Perkins International Jadikan Banyuwangi Studi Kasus Pendidikan Inklusif untuk Anak Usia Dini

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 3 Juni 2026, 21:00 WIB
1000878631
Perkins International menggelar lokakarya “Perencanaan Strategis Pengembangan Anak Usia Dini yang Inklusif” di Banyuwangi sekaligus menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus.

BanyuwangiNet.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam membangun pendidikan inklusif kembali mendapat pengakuan internasional. Lembaga pendidikan global Perkins International yang berbasis di Boston, Amerika Serikat, menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus dalam pengembangan layanan pendidikan dan pengasuhan anak usia dini yang inklusif.

Melalui lokakarya bertajuk “Perencanaan Strategis Pengembangan Anak Usia Dini yang Inklusif”, Perkins International menghadirkan puluhan peserta dari berbagai instansi pemerintah pusat, provinsi, dan daerah untuk mempelajari praktik baik yang telah diterapkan Banyuwangi.

Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Komisi Nasional Disabilitas, serta berbagai perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan tenaga kesehatan puskesmas di Banyuwangi. Inklusi

Direktur Program Perkins International wilayah Asia Pasifik, Ami Tango Limketkai, menilai Banyuwangi menunjukkan komitmen yang kuat dalam memberikan layanan yang inklusif bagi seluruh masyarakat, khususnya anak-anak penyandang disabilitas.

Menurut Ami, kolaborasi yang terbangun antara pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai komunitas menjadi salah satu kekuatan utama Banyuwangi dalam mengembangkan layanan inklusif.

“Banyuwangi sangat istimewa. Daerah ini memiliki kepemimpinan yang benar-benar berpikiran inklusif dan terbuka terhadap perubahan yang berdampak nyata bagi kehidupan keluarga dan anak-anak, khususnya penyandang disabilitas. Lewat kegiatan ini, kami berharap Banyuwangi dapat menjadi kabupaten percontohan di masa depan,” ujar Ami saat pembukaan lokakarya di Kecamatan Kabat, Selasa (2/6/2026) malam.

Kerja sama antara Perkins International dan Pemkab Banyuwangi telah berlangsung dalam berbagai program penguatan pendidikan inklusif. Selama ini, Perkins aktif mendukung peningkatan kapasitas guru Sekolah Luar Biasa (SLB) serta pendampingan bagi orang tua anak penyandang disabilitas.

Kolaborasi tersebut juga melahirkan program Sekolah Model, yang menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Sebanyak 170 guru SLB di Banyuwangi telah mendapatkan pelatihan dari Perkins, meliputi strategi pembelajaran, manajemen kelas, penanganan anak autisme, bahasa isyarat, hingga keterampilan dasar fisioterapi.

Lokakarya yang berlangsung selama dua hari, 3–4 Juni 2026, bertujuan menyelaraskan prioritas pembangunan nasional dan daerah dalam bidang pengembangan anak usia dini yang inklusif.

Selain diskusi dan perumusan strategi, peserta juga melakukan observasi lapangan ke sejumlah sekolah model dan fasilitas kesehatan untuk melihat langsung implementasi layanan inklusif di Banyuwangi.

“Kami hadirkan berbagai sektor untuk bekerja sama dengan fokus pada pendidikan anak usia dini yang inklusif, intervensi kesehatan anak usia dini, serta dukungan bagi anak-anak dan keluarga mereka. Dalam hal ini kami menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus praktik baiknya,” kata Ami.

Mendikdasmen Beri Dua Penghargaan untuk Banyuwangi atas Komitmen di Bidang Pendidikan

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut baik kepercayaan yang diberikan Perkins International kepada Banyuwangi. Ia menyebut penunjukan Banyuwangi sebagai lokasi lokakarya sekaligus objek studi kasus menjadi kehormatan sekaligus motivasi untuk terus memperkuat layanan inklusif.

“Kami senang Perkins menggelar kegiatan ini di Banyuwangi. Kami sangat mendukung dan siap menjadi living lab untuk kegiatan ini. Semoga lancar, dan bisa menghasilkan rencana aksi yang bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan pengembangan anak usia dini di tingkat nasional maupun daerah, khususnya Banyuwangi,” ujar Ipuk.

Menurut Ipuk, Banyuwangi terus berupaya menciptakan lingkungan yang ramah bagi seluruh warga tanpa terkecuali. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penerapan sekolah inklusi yang mewajibkan sekolah menerima peserta didik berkebutuhan khusus.

Selain itu, pemerintah daerah juga menyediakan berbagai ruang ekspresi bagi penyandang disabilitas melalui beragam kegiatan, termasuk Festival Kita Bisa.

Suyanto Resmi Dilantik Jadi Sekda Banyuwangi, Bupati Ipuk Tekankan Peran Strategis Penggerak Birokrasi

Pemkab Banyuwangi juga memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai pusat identifikasi dini, pemeriksaan, pendampingan, hingga sistem rujukan bagi penyandang disabilitas.

“Kami juga mengoptimalkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai jembatan utama identifikasi dini, pemeriksaan, hingga sistem rujukan bagi penyandang disabilitas,” pungkas Ipuk.

Artikel Terkait