Kolaborasi OJK dan Pemkab, BBF 2026 Perkuat Industri Batik Banyuwangi

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 7 November 2026, 23:29 WIB
1001173133
Pelaku usaha batik bisa memperluas pasar melalui Banyuwangi Batik Festival.

BanyuwangiNet.com – Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2026 kembali digelar bersamaan dengan puncak acara Bulan Inklusi Keuangan (BIK). Kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ini menjadi upaya memperkuat industri batik lokal melalui pengembangan usaha, perluasan akses layanan keuangan, serta pembukaan peluang pasar bagi pelaku UMKM.

BBF dan BIK berlangsung di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada 6–8 November 2026. Tahun ini menjadi kali kedua kedua kegiatan tersebut diselenggarakan secara bersamaan. Sementara itu, BBF telah memasuki penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali digelar pada 2013.

Pada penyelenggaraan tahun ini, BBF mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel sebagai tema utama. Motif tersebut menjadi salah satu kekayaan batik Banyuwangi yang diperkenalkan kepada masyarakat melalui rangkaian kegiatan festival.

Berbagai agenda digelar selama tiga hari, mulai dari peragaan busana batik, Financial Expo dan Bazar UMKM, pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK), hingga talk show literasi keuangan. Kegiatan juga dimeriahkan kompetisi kreasi budaya dan desain batik, kompetisi tandan pisang Cavendish berkualitas, serta ditutup dengan BIK Run pada Minggu pagi.

Kepala OJK Jember, Aris Budiman, mengatakan pengembangan industri batik membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya perajin, tetapi juga pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, serta masyarakat sebagai konsumen produk lokal.

Menurutnya, kolaborasi BBF dan BIK menjadi langkah strategis untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan, terutama bagi pelaku industri kreatif dan UMKM.

“Proses pembuatan batik membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan hingga pemerintah daerah,” jelasnya, Sabtu (7/11/2026).

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, mengatakan BBF telah menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus memperkuat ekosistem usaha batik. Menurutnya, keterlibatan perajin, pedagang batik, desainer fesyen lokal, hingga pelaku UMKM menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival tersebut.

“Di satu sisi kita merayakan warisan budaya, di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku UMKM yang menghidupkan budaya,” katanya.

Mujiono berharap BBF terus menjadi ruang bagi para perajin untuk berkarya dan berinovasi. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui penciptaan motif, desain, hingga strategi pemasaran yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

“Termasuk memanfaatkan layanan keuangan digital untuk memperluas jangkauan pasar batik Banyuwangi,” ungkapnya.

Sejak pertama kali digelar pada 2013, BBF tidak hanya menjadi ajang peragaan busana. Festival ini juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan motif batik Banyuwangi, mendorong kreativitas perajin, sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk budaya lokal.

Setiap tahun, BBF mengangkat motif batik yang memiliki karakter dan filosofi tersendiri. Sejumlah motif khas Banyuwangi yang pernah diperkenalkan antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader Kesit.

Banyuwangi Batik Festival 2024 Pukau Ribuan Pengunjung, Batik “Jenon” Jadi Sorotan

Pada 2026, motif Sabuk Mangir Latar Ukel menjadi representasi nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur Banyuwangi. Pengangkatannya diharapkan semakin memperkaya khazanah batik daerah sekaligus memperluas pengenalan motif lokal kepada masyarakat.

Selain menjadi ruang ekspresi budaya, BBF juga memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan berinteraksi langsung dengan masyarakat maupun wisatawan.

Pusat Batik Banyuwangi Hadirkan Beragam Motif Khas, Dukung Pelestarian Budaya dan Perajin Lokal

Salah satu pelaku usaha batik, Eca, menilai BBF dan BIK menjadi peluang untuk memperkenalkan keberagaman motif batik Banyuwangi kepada masyarakat. Termasuk motif Sabuk Mangir Latar Ukel yang diangkat dalam festival tahun ini.

“Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh dan batik lokal semakin dikenal,” ujarnya.

Artikel Terkait