Lembaga Sensor Indonesia Sebut Banyuwangi Layak jadi Pusat Industri Sinema

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 19 November 2025, 19:46 WIB
Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film, serta sosialisasi aplikasi e-SiAS bagi pegiat perfilman di Jawa Timur, di Banyuwangi, Rabu (19/11/2025). Banyuwangi dipilih menjadi tuan rumah lantaran dinilai memiliki potensi besar di dunia perfilman.
Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film, serta sosialisasi aplikasi e-SiAS bagi pegiat perfilman di Jawa Timur, di Banyuwangi, Rabu (19/11/2025). Banyuwangi dipilih menjadi tuan rumah lantaran dinilai memiliki potensi besar di dunia perfilman.

BanyuwangiNet.com – Banyuwangi kembali mendapat perhatian nasional sebagai salah satu daerah dengan potensi besar di bidang industri kreatif, khususnya industri sinema. Kekayaan alam, budaya, hingga adat istiadat yang telah dikenal hingga mancanegara dinilai menjadi modal kuat bagi Banyuwangi untuk berkembang sebagai pusat produksi film di Indonesia.

Penilaian tersebut disampaikan Ketua Subkomisi Penyensoran Lembaga Sensor Film (LSF), Hadi Armoto, dalam kegiatan Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film serta sosialisasi aplikasi e-SiAS bagi pegiat perfilman Jawa Timur di Banyuwangi, Rabu (19/11/2025). Banyuwangi dipilih menjadi tuan rumah karena dianggap memiliki potensi sinema yang sangat besar dan terus berkembang.

Menurut Hadi, seluruh unsur yang dibutuhkan sebuah wilayah untuk berkembang dalam dunia sinematografi sudah dimiliki Banyuwangi.

“Banyuwangi mempunyai cerita legenda yang begitu hebat. Alamnya bagus. Budayanya banyak. Jadi jangan ditanya lagi, semuanya sudah mendunia. Banyuwangi bisa jadi pusat industri sinema,” ujar Hadi.

Ia menjelaskan bahwa nilai positif Banyuwangi, mulai dari lanskap alam, keberagaman budaya, hingga kekayaan cerita lokal, dapat menjadi bahan eksplorasi sinematografi yang luas. Potensi tersebut tidak hanya cocok untuk film layar lebar komersial, tetapi juga film pendek, film dokumenter, hingga karya eksperimental lainnya.

Banyuwangi Perkuat Layanan Stroke dengan Sistem Rujukan Cepat dan Neurointervensi

“Potensinya memang besar banget. Film dokumenter yang saya buat juga berkisah tentang Banyuwangi,” tambahnya.

LSF turut mendorong para sineas agar memaksimalkan produksi film berlatar Banyuwangi. Baik sineas nasional, komunitas lokal, hingga pemerintah daerah diharapkan semakin aktif menciptakan karya.

Hadi juga menekankan pentingnya pengurusan sensor film sebagai bagian dari proses produksi. Melalui aplikasi e-SiAS, pengajuan sensor kini dapat dilakukan tanpa harus datang ke Jakarta, sehingga mempermudah sineas di daerah.

Dengan memiliki Surat Tanda Lulus Sensor (STLS), kata Hadi, film akan mendapatkan perlindungan hukum serta penetapan klasifikasi usia penonton.

Sirkuit BMX Muncar Banyuwangi, Lahirkan Juara Dunia dan Jadi Pusat Latihan Berstandar Olimpiade

Saat ini, LSF menangani sekitar 42 ribu film setiap tahun, dan berharap jumlah tersebut meningkat seiring hadirnya karya baru dari berbagai daerah, termasuk Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik dorongan dan dukungan dari LSF. Menurutnya, hal ini menjadi motivasi bagi pelaku film lokal untuk semakin kreatif sekaligus memahami mekanisme sensor sesuai regulasi.

“Selama ini Banyuwangi telah banyak menjadi lokasi syuting film-film nasional di Indonesia. Dengan dukungan ini, harapannya pelaku film di Banyuwangi kian kreatif dan sesuai dengan regulasi yang ada,” ujar Ipuk.

Ia juga berharap semakin banyak karya besar lahir dari talenta lokal. “Kami berharap nantinya ada film besar yang dihasilkan dari orang Banyuwangi, syuting di Banyuwangi dan artisnya dari Banyuwangi,” tambahnya.