Antisipasi Dampak El Nino, Banyuwangi Siapkan Satgas Kemarau dan Pemetaan Rawan Kekeringan

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 27 April 2026, 20:59 WIB
1000816503
Banyuwangi menyiapkan Satgas Antisipasi Kemarau Panjang.

BanyuwangiNet.com – Pemkab Banyuwangi meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang berpotensi memicu suhu panas ekstrem tahun ini. Melalui BPBD, pemkab sedang menyiapkan Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi Kemarau Panjang yang siap diterjunkan sewaktu-waktu.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari peringatan yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terkait potensi kemarau panjang secara nasional.

“Langkah ini menindaklanjuti imbauan BMKG terkait potensi kemarau panjang,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Partana, Senin (27/4/2026).

Partana menegaskan, meski diharapkan tidak berdampak fatal, antisipasi dini tetap diperlukan. Strategi yang disiapkan mencakup mitigasi menyeluruh terhadap potensi kekeringan hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Panen Raya Musim Tanam Pertama 2026, Produksi Padi Banyuwangi Capai 160 Ribu Ton

Satgas yang disiapkan akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), TNI-Polri, BMKG, Basarnas, pengelola Taman Nasional Alas Purwo, hingga masyarakat.

“Saat ini statusnya masih kesiapsiagaan. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tim sudah siap,” tegasnya.

Dalam upaya mitigasi, BPBD telah memetakan wilayah berdasarkan tingkat kerawanan kekeringan. Sebanyak 11 kecamatan masuk kategori rawan tinggi, yakni Wongsorejo, Tegaldlimo, Singojuruh, Blimbingsari, Kabat, Gambiran, Purwoharjo, Siliragung, Muncar, Bangorejo, dan Pesanggaran.

Sedangkan wilayah dengan kerawanan sedang meliputi Kecamatan Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring. Adapun 10 kecamatan lainnya seperti Banyuwangi, Rogojampi, Tegalsari, Srono, Songgon, Glenmore, Genteng, Licin, Kalibaru, dan Sempu tergolong memiliki kerawanan rendah.

“Selain pemetaan air bersih, kami juga memberi perhatian pada titik-titik potensi karhutla di kawasan hutan produksi maupun taman nasional,” tambah Partana.

BPBD Banyuwangi telah menggelar rapat koordinasi awal bersama berbagai pemangku kepentingan hingga tingkat provinsi. Tujuannya agar setiap instansi dapat menjalankan mitigasi sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Dudas -1 Syuting di Banyuwangi, Eksplor Kekayaan Wisata, Budaya, hingga Kuliner Banyuwangi

Peran penting dalam penanganan dampak kemarau juga diemban oleh dinas teknis seperti Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, serta PUDAM, khususnya dalam menjaga ketersediaan air dan distribusi air bersih bagi masyarakat.

Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau panjang tahun ini telah mulai sejak awal April dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September. Namun demikian, BPBD tetap mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi lain seperti banjir dan angin kencang. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di sejumlah wilayah Banyuwangi.

“Salah satu dampaknya adalah amblesnya jembatan di Desa Sraten, Kecamatan Cluring akibat banjir. Selain itu, banjir juga sempat terjadi di wilayah Kalibaru,” pungkasnya.

Artikel Terkait