Dari Dapur ke Bengkel: Pandu, Tukang Asah Pisau yang Jadi Andalan Warga Banyuwangi

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 31 Mei 2025, 16:39 WIB
ASAH PISAU - Muhammad Pandu (38) tengah mengasah pisau di
ASAH PISAU - Muhammad Pandu (38) tengah mengasah pisau di "bengkel"-nya, Sabtu (31/5/2025). Pandu biasa melayani pisau dapur milik ibu rumah tangga dan pengusaha kafe/restoran.

BanyuwangiNet.com – Di balik aktivitas dapur yang produktif, ada satu alat yang perannya tak tergantikan: pisau yang tajam. Menyadari pentingnya alat ini, Muhammad Pandu (38), warga Kelurahan Kebalenan, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, melihat celah usaha yang unik—membuka jasa pengasahan pisau dapur.

Dari ruang kerja di lantai dua rumahnya di kawasan Perumahan Baru I, Pandu secara rutin mengasah puluhan pisau setiap pekan. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga pemilik kafe dan restoran.

Sekolah Rakyat Banyuwangi Siap Dibuka Juli 2025, Kemensos dan Kemen PU Tinjau Langsung

Dalam menjalankan usahanya, Pandu menggunakan dua metode utama: secara manual dengan batu pengasah (ungkal), serta mesin pengasah berbasis dinamo. Proses manual bisa memakan waktu hingga dua jam per pisau, terutama untuk jenis-jenis tertentu yang membutuhkan ketelitian ekstra. Sementara dengan bantuan mesin, waktu pengerjaan bisa dipangkas lebih dari separuhnya.

Biasanya, kedua metode itu dikombinasikan agar hasilnya optimal. “Saya melayani segala macam pisau dapur, mulai dari yang harganya Rp30 ribu sampai pisau premium seharga Rp4,5 juta,” ujar Pandu, Sabtu (31/5/2025).

Ribuan Orang Hadiri Festival Tumpeng Sewu di Banyuwangi, Rayakan Tradisi dan Kuliner Suku Osing

Menurutnya, meski terkesan sederhana, mengasah pisau tidak bisa dilakukan sembarangan. Diperlukan pemahaman tentang jenis pisau dan alat pengasah yang digunakan.

Ia menunjukkan perbandingan pisau sebelum dan sesudah diasah: yang awalnya tumpul dan sulit memotong buah, menjadi sangat tajam hingga mampu membelah kertas tanpa tekanan berarti.

“Sebaiknya memang paham karakter pisaunya. Batu asah itu jenisnya banyak, dan harganya juga bervariasi. Salah satu milik saya buatan Jepang, harganya Rp1,8 juta,” jelas Pandu.

Melalui Pekan Nasional Mengajar, PNM Ajak 1.740 Siswa SMK Berani Berwirausaha

Untuk jasa pengasahan, Pandu mematok harga berdasarkan panjang bilah pisau dan jenis materialnya. Pisau berbahan stainless dikenakan tarif Rp1.000 per sentimeter, sementara pisau berbahan baja atau karbon dikenai Rp2.000 per sentimeter.

“Kalau untuk penggunaan rumah tangga, saya lebih sarankan pisau berbahan stainless. Selain mudah dirawat, juga lebih higienis saat digunakan untuk mengolah makanan,” katanya.

Kini, Pandu memiliki koleksi lebih dari 40 pisau dapur. Semuanya digunakan untuk latihan dan referensi saat melayani berbagai jenis permintaan pelanggan.

Dukung Pemerintah Wujudkan Generasi Emas, PNM Gencarkan Pencegahan Stunting dan Imunisasi di Banyuwangi

Keterampilan Pandu dalam mengasah pisau berawal dari kebutuhan domestik. Ia mulai belajar mengasah karena ingin membantu sang istri, yang berjualan asinan dan sehari-harinya bergelut dengan aktivitas memotong buah.

“Istri saya bisa bad mood kalau pisaunya tumpul. Dari situ saya coba belajar lewat YouTube,” ucapnya.

Seiring waktu, Pandu memperdalam keahlian dengan belajar langsung dari para pengasah pisau profesional. Keahliannya mulai dikenal ketika seorang teman mengunggah hasil asahan pisaunya di media sosial. Respons publik ternyata sangat positif.

“Sejak saat itu, banyak yang mulai menitipkan pisaunya untuk saya asah,” ungkapnya.

Dorong Pertanian Ramah Lingkungan, Banyuwangi Uji Coba Pompa Air Tenaga Surya

Untuk menjaga kenyamanan pelanggan, Pandu memberikan layanan tambahan: pisau pengganti sementara. Sebab mayoritas proses pengasahan memerlukan waktu sekitar 24 jam dan membuat pisau pelanggan harus “menginap” di bengkelnya.

“Itu salah satu fasilitas yang saya sediakan. Supaya pelanggan tetap bisa beraktivitas di dapur tanpa terganggu,” tambahnya.

Artikel Terkait