Balapan Unik di Sawah Banyuwangi: Ketangkasan Pengangkut Gabah Uji Adrenalin di “Manol Gabah Championship”

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 8 April 2025, 12:17 WIB
Manol Gabah Championship
Manol Gabah Championship

BanyuwangiNet.com – Sebanyak 50 peserta ambil bagian dalam ajang balap motor yang tak biasa, digelar di lahan persawahan Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Senin dan Selasa (7-8 April 2025). Tidak seperti balapan pada umumnya, mayoritas peserta adalah para pengangkut hasil pertanian yang dikenal dengan sebutan pemanol.

Di kawasan ini, para pemanol merupakan pekerja yang sehari-hari mengangkut gabah menggunakan sepeda motor dari lahan sawah menuju gudang atau pinggir jalan raya. Mereka sudah terbiasa melintasi medan berat seperti jalur berlumpur dan tanah basah—medan yang kemudian diangkat menjadi konsep utama dalam lomba bertajuk “Manol Gabah Championship” ini.

Seblang Olehsari: Tradisi Sakral Tarian Mistis Selama Tujuh Hari di Banyuwangi

Balapan digelar di sirkuit sederhana sepanjang 400 meter yang dibentuk di area persawahan. Setiap peserta harus menyelesaikan empat putaran, dengan tantangan berbeda di setiap dua lap. Pada dua lap pertama, peserta beradu kecepatan tanpa membawa beban. Sementara di dua lap terakhir, mereka harus mengangkut satu karung gabah seberat 60 kilogram di jok belakang motor mereka—persis seperti yang mereka lakukan saat bekerja.

Ketua panitia, Deni Wahyudi, menjelaskan bahwa motor yang digunakan adalah motor kerja sehari-hari para pemanol, bukan motor khusus balap. Hal ini menjadi salah satu daya tarik utama lomba tersebut. “Untuk balapan pemanol ini, sepeda motor yang dipakai adalah kendaraan yang biasa mereka pakai untuk bekerja. Jadi bukan kendaraan modifikasi balap,” kata Deni, Selasa (8/4/2025).

Sirkuit yang disiapkan pun menantang, didominasi oleh jalur tanah basah dan berlumpur. Kondisi ini menuntut kemampuan peserta untuk mengendalikan kendaraan dengan hati-hati, terutama saat membawa muatan berat.

Gubernur Khofifah Ajak Keluarga Liburan di Pulau Tabuhan Banyuwangi

Menariknya, ajang ini tidak hanya diikuti oleh pemanol, tetapi juga oleh beberapa pembalap lokal dari kelas amatir. Namun, ternyata tidak semua pembalap dapat dengan mudah mengatasi tantangan yang biasanya dihadapi pemanol dalam keseharian mereka.

“Ternyata yang biasa balapan juga kesusahan saat harus mengikuti ajang ini. Apalagi saat mereka harus membawa angkutan di jok belakang. Terbukti saat babak penyisihan kemarin, banyak pemanol asli yang mengalahkan pembalap,” ujar Deni.

Tujuan utama dari kompetisi ini, lanjut Deni, adalah memberikan ruang apresiasi kepada para pemanol yang selama ini memiliki peran penting dalam rantai distribusi hasil pertanian. Mereka dikenal cekatan dan terampil dalam mengangkut hasil panen dengan cepat, bahkan di medan yang sulit sekalipun.

Kapal Cepat Banyuwangi–Denpasar Segera Beroperasi

“Saat kami sampaikan rencana untuk membuat turnamen ini kepada para pemanol, ternyata mereka antusias. Buktinya, para peserta bukan hanya berasal dari Kecamatan Songgon, tapi juga dari kecamatan lain sekitar,” tambahnya.

Tidak hanya para pemanol yang antusias, warga sekitar pun tampak antusias menyaksikan perlombaan unik ini. Mereka berbondong-bondong datang ke lokasi untuk memberikan dukungan dan menikmati hiburan langka yang lekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk menarik minat peserta dan penonton, panitia menyediakan hadiah berupa dua ekor kambing dan sejumlah uang tunai untuk tiga pemenang utama.

Melihat respons positif dari peserta dan warga, Deni berharap agar Manol Gabah Championship bisa menjadi agenda tahunan yang rutin digelar, sebagai bentuk apresiasi sekaligus hiburan rakyat yang otentik dari desa.

Artikel Terkait