Lontar Sritanjung Banyuwangi Dikonservasi: Warisan Budaya Jadi Ingatan Kolektif Nasional

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 6 September 2025, 18:26 WIB
KONSERVASI: Lontar Sritanjung, naskah kuno yang menjadi sumber utama kisah asal-usul nama Banyuwangi, tengah menjalani proses konservasi
KONSERVASI: Lontar Sritanjung, naskah kuno yang menjadi sumber utama kisah asal-usul nama Banyuwangi, tengah menjalani proses konservasi

BanyuwangiNet.com – Lontar Sritanjung, naskah kuno yang menjadi sumber utama kisah asal-usul nama Banyuwangi, tengah menjalani proses konservasi oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelestarian satu-satunya naskah Sritanjung yang beredar di publik agar tidak rusak dimakan usia.

Aris Riyadi, Koordinator Bidang Preservasi Naskah Manassa sekaligus Koordinator Tim Konservasi Perpustakaan Nasional RI, menegaskan bahwa kondisi naskah ini sangat rapuh.

“Naskah ini sangat rapuh. Jika tidak segera dikonservasi maka akan rusak. Apalagi terdapat korosi tinta yang membakar kondisi kertasnya itu sendiri,” jelas Aris, Selasa (2/9/2025).

Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek Banyuwangi 2025, Angkat Kuliner Osing dan Desa Banjar

Naskah yang merupakan koleksi Omahseum ini ditulis pada tahun 1888 M. Setiap lembarannya kini diperbaiki dengan teknik pelapisan menggunakan tisu Jepang serta melalui proses kimiawi tertentu. Setelah itu, naskah akan dijilid ulang, diberi sampul, dan dilengkapi pelindung agar lebih tahan lama.

Lontar Sritanjung bukan hanya karya sastra, tetapi juga fondasi identitas kultural masyarakat Banyuwangi. Melalui konservasi ini, teks tersebut diharapkan tetap dapat dipelajari, diwariskan, dan dihidupkan kembali dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Ketua Manassa, Munawar Holil, mengingatkan bahwa naskah ini telah ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Indonesia oleh Perpustakaan Nasional sejak 2024.

“Ini sebuah pengakuan resmi sebagai warisan penting bagi sejarah dan identitas bangsa,” ujarnya.

Jagoan Banyuwangi Dorong Anak Muda Scale Up Usaha Kreatif, Bupati Ipuk: Ekonomi Daerah Akan Tumbuh

Didukung UNESCO dan Komunitas Lokal

Konservasi ini merupakan bagian dari program kolaboratif Manassa dan UNESCO melalui The Asia/Pacific Regional Committee for the Memory of the World Program (MOWCAP Project). Program ini tidak hanya fokus pada konservasi fisik naskah, tetapi juga meliputi lokakarya, pertunjukan budaya, hingga pameran.

Wiwin Indiarti, Koordinator Pelaksana Program, menjelaskan bahwa acara puncak akan digelar pada 6 September 2025 di Gedung Dispusip Banyuwangi dengan melibatkan sejumlah komunitas lokal.

“Komunitas Pegon, AMAN Osing, hingga Pesinauan Sekolah Adat Osing akan berpartisipasi dalam acara ini,” paparnya.

Nelayan Banyuwangi Difasilitasi e-Pas Kapal Kecil Gratis untuk Legalitas dan BBM Bersubsidi

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan apresiasinya atas program ini.

“Kami sangat mengapresiasi program ini. Semoga ini akan mengantarkan kepada pemajuan kebudayaan Banyuwangi yang ideal,” ucapnya.

Artikel Terkait