BINEF 2026 Banyuwangi Dorong Pelajar Siap Kuliah dan Berjejaring di Dunia Internasional

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 13 Agustus 2026, 19:42 WIB
1001002335
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani membuka forum BINEF 2026.

BanyuwangiNet.com – Anak-anak muda Banyuwangi kembali menggelar Blambangan International Education Festival (BINEF) 2026, sebuah forum yang mempertemukan pelajar dan mahasiswa dengan informasi pendidikan internasional sekaligus membangun konektivitas dengan diaspora Indonesia di berbagai negara.

BINEF 2026 resmi dibuka Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Kampus Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), Rabu (12/8/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 13 Agustus tersebut diikuti lebih dari 100 pelajar dan mahasiswa dari berbagai wilayah di Banyuwangi.

Mengusung tema “Establishing Banyuwangi Student Connectivity to Prepare Superior Human Resources for Indonesia’s Future”, BINEF menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal peluang studi ke luar negeri, beasiswa, jejaring internasional, hingga tantangan dunia kerja di masa depan.

Sejumlah narasumber turut dihadirkan, antara lain Syaeful Mujab, penerima beasiswa LPDP untuk studi S2 di London School of Economics and Political Science, Inggris; Hardika Dwi Hermawan, penerima beasiswa LPDP yang menempuh Master of Science di Hong Kong University sekaligus pendiri Desamind; serta Achmad Roghib Mabrur, putra Banyuwangi yang kini menempuh pendidikan doktoral di National Chung Hsing University, Taiwan.

Bupati Ipuk mengatakan, perkembangan teknologi membuat generasi muda perlu memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Penguasaan teknologi, kecerdasan digital, kemampuan beradaptasi, serta jejaring internasional menjadi bekal penting bagi pelajar dan mahasiswa.

Ia merujuk laporan World Economic Forum Future of Jobs 2025 yang memperkirakan akan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru hingga 2030. Pada saat yang sama, sekitar 92 juta pekerjaan yang ada saat ini berpotensi tergantikan.

Karena itu, menurut Ipuk, pendidikan tidak cukup hanya mempersiapkan generasi muda untuk pekerjaan yang tersedia saat ini. Mereka juga harus dipersiapkan menghadapi jenis pekerjaan yang mungkin baru muncul di masa mendatang.

“Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan dan transisi energi, telah mengubah kebutuhan tenaga kerja secara drastis. Karenanya generasi muda harus memiliki penguasaan dan kemampuan di bidang ini sebagai bekal menghadapi masa depan. Dan yang penting berjejaring untuk mendapatkan peluang yang lebih luas,” ujar Ipuk.

BINEF, lanjutnya, menjadi salah satu sarana untuk memperluas wawasan sekaligus mempertemukan anak-anak muda Banyuwangi dengan pengalaman pendidikan dari berbagai negara.

Syaeful Mujab membagikan pengalamannya dalam memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui beasiswa LPDP. Ia mendorong pelajar dari daerah untuk tidak membatasi cita-cita hanya karena berasal dari luar kota besar.

“Jangan berkecil hati meskipun kita berasal dari daerah. Siapapun dari kita bisa mempunyai mimpi besar dengan berusaha untuk mencapainya. Persiapkan diri dengan baik insyaallah kita bisa mencapai mimpi itu,” ujar Mujab.

Menurut dia, kemampuan bahasa menjadi salah satu modal penting untuk membuka akses ke lingkungan pendidikan dan jejaring internasional.

“Dengan bahasa membuka kesempatan untuk sekolah, ikut konferensi hingga membangun jejaring internasional. Manfaatkan media sosial untuk mencari informasi beasiswa dan pertemanan global,” ungkapnya.

Mahasiswa UNAIR dan UTM Gelar Pengabdian Masyarakat di Banyuwangi

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam BINEF karena akses pendidikan internasional tidak hanya membutuhkan prestasi akademik, tetapi juga kesiapan komunikasi dan kemampuan membangun jaringan.

Ketua Penyelenggara BINEF 2026, Ahmad Roghib Mabrur, mengatakan kegiatan tahun ini tidak berhenti pada seminar dan berbagi pengalaman. Peserta juga memperoleh fasilitas pendukung untuk mempersiapkan diri menuju pendidikan internasional.

210 Mahasiswa Unair Jalani KKN-BBK di Banyuwangi, Fokus Kembangkan Potensi 22 Desa

Para peserta mendapatkan bimbingan bahasa Inggris secara gratis selama satu tahun, termasuk kesempatan mengikuti pre-test IELTS. Mereka juga memperoleh fasilitas mentoring untuk mempersiapkan diri mencari dan mendaftar beasiswa di perguruan tinggi internasional.

“Karena bahasa Inggris jadi kunci untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mereka juga dapat bimbingan mentoring gratis setahun untuk coaching tips and trip mendapatkan beasiswa di kampus internasional,” pungkasnya.

Artikel Terkait