Ekonomi Kreatif Tumbuh, Anak Muda Desa Banyuwangi Raup Puluhan Juta dari Produksi Replika Samurai

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 21 November 2021, 12:35 WIB
IMG-20211115-WA0005
Ekonomi Kreatif Tumbuh, Anak Muda Desa Banyuwangi Raup Puluhan Juta dari Produksi Replika Samurai

BANYUWANGI – Geliat ekonomi kreatif terus tumbuh di Banyuwangi. Banyak anak-anak muda di desa-desa Banyuwangi yang merintus usaha kreatif dan berhasil meraup omset puluhan juga.

Seperti Muhammad Rijal Said, anak muda asal Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung. Usianya masih muda, 26 tahun. Dari tangan kreatifnya kini dia berhasil meraup omset Rp 40 juta per bulan dari pembuatan replika pedang samurai.

Berawal dari kegemarannya pada anime (karya animasi khas Jepang), Rijal memanfaatkan limbah kayu jati menjadi replika pedang samurai yang dia pasarkan melalui marketplace, dan ternyata banyak diminati. Produknya dibeli penggemar anime Jepang dari berbagai kota di Indonesia, mulai Surabaya, Jakarta, Bandung, hingga kota-kota lainnya.

“Saya suka anime. Awalnya modal Rp 50.000, saya buat sendiri pedang samurai dari limbah kayu jati,” kata Rijal, saat berbincang dengan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani yang datang ke tempat usahanya, akhir pekan lalu.

“Setelah itu saya coba jual online ternyata langsung laku. Dari situ saya memberanikan diri untuk fokus ke usaha ini,” tambahnya.

Rijal memulai usahanya pada 2017. Awalnya semua dia kerjakan sendiri. Satu replika pedang samurai buatannya dibanderol Rp 200.000 hingga Rp250.000 melalui “Cacaek Shop Handmade” di marketplace seperti Shopee.

Hingga sekarang bahan baku membuat minuatur pedang tersebut masih dari limbah kayu jati yang dia dapat dari pengusaha mebel sekitar desanya.

“Karena pesanan mulai banyak, saya merekrut teman-teman saya, sampai sekarang punya 6 pegawai,” jelasnya.

Menurut Rijal, biasanya orang membeli produk buatannya untuk untuk properti cosplay, hiasan, atau mainan anak-anak.

Selain mengunjungi produksi replika pedang samurai, di Desa Barurejo, Bupati Ipuk juga mengunjungi produksi konveksi pakaian kekinian yang diproduksi anak-anak lulusan SMK.

“Mulai celana, kemeja, dan lainnya ini dikerjakan oleh lulusan SMK. Kami memiliki 22 penjahit anak-anak muda lulusan SMK di desa ini,” kata Fatah Deden Hidayat (32), pemilik konveksi.

Baca Juga:

Berbagai Upaya Banyuwangi Bawa UMKM Naik Kelas
Upaya Banyuwangi Pulihkan Pariwisata, Siapkan Triple Track Strategy

Mereka bisa menghasilkan ribuan pakaian, yang telah tersebar ke berbagai daerah. Dia mengaku tiap bulannya bisa menghasilkan omset Rp 50 juta meski di tengah pandemi.

Usaha yang dijalankan sejak 2012 lalu telah memberdayakan pemuda sekitar untuk mengurangi pengangguran. “Banyak anak muda di desa ini yang di-PHK dari tempat kerjanya karena pandemi. Mereka Kami rekrut dan kami latih untuk bekerja di tempat ini,” kata Fatah.

Bupati Ipuk mengatakan, saat ini di Banyuwangi terus bermunculan anak-anak muda kreatif yang mengembangkan berbagai jenis ekonomi kreatif di desa-desa.

“Anak-anak muda sekarang memiliki citra rasa tersendiri. Dalam setiap hal mereka ingin sesuatu yang berbeda, termasuk mengembangkan usaha,” kata Ipuk.

“Seperti yang dilakukan anak-anak desa Barurejo ini, sangat menginspirasi anak muda lain agar dapat memanfaatkan peluang yang berawal dari hobinya,” tambah Ipuk.

Itulah menurut Ipuk yang membuat Banyuwangi terus membuat agenda yang mendorong peningkatan kreativitas anak-anak muda. Seperti beberapa waktu lalu, Banyuwangi menggelar Moeslem Fashion Festival untuk mendorong desainer muda meningkatkan kreativitasya.

“Kami juga memiliki program Jagoan Tani, Jagoan Bisnis, dan Jagoan Digital yang menginkubasi anak-anak muda untuk mengembangkan sektor kreatif usaha bisnis dan pertanian. Serta banyak program-program Banyuwangi yang melibatkan anak-anak muda,” tambah Ipuk.

Bupati dan Ketua DPRD Banyuwangi Motivasi Dorong Kembangkan Ekonomi Kreatif

Saat Bupati dan Ketua DPRD Banyuwangi Motivasi Dorong Kembangkan Ekonomi Kreatif

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memotivasi para pemuda untuk menggalakkan ekonomi kreatif. Hal itu disampaikan Ipuk saat menghadiri dialog ‘Peran Pemuda dalam Peningkatan Ekonomi Kreatif di Era Transformasi Digital’ di Banyuwangi, Rabu (27/10/2021) lalu.

Ipuk mengatakan, berdasarkan data Sensus Penduduk Tahun 2020, sebanyak 53 persen atau sekitar 90 juta penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda. Dengan potensi ini, kemajuan sektor ekonomi kreatif di Indonesia sangatlah besar dengan generasi muda muda sebagai motornya.

“Generasi muda dengan segala semangat dan ide-idenya merupakan sumber daya produktif. Lewat kreasinya, anak-anak muda dapat memajukan negara ini dengan karya-karya kreatifnya di semua sektor,” kata Ipuk.

Dialog kepemudaan ini diikuti 100 anak muda yang terdiri dari mahasiswa, organisasi kepemudaan, organisasi pemuda lintas agama, dan pramuka. Mereka saling sharing sekaligus dibekali motivasi dan berbagai pengetahuan tentang kewirusahaan hingga digitilisasi usaha.

Narasumber yang dihadirkan sangat beragam, mulai politisi, praktisi IT, akademisi, hingga pelaku usaha. Di antaranya Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara; dosen UNAIR Banyuwangi, Arif Habib Fasya; praktisi keamanan Informasi Digital, Abang Suluh Husodo; dan pelaku pariwisata sekaligus pelaku usaha kuliner, John Eva.

Bupati Ipuk menambahkan ekonomi kreatif telah menjadi salah satu tumpuan pertumbuhan ekonomi di Banyuwangi. Dengan tumbuhnya pariwisata di Banyuwangi membuat ekonomi kreatif turut berkembang, sehingga memberikan nilai tambah terhadap pembangunan pariwisata itu sendiri.

”Saat ini telah banyak bermunculan anak-anak muda Banyuwangi mengembangkan ekonomi kreatif seperti fesyen, seni pertunjukan, kriya, kuliner, flm, dan musik. Dan terbukti, ekonomi kreatif di Banyuwangi turut menggenjot kinerja destinasi pariwisata,” kata Ipuk.

Ipuk menjelaskan Banyuwangi terus memfasilitasi berbagai ruang anak-anak muda Banyuwangi untuk mengembangkan ekonomi kreatif, dengan pendekatan digitalisasi sehingga pelaku ekonomi kreatif dapat kian mahir teknologi.

”Berbagai pelatihan ekonomi kreatif kami gelar dengan mendatangkan para mentor dan praktisi yang berpengalaman. Kami berikan pendampingan hingga usaha mereka berjalan,” kata bupati berusia 47 tahun itu.

Seperti program pelatihan kewirausahaan dengan pendekatan digital, seperti ‘Jagoan Bisnis’ dan ‘Jagoan Tani. Lebih dari 2.000 anak muda Banyuwangi tertarik mengikuti inkubasi dengan berbagai mentor berpengalaman.

“Kami juga mengembangkan berbagai event yang bukan sekedar atraksi, namun event ini kami buat untuk memacu kreativitas anak muda. Seperti event Banyuwangi Moslem Festival yang barusan kami helat untuk menampilkan karya desainer Banyuwangi. Kami akan terus memacu sektor-sektor kreatif agar terus tumbuh di Banyuwangi dan menciptakan peluang ekonomi,” kata Ipuk.

Sementara itu, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana sebagai salah satu narasumber juga turut menyuntikkan semangat bagi para peserta. “Untuk pemulihan ekonomi di masa pandemi, peran pemuda sangat dibutuhkan, utamanya kreativitas dan teknologi untuk mendorong ekonomi bergerak,” kata Made.

Made menambahkan, pemuda juga dapat berkreasi untuk memajukan daerahnya masing masing. Dengan bakat serta ketertarikan mereka, banyak yang bisa dilakukan untuk menggerakkan desanya.

“Di jaman global semacam ini, siapapun berpeluang asal bisa kreatif dan memamanfaatkan IT. Misalnya, yang ada di desa bisa sinergi dengan Bumdes dengan memanfaatkan digital untuk mempromosikan potensi desanya,” ujarnya.

Artikel Terkait