300 Warga Banyuwangi Jalani Cuci Darah, 28 Pasien Berusia di Bawah 30 Tahun

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 13 September 2026, 15:23 WIB
Amir Hidayat
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Amir Hidayat.

BanyuwangiNet.com – Lebih dari 300 warga Banyuwangi diketahui mengalami gagal ginjal stadium 5 dan harus menjalani hemodialisis atau cuci darah. Dari jumlah tersebut, 28 pasien bahkan tercatat masih berusia di bawah 30 tahun.

Data tersebut dihimpun dari laporan empat rumah sakit utama di Banyuwangi, yakni RSUD Blambangan, RSUD Genteng, RS Al Huda, serta RS Bakti Husada Krikilan, Glenmore.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi pada kelompok usia muda.

“Yang memperhatinkan ada 28 kasus yang usianya kurang dari 30 tahun,” jelasnya, Minggu (13/9/2026).

Amir mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir terdapat tren kenaikan sejumlah penyakit metabolik di Banyuwangi. Penyakit tersebut antara lain hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena pola hidup dan pola konsumsi masyarakat turut berpengaruh terhadap kesehatan dalam jangka panjang.

Salah satu hal yang ditekankan Dinkes adalah kecukupan asupan cairan dan nutrisi, terutama pada kelompok remaja dan generasi muda.

Amir menjelaskan, tubuh membutuhkan asupan cairan yang cukup setiap hari. Secara umum, kebutuhan tersebut sekitar dua liter air atau setara dengan delapan gelas per hari, meski kebutuhan setiap orang dapat berbeda tergantung kondisi tubuh dan aktivitas.

“Nah kalau kurang cairan itu berisiko gagal ginjal. Ini perlu disampaikan, terutama pada remaja, generasi muda, supaya asupan nutrisinya harus cukup,” terangnya.

Dinkes Banyuwangi juga menyoroti pola konsumsi anak muda yang semakin gemar mengonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi.

Minuman instan, minuman bersoda, serta berbagai jenis minuman manis yang dikonsumsi berlebihan dinilai perlu dibatasi. Selain itu, makanan yang sedang tren seperti seblak dan cireng juga perlu dikonsumsi secara bijak dan tidak berlebihan.

Di sisi lain, Amir menyebut hasil survei menunjukkan masih rendahnya konsumsi sayur dan buah pada anak-anak. Kondisi tersebut diperparah dengan aktivitas fisik yang kurang karena banyak waktu dihabiskan untuk bermain gawai.

“Sudah asupan nutrisinya kurang, aktivitas fisiknya kurang juga, nah ini beresiko,” tegasnya.

Warga Banyuwangi Diminta Waspadai Penyakit dengan Gejala Mirip Flu

Untuk mencegah semakin tingginya penyakit metabolik, Dinkes Banyuwangi akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pola makan dan gaya hidup sehat.

Masyarakat diimbau mencukupi kebutuhan nutrisi, menjaga asupan cairan, serta rutin melakukan aktivitas fisik.

Menkes Luncurkan Oasis Wangi, Layanan Konsultasi Kesehatan 24 Jam di Banyuwangi

Amir menyebut rekomendasi aktivitas fisik dari WHO menjadi salah satu acuan yang disosialisasikan kepada masyarakat. Ia menyebut olahraga dilakukan sekitar 150 menit dalam sepekan atau 30 menit per hari selama lima hari.

“Nah kalau ini bisa dilakukan, maka inilah sebenarnya pola hidup sehat yang akan terus kita dorong,” ujarnya.

Artikel Terkait