Gesah Bareng Bupati Bahas Pendidikan Banyuwangi, dari Beasiswa hingga Masa Depan Disabilitas

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 2 September 2026, 16:56 WIB
1001042827
Gesah Bareng Ambi Bupati kembali digelar dengan mengangkat isu pendidikan.

BanyuwangiNet.com – Beragam persoalan pendidikan menjadi bahan pembahasan dalam program “Gesah Bareng Ambi Bupati” yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Rabu (2/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan sekitar 150 peserta dari berbagai unsur, mulai penggiat pendidikan, pemerhati pendidikan, mahasiswa, pelajar, akademisi, guru, orang tua siswa hingga pemangku kebijakan.

Setelah sebelumnya membahas sektor pertanian pada pertengahan Agustus lalu, forum kali ini difokuskan pada isu pendidikan. Sejumlah persoalan yang mengemuka antara lain akses beasiswa, pengawasan pelajar pada jam belajar, sarana dan prasarana sekolah, keamanan lingkungan pendidikan, hingga keberlanjutan pendidikan dan peluang kerja bagi penyandang disabilitas.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan, forum tersebut menjadi sarana bagi pemerintah daerah untuk mendengarkan langsung persoalan yang dihadapi masyarakat. Berbagai masukan yang muncul akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan kebijakan pendidikan.

“PR kita masih banyak. Karena itu, kami senang mendapatkan banyak masukan dan ide dari masyarakat. Apa yang disampaikan di forum ini akan menjadi bahan untuk perbaikan program-program pendidikan ke depan,” kata Ipuk.

Salah satu isu yang dibahas adalah rencana regrouping SDN 1 Singonegaran. Ahmad Radiansyah, salah seorang wali murid, menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan dampak psikologis perpindahan sekolah terhadap siswa.

Ipuk menjelaskan, rencana tersebut masih dalam tahap kajian. Salah satu pertimbangannya berkaitan dengan rencana pengembangan RSUD Blambangan serta kebutuhan dan ketersediaan tenaga pendidik di Banyuwangi.

Jika regrouping akhirnya dilakukan, Pemkab Banyuwangi memastikan siswa dan orang tua tetap memiliki ruang untuk menentukan sekolah tujuan.

“Kalau nanti memang ada regrouping, kami akan memberikan ruang kepada siswa dan orang tua memilih sekolah yang akan dituju. Kami juga memastikan ada pendampingan dari guru selama proses adaptasi pindah sekolah. Yang terpenting, siswa tetap nyaman dan aman dalam belajar,” tegas Ipuk.

Persoalan lain disampaikan Catur Bagus, pendidik dari SMPN 1 Singojuruh. Ia menyoroti masih adanya pelajar yang ditemukan berada di luar lingkungan sekolah saat jam efektif belajar.

Menurutnya, keterbatasan tenaga menjadi salah satu kendala dalam melakukan pengawasan terhadap siswa. Karena itu, ia mengusulkan penguatan penertiban terpadu melalui program Patroli Kasih Sayang.

Patroli tersebut diusulkan melibatkan Satpol PP, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa. Catur juga mendorong adanya regulasi atau imbauan kepada pelaku usaha agar tidak melayani pelajar yang berada di luar sekolah selama jam belajar.

Aspirasi mengenai sarana prasarana disampaikan Numira Ida, guru Bahasa Inggris dari MI Al Hikmah, Desa Tampo, Kecamatan Cluring. Ia mengungkapkan sejumlah fasilitas sekolah membutuhkan perbaikan, terutama meja dan kursi yang sudah banyak mengalami kerusakan.

“Kursi dan bangku di sekolah kami sudah banyak yang keropos. Mohon mendapat perhatian. Selain itu, kami juga siap mengabdi untuk Banyuwangi dengan keterampilan yang kami miliki,” tuturnya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Ipuk meminta perangkat terkait mengecek kembali dukungan melalui BOS Daerah.

“Akan kami cek lagi BOS Daerah. Insyaallah untuk sarana prasarananya siap kami bantu,” jawab Ipuk.

Sementara itu, Nining, Ketua Paguyuban SDN 5 Tapanrejo, Kecamatan Muncar, menyampaikan persoalan keamanan sekolah. Lokasi sekolah yang jauh dari permukiman membuat sekolah tersebut beberapa kali mengalami pencurian.

Aspirasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar. Infrastruktur, keamanan, serta lingkungan yang mendukung juga menjadi bagian penting dalam menciptakan sekolah yang nyaman bagi siswa dan guru.

Forum tersebut juga mengangkat isu pendidikan inklusif dan masa depan anak penyandang disabilitas. Didik, salah seorang orang tua, menceritakan pengalaman pendidikan putrinya yang memiliki keterbatasan. Sejak duduk di bangku SMP, putrinya mendapat pendampingan dari guru hingga mampu melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Glagah.

Namun, ia masih mempertanyakan peluang yang dapat diakses anaknya setelah menyelesaikan pendidikan SMA, terutama terkait kesempatan kerja.

Ipuk meminta para orang tua tetap optimistis terhadap masa depan anak-anak penyandang disabilitas. Menurutnya, pemerintah daerah terus membuka akses dan ruang afirmasi bagi mereka, termasuk melalui pendidikan dan kesempatan di dunia kerja.

“Pemkab juga telah membuka ruang afirmasi bagi penyandang disabilitas. Mulai kesempatan mengikuti seleksi CPNS hingga program magang di sejumlah instansi,” katanya.

Perkins International Jadikan Banyuwangi Studi Kasus Pendidikan Inklusif untuk Anak Usia Dini

Ipuk menegaskan pendidikan merupakan salah satu fondasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan juga dinilai memiliki kaitan erat dengan upaya mengurangi kemiskinan melalui peningkatan kapasitas dan kesempatan masyarakat.

Karena itu, pemerintah daerah akan menindaklanjuti berbagai aspirasi yang disampaikan dalam forum tersebut melalui perangkat daerah terkait, khususnya Dinas Pendidikan.

Pemkab Banyuwangi Buka Beasiswa B-Pro 2026, Biayai Kuliah hingga Pendidikan Dokter Spesialis

Menurut Ipuk, forum “Gesah Bareng Ambi Bupati” tidak hanya ditujukan untuk mendengarkan keluhan masyarakat. Forum tersebut diharapkan menjadi bagian dari mekanisme evaluasi agar kebijakan dan layanan pemerintah semakin sesuai dengan kebutuhan warga.

“Gesah ini bukan sekadar ngobrol. Kami ingin setiap masukan bisa ditindaklanjuti dan menjadi bagian dari perbaikan layanan pemerintah kepada masyarakat,” pungkas Ipuk.

Artikel Terkait