Ribuan Orang Hadiri Festival Tumpeng Sewu di Banyuwangi, Rayakan Tradisi dan Kuliner Suku Osing

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Jumat, 30 Mei 2025, 20:44 WIB
TUMPENG SEWU: Tradisi Tumpeng Sewu di Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (29/5/2025). Bukan hanya warga masyarakat sekitar, wisatawan juga turut datang menikmati sajian menu khas suku Osing, etnis asli Banyuwangi.
TUMPENG SEWU: Tradisi Tumpeng Sewu di Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (29/5/2025). Bukan hanya warga masyarakat sekitar, wisatawan juga turut datang menikmati sajian menu khas suku Osing, etnis asli Banyuwangi.

BanyuwangiNet.com – Ribuan warga dan wisatawan memadati Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis malam (29/5/2025), untuk mengikuti Festival Tumpeng Sewu. Tradisi tahunan ini menjadi salah satu perayaan budaya khas Suku Osing—etnis asli Banyuwangi—yang diselenggarakan sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta.

Sejak sebelum waktu Magrib, jalan-jalan utama desa telah dipenuhi oleh warga dan pengunjung yang duduk lesehan di kanan-kiri jalan. Mereka membawa serta berbagai hidangan khas daerah, termasuk tumpeng dan lauk-pauk tradisional, untuk dinikmati bersama.

Melalui Pekan Nasional Mengajar, PNM Ajak 1.740 Siswa SMK Berani Berwirausaha

Festival dimulai selepas Magrib dengan pertunjukan Barong Kemiren. Dua barong khas berjalan dari dua ujung jalan menuju Kantor Desa—pusat perhelatan acara—diiringi musik tradisional dan obor yang dibawa oleh warga. Saat pertunjukan berlangsung, obor-obor yang berjajar di sepanjang jalan dinyalakan, menciptakan suasana sakral dan khidmat.

Usai pertunjukan barong, para warga serempak menyantap hidangan yang telah disiapkan. Makanan yang disuguhkan bukan sekadar santapan, tetapi sarat makna dan tradisi. Salah satu menu yang wajib hadir adalah Pecel Pitik, olahan ayam kampung yang dipanggang dan dicampur dengan parutan kelapa serta bumbu rempah khas Osing.

Sekolah Rakyat Banyuwangi Siap Dibuka Juli 2025, Kemensos dan Kemen PU Tinjau Langsung

“Setiap keluarga biasanya menyiapkan lebih dari satu tumpeng. Bisa tiga, empat, bahkan lima. Karena momen ini juga jadi ajang berkumpul dengan kerabat dari luar desa,” ujar Mastuki, warga Kemiren.

Ketua Lembaga Adat Osing Kemiren, Suhaimi, menambahkan bahwa Tumpeng Sewu bukan sekadar pesta rakyat, tetapi bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan. “Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Selain tumpengan, warga juga menggelar berbagai kegiatan lain seperti Mepe Kasur, yakni menjemur kasur sebagai simbol pembersihan diri, yang dilakukan sejak pagi hingga siang hari,” jelasnya.

Dukung Pemerintah Wujudkan Generasi Emas, PNM Gencarkan Pencegahan Stunting dan Imunisasi di Banyuwangi

Tak berhenti di malam hari, perayaan budaya ini berlanjut hingga dini hari dengan pembacaan Lontar Yusup, sebuah naskah kuno berbahasa Jawa yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Yusuf. Aktivitas yang dikenal sebagai Mocoan Lontar Yusup ini digelar semalam suntuk dan menjadi penutup dari rangkaian Festival Tumpeng Sewu.

Festival Tumpeng Sewu tak hanya menjadi daya tarik budaya, tetapi juga menjadi bentuk nyata pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Osing di Banyuwangi.

Artikel Terkait