Penataban Banyuwangi Angkat Kearifan Lokal Lewat Lomba Unting-Unting Kangkung

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 20 November 2025, 09:59 WIB
Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, mengenalkan potensi yang ada, warga menggelar lomba ‘unting-unting’ atau mengikat kangkung, di Lapangan Penataban, Rabu (19/11/2025).
Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, mengenalkan potensi yang ada, warga menggelar lomba ‘unting-unting’ atau mengikat kangkung, di Lapangan Penataban, Rabu (19/11/2025).

BanyuwangiNet.com – Kelurahan Penataban di Kecamatan Giri, Banyuwangi, selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kangkung terbesar di daerah tersebut. Hampir sebagian besar warga menggantungkan penghasilan pada pertanian kangkung, termasuk aktivitas mengikat atau unting-unting kangkung yang menjadi bagian dari keseharian mereka. Untuk memperkenalkan potensi lokal itu secara lebih luas, warga menggelar lomba unting-unting kangkung sebagai bentuk pelestarian tradisi sekaligus promosi daerah.

Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Penataban pada Rabu (19/11/2025) ini menarik minat banyak warga. Peserta datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga masyarakat lanjut usia. Suasana meriah tampak ketika penonton memberikan dukungan sambil menyaksikan kecepatan dan kerapian para peserta dalam mengikat kangkung, sebuah keterampilan yang menjadi ciri khas warga Penataban.

Lomba ini digagas oleh Asosiasi Lurah Indonesia (Asli) Banyuwangi sebagai bagian dari program yang mendorong setiap kelurahan menggali dan menampilkan potensi khas masing-masing wilayah. Melalui kegiatan ini, tradisi unting-unting tidak hanya diperlihatkan sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai edukasi.

Dr. Tan Shot Yen Bekali Kader Posyandu Banyuwangi Soal Gizi Balita dan Pencegahan Stunting

Habibah (33), salah satu peserta, mengaku baru pertama kali mengikuti lomba tersebut. Meski sempat merasa gugup, ia bangga bisa ikut menjaga tradisi lokal Penataban.

“Menyenangkan. Bukan hanya lomba, tapi cara mengenalkan budaya unting-unting ke masyarakat luar,” ujarnya.

Peserta lain, Mbah Zaenab (71), menjadi perhatian karena gerakannya yang sangat cekatan. Ia memang telah bekerja sebagai buruh unting-unting sejak puluhan tahun lalu.

“Saya sudah mengikat kangkung sejak muda, mungkin lebih dari tiga puluh tahun. Senang masih ada yang menghargai pekerjaan ini,” katanya.

Lembaga Sensor Indonesia Sebut Banyuwangi Layak jadi Pusat Industri Sinema

Lurah Penataban, Komariah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya mempromosikan identitas kelurahan. Menurutnya, Penataban memiliki kekhasan yang layak ditonjolkan, termasuk tradisi unting-unting yang sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari warga.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Penataban punya ikon yang tidak kalah menarik dengan daerah lain. Ini bentuk mengangkat kearifan lokal,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan mengenalkan keterampilan unting-unting kepada generasi muda.

“Kami juga ingin agar anak-anak muda belajar. Agar keterampilan ini tetap hidup dan menjadi kebanggaan bersama,” sambungnya.

Banyuwangi Perkuat Layanan Stroke dengan Sistem Rujukan Cepat dan Neurointervensi

Ketua Asli Banyuwangi, Yuda Teguh Siswanto, mengatakan bahwa tradisi unting-unting dipilih karena memiliki nilai budaya dan mengajarkan penghargaan terhadap proses produksi pangan.

“Kita sering hanya tahu beli kangkung seharga dua ribu rupiah. Padahal ada proses panjang, ada ketekunan yang harus dihargai,” ujarnya.

Artikel Terkait