Banyuwangi Jadi Percontohan Nasional Dashboard Rice Journey untuk Monitoring Pangan

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 8 Juli 2026, 12:42 WIB
1000934506
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bertemu dengan tim dari Kemenko pangan dan BRIN.

BanyuwangiNet.com – Kabupaten Banyuwangi dipercaya Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) sebagai daerah percontohan pengembangan Dashboard Rice Journey, sistem pemantauan komoditas beras berbasis data yang akan menjadi Decision Support System (DSS) atau sistem pendukung pengambilan keputusan di bidang pangan nasional.

Penunjukan tersebut disampaikan Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Maritim Kemenko Pangan, Sugeng Santoso, saat rapat koordinasi bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Senin (6/7/2026).

Sugeng menjelaskan, pengembangan Dashboard Rice Journey merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yakni meningkatkan Indeks Ketahanan Pangan nasional dari 73 pada 2025 menjadi 82 pada 2029.

“Salah satunya pemerintah akan mengembangkan decision support system (DSS) berupa Dashboard Rice Journey. Dashboard ini akan memberikan masukan sebagai bahan pengambil kebijakan, khususnya beras secara cepat, tepat dan berbasis data,” kata Sugeng.

Menurutnya, dashboard tersebut akan menyajikan data secara real time sehingga mampu membantu pemerintah mengidentifikasi berbagai potensi risiko pada sektor perberasan, mulai dari ancaman penurunan produksi, kenaikan harga, hingga kemungkinan kelangkaan pasokan di suatu wilayah.

Sistem juga dirancang untuk menganalisis faktor penyebab, seperti kondisi produksi, stok beras, kapasitas Rice Milling Unit (RMU), distribusi, ketersediaan bahan bakar dan logistik, cuaca, hingga perilaku pasar. Selain itu, dashboard akan menilai kualitas data yang tersedia dan memberikan rekomendasi intervensi yang tepat sesuai kondisi di lapangan.

“Dashboard tidak hanya mampu mendeteksi potensi gangguan secara dini, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab-akibat, mengevaluasi kualitas bukti, mensimulasikan berbagai skenario kebijakan, serta menghasilkan rekomendasi intervensi yang tepat sasaran,” jelas Sugeng.

Kemenko Pangan memilih Banyuwangi karena dinilai memiliki ekosistem yang mendukung pengembangan sistem tersebut. Selain menjadi salah satu daerah penghasil beras nasional, Banyuwangi juga aktif melakukan pengendalian distribusi pangan dan inflasi daerah serta telah menerapkan tata kelola pemerintahan berbasis teknologi informasi.

Kemenko Pangan Pantau Harga Sembako di Banyuwangi, Stok Beras dan Komoditas Dipastikan Aman

Sugeng menilai kombinasi antara kekuatan sektor pertanian dan sistem digital yang telah berkembang menjadikan Banyuwangi sebagai lokasi yang tepat untuk mengembangkan model Dashboard Rice Journey sebelum diterapkan secara lebih luas.

“Program ini akan menjadi kolaborasi dan sinergi antara Kemenko Pangan dan Pemkab Banyuwangi dalam mewujudkan tata kelola pangan yang lebih baik. Nantinya model yang dikembangkan di Banyuwangi akan menjadi model dashboard bagi daerah lainnya,” ujarnya.

Zulhas di Banyuwangi: Pesantren Punya Peran Strategis Wujudkan Kemandirian Pangan

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi peluang untuk memperkuat tata kelola pangan berbasis data sekaligus mendukung peningkatan produksi pangan nasional.

“Terima kasih atas kepercayaan Kemenko Pangan pada Banyuwangi. Semoga kolaborasi ini akan menghasilkan kebijakan tata kelola pangan berbasis kondisi wilayah untuk memaksimalkan produksi pangan nasional,” kata Ipuk.

Artikel Terkait