Pelajar SMK di Banyuwangi Ciptakan Kompor Berbahan Oli dan Minyak Jelantah

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 11 Mei 2026, 19:22 WIB
1000839343
Bupati Ipuk melihat kompor berbahan bakar jelantah buatan siswa SMK.

BanyuwangiNet.com – Kreativitas anak muda di Kabupaten Banyuwangi melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, pelajar SMK Gajah Mada Banyuwangi berhasil menciptakan kompor berbahan bakar limbah cair berupa oli bekas dan minyak goreng bekas pakai atau jelantah.

Inovasi tersebut menjadi solusi alternatif energi yang lebih hemat sekaligus ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan satu liter oli atau minyak jelantah, kompor dapat digunakan selama tiga hingga empat jam untuk memasak.

Guru pembimbing jurusan otomotif SMK Gajah Mada, Rusianto, menjelaskan, ide pembuatan kompor muncul dari keresahan terhadap banyaknya limbah oli bengkel dan minyak jelantah rumah tangga yang dibuang sembarangan.

“Padahal ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Dengan demikian, limbah cair tersebut tidak sampai terbuang yang akhirnya bisa menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan,” kata Rusianto.

Selain mengurangi limbah, inovasi tersebut juga lahir dari keprihatinan terhadap tingginya ketergantungan masyarakat pada gas LPG. Menurut Rusianto, kompor berbahan bakar limbah cair ini dapat menjadi pilihan alternatif bagi rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner kecil.

“Maka ini bisa menjadi solusi alternatif bagi ibu rumah tangga maupun usaha kecil kuliner. Meski menggunakan bahan bakar jelantah maupun oli bekas, tidak mempengaruhi rasa pada masakan. Tidak ada bau sama sekali,” ujarnya.

Si Kedip Wangi Banyuwangi: Layanan Gratis Legalitas UMKM Jemput Bola ke Desa

Kompor rakitan para pelajar tersebut dibuat menggunakan bahan sederhana, seperti pipa besi untuk rangka, blower sebagai pendorong bahan bakar, keran air untuk mengatur aliran bahan bakar, dan kaleng sebagai ruang pemanas.

Cara penggunaannya pun cukup mudah. Sebelum dipakai memasak, kompor dipanaskan secara manual selama sekitar lima menit. Setelah itu, bahan bakar dialirkan melalui keran, lalu blower dinyalakan untuk mengatur besar kecilnya api.

Rusianto menambahkan, pihak sekolah juga mulai menerima pesanan kompor untuk kebutuhan rumah tangga maupun UMKM dengan harga yang disesuaikan kebutuhan konsumen.

“Kami menerima pesanan untuk rumah tangga maupun UMKM. Harganya sangat terjangkau, bisa custom sesuai kebutuhan,” katanya.

Inovasi tersebut mendapat perhatian dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat menghadiri program Bunga Desa di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, pada 7 Mei 2026. Ipuk mengapresiasi kreativitas guru dan siswa SMK Gajah Mada yang dinilai mampu menghadirkan solusi energi alternatif dari limbah rumah tangga.

“Ini ide kreatif supaya masyarakat gak hanya bergantung pada LPG. Ternyata ada alternatif bahan bakar yang sangat mudah didapatkan. Bahkan di rumah kita juga setiap hari memproduksi limbah,” ujar Ipuk.

Bunga Desa di Purwoharjo, Bupati Ipuk Hadirkan Layanan Kesehatan, Bantuan Sosial, dan Dukungan Ekonomi warga.

Ia berharap inovasi tersebut terus dikembangkan agar dapat diproduksi secara massal dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.

“Biar bisa diproduksi masal dan dimanfaatkan banyak orang. Dan saya berharap kreativitas ini bisa menjadi motivasi bagi pelajar yang lain untuk menghasilkan karya-karya yang lebih inovatif,” kata Ipuk.

Artikel Terkait