Kadispar Pemprov Jatim Apresiasi Pameran Kepurbakalaan Banyuwangi 2020
BanyuwangiNet, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, Sinarto, mengapresiasi pagelaran Pameran Kepurbakalaan Banyuwangi 2020, 3-5 September.
Menurut Sinarto, Banyuwagi merupakan satu daerah yang mampu menunjukkan potensinya, sehingga menjadi daya tarik wisata namun tetap memiliki edukasi yang mengandung sebuah nilai.
Seperti Pameran Kepurbakalaan Banyuwagi 2020 yang digelar di Kantor Disbupar, merupakan cara yang elegan mengemas atraksi wisata.
“Banyuwangi punya keunggulan dan menginspirasi daerah lain. Dari sisi semangat dan sisi bisnis, Banyuwagi cerdas mengemas pasar yang soft seperti yang dilakukan di Pameran Kepurbakalaan ini,” kata Sinarto.
Bahkan menurut Sinarto, Dispar Pemprov Jatim akan mengirimkan tim ahli cagar budaya ke Banyuwagi untuk mengeplorasi lebih jauh peninggalan sejarah Banyuwangi.
“Kami punya tim ahli cagar budaya. Kami akan tugaskan ke Banyuwangi untuk melakukan telaah dan kajian, sehingga bisa makin melengkapi daya tarik Banyuwagi,” tambah Sinarto.
Di hari terakhir pameran, Sinarto bahkan berlama-lama menyaksikan wayang kulit bersama dalang Ki Mudo Juwito Gendeng, yang digelar di halaman belakang Kantor Dispar.
Wayangan yang digeber pada Sabtu malam itu menampilkan lakon Wahyu Husodo Jati. Lakon ini menceritakan tentang orang-orang tanah Jawa yang kehilangan pusaka yang dapat berbicara.
Pusaka tersebut akan kembali jika wong-wong tanah Jawa bisa bersatu dan rukun dengan cara mboyong simbol ”Wong tanah Jowo”, yakni Kiai Lurah Semar.
Baca Juga: “Pameran Kepurbakalaan 2020” Sajikan Benda-Benda Bersejarah Banyuwangi

Pameran Kepurbakalaan Banyuwangi juga Diikuti Perupa
Kadispar Banyuwangi , M. Yanuarto Bramuda mengatakan, Pameran Kepurbakalaan Banyuwangi yang menghadirkan berbagai koleksi purbakala dan kuno ini diikuti puluhan kolektor. Tidak hanya kolektor benda purbakala dan barang antik. Pameran ini juga diikuti para perupa Banyuwangi.
Bramuda mengungkapkan, acara ini juga merupakan apresiasi yang diberikan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan atas upaya Banyuwangi melakukan pemulihan di era pandemi.
Apresiasi tersebut berupa dana alokasi khusus untuk pengembangan kebudayaan. ”Kita akan coba memulai dengan Pameran Kepurbakalaan Banyuwangi,” ujar Bramuda
Bramuda menambahkan pameran Kepurbakalaan Banyuwangi ini selain bertujuan untuk memamerkan artefak ataupun arsip kuno yang ada di Banyuwangi, sekaligus menunjukkan kepada generasi muda bahwa Banyuwangi memiliki keanekaragaman dan masa lalu yang hebat.
Meski dibuka untuk umum dan gratis, namun panitia tetap menerapkan pembatasan pengunjung di dalam area pameran Kepurbakalaan Banyuwangi. Selain harus mengikuti protokol kesehatan, pengunjung yang ada di dalam area juga dibatasi hanya 150 orang.
”Umum dan siapa saja bisa masuk, tapi kita batasi, bergantian,” ujarnya.
Acara tersebut dimeriahkan dengan performing art dari perupa Banyuwangi. Setidaknya empat pelukis melakukan aksi on the spot. Selain melukis objek yang dipamerkan, mereka juga melukis tanaman yang sudah ada di halaman Disbudpar.
Selain pameran benda purbakala, acara ini tersebut juga dimeriahkan lomba vlog bertema ”Situs Budaya dan Objek Heritage Banyuwangi”.
Dalam pemeran tersebut ada tempayan dari Dinasti Tang China abad 7-10, wadah penutup Dinasti Ming abad ke-14, guci song (kelapa) Dinasti Song abad 9-12. Semua benda bersejarah itu ditemukan di wilayah Banyuwangi.

Selain barang-barang dari berbagai dinasti China, juga terdapat benda-benda pusaka Banyuwangi lainnya di pameran yang digelar dari 3-5 September 2020 tersebut. Seperti satu set timbangan emas zaman Kerajaan Blambangan abad 14-18 Masehi. Timbangan yang terbuat dari perak itu ditemukan di Pertanen, Jambewangi, Kecamatan Sempu.
Baca Juga: Edukasi Sejarah di Pameran Kepurbakalaan Banyuwangi
Ada juga botol soda buatan perusahaan keluarga Belanda, Erven Lucas Bols, tahun 1575. Botol tersebut terbuat dari keramik dan berkapasitas satu liter.
Berbagai benda purbakala dan benda kuno berbahan batu, tanah liat, keramik, hingga kayu juga ditampilkan pada pameran tersebut. Bentuknya bermacam-macam, ada keris, tombak, arca, lingga yoni, hingga lemari rias kuno.
Selain itu, foto-foto Banyuwangi Tempo Doeloe pada zaman penjajahan Belanda hingga pasca kemerdekaan juga turut dipamerkan di Pameran Kepurbakalaan tersebut.
Bramuda menambahkan saat ini Disbupar telah memiliki museum benda-benda purbakala. Selanjutnya akan membangun museum Banyuwangi Tempo Doeloe.
Museum itu mengisahkan cerita-cerita Banyuwangi. Seperti cerita Pantai Boom yang mempunyai koneksi dengan Australia, kisah penambang belerang zaman Belanda, dan berbagai kisah lainnya.
Agenda ini juga untuk mengumpulkan kembali barang-barang bersejarah Banyuwangi lainnya mulai ujung Wongsorejo hingga Kalibaru.
“Kami juga mengumpulkan para budayawan, kolektor, pencinta barang purbakala, melalui sarasehan agar bisa mengumpulkan barang-barang bersejarah untuk disimpan di museum,” jelas Bramuda.
