Turnamen Orado Banyuwangi Diikuti 32 Tim, Peminat Membludak hingga Pendaftaran Dibatasi
BanyuwangiNet.com – Minat masyarakat terhadap olahraga domino atau Orado di Kabupaten Banyuwangi makin tinggi. Hal itu terlihat dalam turnamen Orado yang digelar di Hotel Aston Banyuwangi, Sabtu (29/8/2026).
Penyelenggara bahkan harus membatasi jumlah peserta karena pendaftar yang ingin mengikuti kompetisi tersebut jauh lebih banyak dari kapasitas bagan pertandingan.
Turnamen tersebut dibuka Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banyuwangi Dwi Handayani, Ketua KONI Banyuwangi Ahmad Khairullah, serta perwakilan Pengurus Provinsi.
Sebanyak 32 tim dari sekitar 12 klub akhirnya mengikuti turnamen. Padahal, jumlah tim yang mendaftar mencapai sekitar 42 tim.
Ketua Pengcab Orado Banyuwangi Dede Abdul Ghany mengatakan, pembatasan peserta dilakukan agar pertandingan dapat berlangsung sesuai regulasi dan bagan kompetisi.
“Turnamen ini kami batasi hanya 32 tim dari hampir 12 klub. Karena memang regulasi kita, walaupun pendaftar atau peminatnya banyak, hampir 42 tim yang mendaftar, tapi kita memang ada aturan bagan yang harus kita akomodir supaya terjadi pertandingan yang baik,” terangnya.
Kepala Dispora Banyuwangi Dwi Handayani mengatakan, kehadiran Orado menjadi bagian dari perubahan citra permainan domino di tengah masyarakat.
Menurutnya, domino yang selama ini identik sebagai permainan rekreasi di warung kopi atau pos kamling kini berkembang menjadi olahraga yang memiliki aturan dan kompetisi resmi.
“Dengan adanya Orado, permainan domino kini menjadi naik kelas. Dari dulunya permainan rakyat yang dilakukan warung kopi dengan kesan negatif kini telah menjadi olahraga prestasi dan sudah tergabung dengan KONI,” kata Dwi.
Selain menjadi ajang kompetisi, turnamen tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan antarpemain dan klub. Pemerintah daerah berharap kompetisi Orado dapat menjadi ruang untuk menemukan pemain potensial yang mampu berkembang hingga tingkat nasional.
“Turnamen ini untuk mencari bibit untuk tingkat yang lebih tinggi lagi bahkan hingga tingkat nasional,” tegasnya.
Turnamen Orado Banyuwangi kali ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dede Abdul Ghany mengatakan, momentum kemerdekaan menjadi semangat tersendiri bagi para peserta dan pengurus untuk mengembangkan Orado sebagai cabang olahraga yang dapat memberikan dampak lebih luas.
“Kali ini berbeda, nuansa HUT Kemerdekaan RI yang ke-81 hari ini menjadi penyemangat kita semua bahwasanya bidang olahraga ini bisa membangkitkan serta menggerakkan ekonomi di daerah,” terangnya.
Menurut Dede, tingginya minat peserta menunjukkan bahwa Orado memiliki potensi untuk berkembang sebagai olahraga kompetitif di Banyuwangi.
Orado merupakan transformasi dari permainan domino yang selama ini populer di masyarakat dengan sebutan gaple. Perbedaannya, Orado dikembangkan sebagai olahraga prestasi dengan sistem pertandingan dan regulasi yang lebih terstruktur.
Pengurus Besar (PB) Orado dideklarasikan pada Januari 2026. Beberapa bulan kemudian, Orado resmi menjadi bagian dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat pada Mei 2026.
Di tingkat provinsi dan kabupaten, Orado kemudian mulai diresmikan sebagai salah satu cabang olahraga KONI pada awal Agustus 2026.
Banyuwangi Raih Penghargaan Nasional atas Upaya Pelestarian Bahasa Using
Perkembangan tersebut membuka peluang bagi pemain domino di tingkat desa dan komunitas untuk beralih dari permainan tradisional menjadi kompetisi yang memiliki standar pertandingan.
Transformasi tersebut turut dirasakan para peserta. Salah satunya Abidin yang menilai pertandingan Orado memiliki atmosfer berbeda dibandingkan permainan domino yang biasa dilakukan secara santai di warung kopi maupun pos kamling.
Murid Sekolah Rakyat Banyuwangi Boyongan ke Gedung Permanen di Muncar
Menurutnya, sistem pertandingan yang lebih terstruktur membuat peserta merasakan tekanan dan persaingan yang berbeda.
“Suasana berkompetisi jadi terasa,” jelasnya.