“Pameran Kepurbakalaan 2020” Sajikan Benda-Benda Bersejarah Banyuwangi

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 3 September 2020, 20:27 WIB
IMG-20200903-WA0023
"Pameran Kepurbakalaan 2020" Sajikan Benda-Benda Bersejarah Banyuwangi

BanyuwangiNet, Berbagai benda bersejarah dipamerkan di “Pameran Kepurbakalaan“, yang digelar di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar), 3-5 September. Ada tempayan dari Dinasti Tang China abad 7-10, wadah penutup Dinasti Ming abad ke-14, guci song (kelapa) Dinasti Song abad 9-12, dan lainnya

Selain barang-barang dari berbagai dinasti China, juga terdapat benda-benda pusaka Banyuwangi lainnya.

Seperti satu set timbangan emas zaman Kerajaan Blambangan abad 14-18 Masehi. Timbangan yang terbuat dari perak itu ditemukan di Pertanen, Jambewangi, Kecamatan Sempu.

Ada juga botol soda buatan perusahaan keluarga Belanda, Erven Lucas Bols, tahun 1575. Botol tersebut terbut dari keramik dan berkapasitas satu liter.

Semua benda bersejarah itu ditemukan di wilayah Banyuwangi.

Berbagai benda purbakala dan benda kuno berbahan batu, tanah liat, keramik, hingga kayu juga ditampilkan pada pameran tersebut. Bentuknya bermacam-macam, ada keris, tombak, arca, lingga yoni, hingga lemari rias kuno.

Kepala Disbupar Banyuwangi, Muhammad Yanuarto Bramuda, mengatakan Banyuwangi memiliki kisah masa lalu yang menarik.

“Bagaimana kisah Kerajaan Blambangan dan Macan Putih yang turut andil dalam sejarah Banyuwangi,” kata Bramuda.

Bramuda mengatakan kisah sejarah itulah yang harus diteruskan pada generasi muda Banyuwangi.

“Anak cucu kita harus diceritakan sejarah yang mengandung kisah-kisah heroik zaman dahulu,” kata Bramuda.

“Kegiatan ini untuk menumbuhkan cinta kebudayaan Banyuwangi pada generasi milenial,” tambah Bramuda.

Bramuda menambahkan saat ini Disbupar telah memiliki museum benda-benda purbakala. Selanjutnya akan membangun museum Banyuwangi Tempo Doeloe.

Museum itu mengisahkan cerita-cerita Banyuwangi. Seperti cerita Pantai Boom yang mempunyai koneksi dengan Australia, kisah penambang belerang zaman Belanda, dan berbagai kisah lainnya.

Agenda ini juga untuk mengumpulkan kembali barang-barang bersejarah Banyuwangi lainnya mulai ujung Wongsorejo hingga Kalibaru.

“Kami juga mengumpulkan para budayawan, kolektor, pencinta barang purbakala, melalui sarasehan agar bisa mengumpulkan barang-barang bersejarah untuk disimpan di museum,” jelas Bramuda.

Di penutupan acara dimeriahkan dengan pementasan wayang kulit bersama dalang Ki Mudo Juwito Gendeng. Wayangan yang digeber pada Sabtu malam dengan menampilkan lakon Wahyu Husodo Jati.

Jejak Geologi di Pameran Kepurbukalaan

Selain benda-benda pusaka, di Pameran Kepurbakalaan juga dipamerkan jejak geologi yang ada di Museum Banyuwangi.

Seperti bebatuan yang diambil dari candi-candi dan jejak kerajaan Blambangan maupun Macan Putih. Selain itu juga bebatuan di kawasan Pulau Merah, Gunung Ijen, dan Taman Alas Purwo yang telah ditetapkan sebagai geopark nasional.

Kabupaten Banyuwangi sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu dari kawasan Taman Bumi atau Geological Park (Geopark) Nasional 2018 oleh Komite Geopark Nasional. Hal ini dikukuhkan dalam penyerahan sertifikat Geopark Nasional di Bogor, tahun lalu.

Banyuwangi sendiri ada tiga situs yang diajukan sebagai geopark nasional, yaitu Blue Fire di Gunung Ijen, Pulau Merah, dan Taman Nasional (TN) Alas Purwo. Fenomena api biru (blue flame) di Gunung Ijen merupakan yang terluas di dunia. Kawah di Ijen tersebut juga merupakan kawah terasam di dunia.

Sementara Pulau Merah dan kompleks gua di TN Alas Purwo merupakan daerah yang mengalami fenomena mineralisasi. Pulau Merah merupakan sisa dari perjalanan magma di bawah gunung api purba. Singkapan batuan di Pulau Merah sangat ideal dijadikan laboratorium geologi dunia untuk mempelajari proses alterasi dan mineralisasi emas tembaga.

Adapun jejak geologi di dalam Gua Istana yang berada di TN Alas Purwo menggambarkan bahwa daerah tersebut merupakan laut dangkal yang mengalami proses geologi sampai menjadi daratan.

Geopark Banyuwangi juga didukung keberagaman hayati (biodiversity) dan cultural diversity. Dicontohkannya, di kawasan Ijen ada 14 jenis flora dan 27 fauna, dengan 6 jenis mamalia. Adapun di TN Alas Purwo merupakan rumah bagi 700 flora, 50 jenis mamalia, 320 burung, 15 jenis amfibi, dan 48 jenis reptil.

Saat ini, Indonesia baru memiliki empat UNESCO Geopark Global dan 15 Geopark Nasional. Dari 19 geopark bertaraf internasional dan nasional tersebut, telah menyumbang 35 persen dari total ekowisata yang ada di Indonesia.

Penetapan Geopark Nasional sendiri harus memenuhi lima kriteria. Mulai dari geologi dan bentang alam, struktur geopark, penafsiran atas bentang alam, pengelolaan potensi ekonomi, hingga rencana jejaring pengembangan geopark itu sendiri. Dari lima kriteria tersebut, Banyuwangi mendapat nilai B sehingga layak untuk ditetapkan sebagai geopark nasional.

Artikel Terkait