Nginang
Munggah mangke pegulingan arum/ Ni Seri Tanjung mangke/ kesunaran pandam rawit/ putera Pendhawa amuwus/ amucanga mirahingsun/ pun kakang anjaluk ganten/ mesem Ni Dewi Seri Tanjung/ anuli adhahar mucang/ asung ganten saking waja
Asung ganten saking wajanipun/ Sidapaksa mangke/ gupuh anemaring lathi/ nulei den aras sampun/ Ni Seri Tanjung lingnya muwus/ ingkang sabar kakang Raden/ anuli sira rinangkul/ kembene sampun binukak/ sang dyah manahe kumenyar
Telah naik ke peraduan/ Sri Tanjung kemudian/ disirami cahaya remang/ sang putra Pandawa berkata/ berkinanglah permata hatiku/ diriku juga ingin berkinang/ Sri Tanjung tersenyum/ segera ia mengunyah sirih/ berganti memberikan sirih dari giginya (mulutnya)
berganti memberi sirih dari giginya (mulutnya)/ Sidapaksa kemudian/ buru-buru menerimanya dengan mulut/ lalu diciuminya/ Sri Tanjung berujar/ jangan terburu-buru, kanda/ segera dipeluknya/ kain penutup dadanya diloloskan/ sang putri hatinya berbinar
(Lontar Sri Tanjung, I:73-74)
Potongan tembang dalam Lontar Sri Tanjung di atas menggambarkan skema hubungan romantis era beuhela. Tak seperti sekarang yang kerap diidentikkan dengan bunga mawar, cokelat, gala dinner atau bahkan wine. Romantisme Tempo Doeloe, sebagaimana terekam dalam sastra kuno tersebut, diidentikkan dengan laku menginang. Yakni, aktivitas mengunyah sirih dan beberapa campurannya.
Selain dalam Lontar Sri Tanjung, menginang sebagai ekspresi romantisme juga ditemukan dalam Sejarah Melayu. Ketika ada seorang perempuan Jawa yang jatuh cinta kepada Hang Tuah, diwujudkan dengan menawarkan sirih untuk menginang.
Naskah Sritanjung Banyuwangi Dalam Aksara Pegon Berusia 131 Tahun
Tak hanya dalam sastra, di kehidupan sehari-hari di Nusantara, kegiatan menyirih lekat dengan aktivitas yang berkaitan dengan seksualitas. Anthony Reid (2010) menengarai perpaduan antara sirih dan pinang dalam laku menginang, merepresentasikan sifat saling melengkapi dan keseimbangan.
Pinang dinilai unsur panas, sedangkan sirih melambangkan unsur dingin. Adapula yang mengenal sulur sirih yang panjang diasosiasikan sebagai simbol lelaki, sedangkan pinang yang bulat representasi perempuan.
Menginang atau biasa juga disebut nyirih atau nyuruh/ nginang (bahasa Jawa) memang telah dikenal di Asia Tenggara sejak lama. Di Vietnam sudah dikenal ritual nyirih sejak dua abad sebelum Masehi (B. Terwiel: 1980). Di Nusantara sendiri, penggunaan komoditas sirih dan pinang sebagai bahan baku kinang, juga telah ada sejak lama. Sejumlah catatan tersebut telah ditemukan sejak era Dinasti Tang (abad 7) di Tiongkok.
Seiring waktu, tradisi nyirih ini, menjadi trend di kalangan masyarakat luas. Ma Huan, seorang pelancong Tiongkok yang melakukan muhibah ke Jawa pada abad 15 (1433), mencatat tentang prilaku menginang tersebut:
“Pria dan wanita mengambil pinang, daun sirih, mencampurkannya dengan kapur sirih yang dibuat dari cangkang kerang; mulut mereka tidak pernah lepas dari campuran bahan ini… Saat mereka menerima tamu yang mampir, mereka menjamunya bukan dengan minuman teh namun dengan pinang.”
Jika merujuk pada disertasi Prijono (1936), catatan Ma Huan di atas, presisi dengan awal mula ditulisnya kisah Sri Tanjung – Sidapaksa yang diperkirakan bermula pada abad 15-16. Apa yang digambarkan pada tembang di awal tulisan ini, menggambarkan realitas di masanya.
Dewasa ini, tradisi menginang memang sudah tak lazim. Tinggal para perempuan sepuh yang masih ajeg dengan laku ini. Sedangkan lelaki tua sudah beralih ke tembakau. Akan tetapi, tradisi tersebut sebagai bentuk romantisme masih melekat dalam tutur kata. Dalam bahasa Aceh, misalnya, dikenal istilah ba ranub (memberi sirih) sebagai hadiah cinta, di Makasar juga ada kata Leko passiko’ (sebungkus daun sirih) untuk mengajukan lamaran.
Dalam bahasa Indonesia sendiri, kita mengenal kata “pinang”. Selain sebagai nama tumbuhan, pinang juga jadi homonim dari aktivitas melamar seseorang. Sebagaimana sebuah judul novel;
“Izinkan aku meminangmu dengan Bismillah.”
Penulis: Ayung Notonegoro (Founder Komunitas Pegon Banyuwangi)