Tradisi Lebaran Kopat Boyolangu Banyuwangi, Warga Makan Ketupat Bersama Tiap 7 Syawal

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 28 Maret 2026, 23:31 WIB
Suasana Lebaran Kopat di Kelurahan Boyolangu berlangsung sangat meriah, Jumat malam (28/3/2026).
Suasana Lebaran Kopat di Kelurahan Boyolangu berlangsung sangat meriah, Jumat malam (28/3/2026).

BanyuwangiNet.com – Warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar tradisi Lebaran Kopat pada H+7 Idul Fitri atau 7 Syawal, Jumat malam (28/3/2026).

Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus momentum mempererat kebersamaan masyarakat setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Suasana kampung tampak meriah ketika warga menyiapkan ketupat yang akan dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan tetangga. Sebagian warga bahkan memilih makan bersama di teras rumah, menciptakan suasana silaturahmi yang hangat.

Lebaran Kopat di Boyolangu menjadi pembuka rangkaian tradisi budaya yang digelar setiap tahun di wilayah tersebut.

ASDP Prediksi Puncak Arus Balik Kedua Ketapang-Gilimanuk pada 28–29 Maret 2026

Acara inti dimulai setelah waktu salat Magrib, ketika warga menyajikan hidangan ketupat lengkap dengan sayur dan lauk pauk khas untuk disantap bersama keluarga besar yang datang berkunjung.

Kemeriahan terasa di setiap sudut kampung. Anak-anak terlihat berlarian mengenakan baju koko dan kopiah. Mereka tampil khas dengan celana pendek serta sarung yang disampirkan di bahu atau dililit seperti tas pinggang.

Sebelum acara makan bersama dimulai, warga terlebih dahulu mengikuti doa bersama sebagai bentuk ungkapan syukur atas keberkahan yang diberikan Tuhan.

Setelah doa selesai dipanjatkan, warga mulai menikmati hidangan ketupat yang telah disiapkan sejak siang hari.

Hemat BBM, Bupati Ipuk Imbau ASN Banyuwangi Naik Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor

Tradisi makan bersama ini tidak hanya sekadar menikmati hidangan, tetapi juga menjadi cara masyarakat menjaga hubungan sosial dan mempererat silaturahmi antarwarga.

Kemeriahan acara berlanjut setelah salat Isya dengan berbagai pertunjukan seni dari para remaja Boyolangu. Mereka menampilkan tarian khas Banyuwangi yang menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal.

Antusiasme warga dan pengunjung terlihat tinggi. Banyak orang memadati lokasi acara untuk menyaksikan pertunjukan seni tersebut.

Tradisi tahunan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sejumlah pelaku UMKM membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan.

Ramainya pengunjung membuat para pedagang mendapatkan keuntungan dari meningkatnya penjualan selama acara berlangsung.

Sidak Hari Pertama Kerja, Bupati Ipuk Pastikan Layanan Publik Banyuwangi Tetap Normal Meski WFA

Ketua panitia kegiatan, Risyal Alfani, mengaku bersyukur kegiatan Boyolangu Traditional Culture yang menjadi bagian dari rangkaian tradisi Puter Kayun dapat berjalan lancar.

“Bersyukur bisa berjumpa kembali di Boyolangu Traditional Culture. Kami sangat bangga dengan masyarakat Kelurahan Boyolangu yang hingga saat ini masih peduli akan pelestarian budaya lokal,” ujarnya.

Sebelum tradisi Lebaran Kopat digelar, masyarakat terlebih dahulu mengadakan Qhotmil Qur’an di kelurahan.

Selain itu, tokoh adat dan warga juga melakukan ziarah ke petilasan Ki Buyut Jaksa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang diyakini berjasa bagi perkembangan wilayah Boyolangu.

Hari Pertama Kerja, Bupati Ipuk Halal Bihalal Bersama Pengemudi Becak, Angkot, dan Ojol

Tradisi Lebaran Kopat merupakan bagian dari rangkaian acara budaya yang berlangsung selama beberapa hari, yakni:

7 Syawal: Qhotmil Qur’an, Selamatan Kopat, dan Pentas Seni Budaya
8 Syawal: Pertunjukan seni budaya dan Barong lokal
9 Syawal: Pawai tradisi Kebo-Keboan
10 Syawal: Tradisi Puter Kayun

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda budaya yang selalu dinanti masyarakat sekaligus menarik perhatian wisatawan di Banyuwangi.

Artikel Terkait