Pertemuan Hangat Ipuk dan Dewi Agustiningsih, Doktor Termuda dari Banyuwangi yang Kini Mengajar di ITB

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 5 Mei 2025, 18:21 WIB
IMG_20250508_142124

BanyuwangiNet.com— Pertemuan hangat terjadi di sela kegiatan Halalbihalal Ikawangi Bandung pada Minggu (4/5/2025), ketika Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bertatap muka dengan Dewi Agustiningsih.

Nama Dewi belakangan ini menjadi perbincangan karena prestasinya sebagai doktor termuda dan tercepat lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Perempuan asal Kelurahan Tukangkayu, Banyuwangi itu kini mengabdi sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Capaian Dewi menuai kekaguman banyak pihak, termasuk Bupati Ipuk. Ia berharap kisah Dewi dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di Banyuwangi.

Pantau Waduk Bajulmati, Bupati Ipuk Pastikan Pasokan Air untuk 1.800 Hektare Lahan Pertanian Selama Musim Kemarau

“Kami berharap, nanti Dewi bisa berbagi cerita, memberikan motivasi dan pengalamannya kepada anak-anak Banyuwangi lainnya,” ujar Ipuk.

Dewi adalah anak bungsu dari pasangan Suyanto dan Surahma. Sejak duduk di bangku SMPN 1 Banyuwangi, Dewi sudah dihadapkan pada tantangan. Ayahnya, seorang sopir honorer di Perhutani, harus pensiun karena usia.

“Sejak saat itu, saya harus masuk peringkat paralel tiga besar agar bisa mendapatkan beasiswa dan meringankan beban orangtua,” kenang Dewi, yang lahir pada 27 Agustus 1998.

Tekad itu ia bawa hingga jenjang berikutnya. Di SMAN 1 Glagah, Dewi tetap mempertahankan prestasi akademiknya. Ia kemudian diterima di UGM pada tahun 2016 melalui jalur beasiswa. Hebatnya, seluruh jenjang pendidikan tinggi dari S1 hingga S3 ia tempuh di UGM, semuanya melalui beasiswa.

Modus Tukar Uang, Dua WNA Diduga Asal Timur Tengah Curi Uang Minimarket di Banyuwangi

“Alhamdulillah, S1 sampai S3 saya di UGM semua lewat beasiswa,” katanya.

Dewi menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam bidang kimia hanya dalam waktu 2 tahun 6 bulan 13 hari—jauh lebih cepat dibanding rata-rata waktu tempuh 4 tahun 7 bulan. Usianya yang baru 26 tahun menjadikannya salah satu doktor termuda di Indonesia, mengingat rata-rata usia kelulusan doktor di Indonesia berada di kisaran 42 tahun.

Bahkan sebelum resmi diwisuda, Dewi sudah mendapat kepastian diterima sebagai dosen di ITB. Ia mengikuti sidang terbuka pada Oktober 2024 dan pada bulan berikutnya sudah mendapatkan keputusan pengangkatan.

Banyuwangi Didorong Jadi Magnet Investasi Jatim, Fokus Industri hingga Pertanian Organik

“Sebelum wisuda beberapa waktu lalu, saya sudah diterima sebagai dosen di ITB,” jelasnya.

Bagi Dewi, pencapaian ini adalah hasil dari niat yang kuat dan doa orangtua. Ia mengajak generasi muda untuk berani bermimpi besar.

“Jangan pernah takut bermimpi. Asalkan kita punya niat dan mengantongi doa orangtua, apa pun di dunia ini bisa kita taklukkan,” pesannya.

Sepekan Tidak Ditemukan, Pencarian Nelayan Penembak Ikan yang Hilang Resmi Dihentikan

Bupati Ipuk meyakini bahwa kisah Dewi adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukan halangan untuk meraih pendidikan tinggi. Pemkab Banyuwangi pun telah lama menggulirkan program “Banyuwangi Cerdas” yang menyasar anak-anak dari keluarga pra-sejahtera.

“Kami menyiapkan Program Banyuwangi Cerdas bagi anak-anak muda Banyuwangi agar mereka punya kesempatan kuliah,” terang Ipuk.

Program yang sudah berjalan sejak 2011 itu telah membantu lebih dari 3.900 anak muda Banyuwangi menyelesaikan pendidikan tinggi mereka. Banyak dari para penerima beasiswa kini menjadi lulusan berprestasi dan tulang punggung keluarga.

Artikel Terkait