Semerbak Aroma Gula Aren Desa Banjar Banyuwangi
Berada di ketinggian 0,5 kilometer di atas permukaan laut Gula Aren Desa Banjar Banyuwangi menjadi salah satu potensi besar wisata desa ini.
BanyuwangiNet-Memiliki empat dusun, Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, dipenuhi oleh pohon aren. Desa ini dikenal sebagai sentra penghasil gula aren terbesar di Banyuwangi.
“Industri gula aren di desa ini sudah turun temurun. Banyak ditemukan pembuat gula aren di desa ini,” kata Sunandi, Kepala Desa Banjar.
Sunadi menjelaskan produksi gula aren buatan warga dijual ke beberapa daerah. Produksi gula aren tersebar di Dusun Rembung, Krajan, Putuk, dan Salakan. Menurut Sunandi produsen gula aren di Desa Banjar mencapai 50 orang.
Unik! Pesantren di Banyuwangi Ini Ajarkan Santrinya Mocoan Lontar Yusup
“Produksi gula aren di desa ini rata-rata melanjutkan usaha orang tuanya secara turun temurun,” kata Sunadi.
Seperti Suroso. Pria berusia 57 tahun itu sejak remaja telah memproduksi gula aren. Dari orangtuanya dia mendapat ilmu merawat pohon aren, memanen nira, hingga membuat gula yang legit.
Hampir setiap hari Suroso berangkat untuk memanjat dan menyadap pohon aren dengan memasang bumbung. Bumbung dipasang menghadap ke ujung bunga pohon aren yang telah diiris. Setelah itu bunga meneteskan nira yang bahan baku gula aren. Setelah itu sore harinya bumbung yang bisa menampung hingga 3 liter siap untuk dipanen.
“Produksi gula aren tiga hari sekali. Setiap kali produksi bisa menghasilkan 20 potong gula aren,” katanya.
Gula itu dia cetak berbentuk tabung yang panjangnya masing-masing 15 sentimeter denngan diameter seukuran bambu. Tiap satu potong aren dijual seharga Rp 10.000. Dengan demikian pendapatan Suroso dari gula aren sekitar Rp 200.000 tiap kali produksi.
Apabila dulu warga terbiasa menjual gula aren dalam bentuk glondongan, kini mereka membuat aneka makanan dengan bahan utamanya gula aren, seperti cimplung sawi yang berbahan dasar ketela rebus.
Selain itu juga banyak warga yang menyajikan kopi bersama gula aren. Cara minumnya dengan menggigit gula aren dan menyimpannya dimulut, lalu kopi diseruput. Pertemuan antara gula aren dan kopi di dalam rongga mulut itulah yang menghasilkan sensasi yang unik. Warga menyebut minuman kopi dengan cara ini sebagai kopi uthek. Selain itu di desa ini nira juga bisa diminum langsung menjadi legen.
Sunandi menjelaskan dengan keindahan alam dan pohon-pohon aren menjadi destinasi wisata menarik saat dipadukan dengan kuliner yang dibuat warga. Kini Desa Banjar telah merintis destinasi wisata di desanya lewat aren.
“Bisa trip produksi gula aren. Mulai dari panen niranya hingga proses pembuatannya. Terakhir, dengan mencicipi kulinernya,” kata dia.