Banyuwangi Batik Festival Dorong Industri Batik Lokal, Kini Lebih dari 60 Pembatik Terdaftar
BanyuwangiNet.com – Upaya pelestarian batik Banyuwangi terus diperkuat melalui Banyuwangi Batik Festival (BBF). Tidak hanya menjadi ajang promosi kekayaan motif batik lokal, festival ini juga membuka peluang pengembangan industri kreatif sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin.
Tahun ini, BBF kembali digelar berkolaborasi dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember. Kegiatan berlangsung di Gesibu Blambangan pada 6–8 November 2026.
Memasuki penyelenggaraan ke-14, BBF menampilkan puluhan rancangan busana hasil kreativitas 16 pembatik lokal. Beragam desain busana modern diperagakan untuk menunjukkan bahwa motif tradisional Banyuwangi dapat dikembangkan menjadi produk fesyen yang mengikuti perkembangan zaman.
Salah satu motif yang diangkat pada BBF 2026 adalah Sabuk Mangir Latar Ukel. Motif ini memadukan garis tegas Sabuk Mangir dengan liukan lembut Latar Ukel. Perpaduan tersebut merepresentasikan keseimbangan nilai kehidupan, perlindungan, serta keanggunan budaya masyarakat Using.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan BBF bukan sekadar panggung peragaan busana. Festival ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga warisan batik Banyuwangi agar tetap dikenal dan berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Melalui festival ini, kita ingin motif-motif batik Banyuwangi terus dikenal, diwariskan, dan dikembangkan. Batik bukan hanya warisan budaya yang harus kita jaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat,” kata Ipuk saat menyampaikan sambutan secara daring, Sabtu (7/11/2026) malam.
Menurut Ipuk, pelestarian batik harus berjalan beriringan dengan penguatan industri dan pemasaran. Karena itu, Pemkab Banyuwangi terus mendorong penggunaan batik lokal di lingkungan sekolah dan instansi pemerintah, mengenalkan batik melalui jalur pendidikan, serta menyediakan ruang promosi bagi para perajin.
“Kami ingin batik Banyuwangi tidak hanya lestari sebagai identitas budaya, tetapi juga menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan pembatik dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Pada gelaran tahun ini, kreativitas para pembatik terlihat melalui beragam rancangan busana, mulai dari gaun malam, busana kontemporer siap pakai, hingga pakaian formal. Pengolahan motif tradisional menjadi desain modern tersebut menunjukkan bahwa batik Banyuwangi memiliki peluang besar untuk berkembang di industri fesyen tanpa kehilangan karakter budayanya.
Dampak penyelenggaraan BBF terhadap perkembangan industri batik lokal juga dirasakan langsung oleh para perajin. Salah satunya Firman Syauqi dari Godho Batik yang telah mengikuti perjalanan festival tersebut sejak pertama kali digelar pada 2013.
Menurut Firman, BBF menjadi salah satu ruang promosi penting bagi perajin untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jangkauan pasar. Saat ini, Godho Batik mampu menjual hingga 750 kain batik setiap bulan dengan harga berkisar Rp100 ribu hingga Rp5 juta per kain.
Produk batiknya tidak hanya dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau pasar mancanegara.
“Festival ini memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi perajin lokal,” ungkapnya.
Firman menambahkan, perkembangan industri batik Banyuwangi tidak terlepas dari ekosistem yang dibangun secara berkelanjutan. Dukungan tersebut antara lain melalui kebijakan penggunaan batik lokal, pengenalan batik di lingkungan sekolah, hingga upaya menyiapkan generasi penerus pembatik.
Menurutnya, sejak BBF pertama kali diselenggarakan, jumlah pembatik lokal terus bertambah. Jika sebelumnya jumlah perajin batik masih terbatas, kini lebih dari 60 pembatik telah terdaftar dalam asosiasi.
“Sejak BBF pertama kali digelar, jumlah pembatik lokal terus bertambah. Jika dulu pembatik lokal bisa dihitung jari, kini lebih dari 60 pembatik telah terdaftar dalam asosiasi,” katanya.
Regenerasi pembatik juga dilakukan melalui pendidikan vokasi. Salah satunya di SMKN 2 Tegalsari yang memiliki jurusan batik. Melalui pendidikan tersebut, para siswa dibekali keterampilan membatik sehingga memiliki peluang untuk terjun langsung ke industri kreatif.
Kolaborasi BIK dan Banyuwangi Batik Festival Hasilkan Perputaran Ekonomi Rp2,5 Miliar
Fiki Dwi Cahyono dari Serupa Batik yang juga merupakan guru di SMKN 2 Tegalsari mengatakan, sebagian besar pembatik di usahanya merupakan alumni sekolah tersebut. Mereka mengembangkan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan sebelum akhirnya terjun ke dunia usaha.
“Pembatik di Serupa Batik sebagian besar merupakan alumni SMKN 2 Tegalsari. Mereka bisa memperdalam ilmu yang didapat di sekolah. Setelah memiliki pengalaman cukup, sebagian kemudian mengembangkan usaha batiknya sendiri,” jelasnya.
Ngopi Sepuluh Ewu Kemiren, Tradisi Kopi Gratis yang Sarat Filosofi Suguh, Gupuh, Lungguh
Selama 14 tahun penyelenggaraan, BBF konsisten mengangkat beragam motif khas Banyuwangi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya. Sejumlah motif yang pernah diperkenalkan antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, Gedhegan, Blarak Sempal, Sisik Blambangan, Sembruk Cacing, Jenon, dan Wader Kesit.