan, karena saat ini banyak diminati. Aroma dan rasanya juga lebih lezat daripada diolah dengan cara modern lainnya,” ujar Ipuk.

Ipuk juga menyoroti pentingnya pemberdayaan istri nelayan dalam proses pengolahan ikan, yang dianggapnya lebih menguntungkan dibandingkan hanya menyimpan ikan dalam cold storage. “Cara pemberdayaan istri nelayan semacam ini bagus. Bapaknya melaut, istrinya bisa melakukan aktivitas yang produktif,” kata Ipuk.

Selain itu, Ipuk meminta OPD terkait untuk memberikan pendampingan agar produksi usaha rumahan ini meningkat dan pasarnya bisa lebih luas. Dengan dukungan yang tepat, usaha rumahan ini diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Artikel Terkait