Kebijakan Kurangi Plastik Bupati Banyuwangi, Hidupkan Kembali UMKM Kerajinan Bambu

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 3 Juni 2025, 14:46 WIB
KERAJINAN BAMBU - Warga Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi tengah membuat besek. Industri kerajinan berbahan bambu kembali bergairah.
KERAJINAN BAMBU - Warga Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi tengah membuat besek. Industri kerajinan berbahan bambu kembali bergairah.

BanyuwangiNet.com — Kebijakan pembatasan penggunaan kantong plastik sekali pakai yang diberlakukan oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, memberikan dampak positif terhadap pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di sektor kerajinan bambu.

Sal0ah satu kawasan yang merasakan manfaatnya adalah Lingkungan Papring, Desa/Kecamatan Kalipuro, yang sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu di Banyuwangi.

Lebih dari 80 Event Wisata di Banyuwangi Festival 2025, Gandrung Sewu hingga Tour de Ijen

Menurut tokoh masyarakat setempat, Widie Nurmahmudy, kebijakan tersebut telah mendorong peningkatan permintaan terhadap produk-produk anyaman bambu yang sebelumnya sempat meredup.

“Harus diakui, kebijakan Bupati Ipuk terkait pembatasan kantong plastik membuat kerajinan bambu di kampung kami bergairah kembali. Permintaan meningkat, terutama untuk menggantikan kantong plastik,” ujarnya.

Salah satu produk yang kini paling banyak dicari adalah besek—wadah berbentuk kotak dari anyaman bambu yang biasa digunakan untuk membungkus makanan. Menjelang perayaan Iduladha, permintaan terhadap besek meningkat tajam karena masyarakat mulai beralih dari kantong plastik ke kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Pemkab Banyuwangi Sebar Ratusan Burung Hantu, Jadi Senjata Alami Petani Lawan Hama Tikus

“Sebulan menjelang Iduladha seperti sekarang, warga bisa memproduksi antara 5.000 hingga 7.000 besek,” kata Widie.

Peningkatan permintaan juga memengaruhi harga. Jika sebelumnya harga besek cenderung seragam tanpa memperhatikan ukuran, kini harga disesuaikan dengan besar kecilnya produk.

“Kisaran harganya sekarang antara Rp2.500 hingga Rp3.000 per biji, tergantung ukurannya,” tambahnya.

Salah satu perajin setempat, Mairoh, mengaku bersyukur dengan meningkatnya permintaan pasar. Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan pembuatan hingga 50 besek.

Polisi Amankan Penjual Miras Ilegal saat Kopdar Klub Motor di Pantai Boom Banyuwangi

“Alhamdulillah, sehari bisa buat 30 sampai 50 besek. Itu pun sudah langsung ada pembelinya, jadi tidak bingung menjual,” tuturnya. Menurut Mairoh, harga jual yang lebih tinggi pada besek berukuran besar juga ikut menambah keuntungan mereka.

Papring sendiri memiliki sejarah panjang sebagai pusat kerajinan bambu. Nama “Papring” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “tempat pohon bambu” (panggonane pring).

Pada masa kejayaannya antara tahun 1960-an hingga 1990-an, sebagian besar warga di wilayah ini bekerja sebagai pengrajin bambu.

Motif Sakit Hati di Pembunuhan Remaja Banyuwangi, Pelaku Sempat Buang Senjata Tajam ke Sungai

Namun, sejak awal tahun 2000-an, industri bambu perlahan meredup akibat menurunnya permintaan pasar dan masuknya produk-produk berbahan plastik. “Dulu, sekitar 60-80 persen warga di sini adalah pengrajin bambu. Tapi setelah itu, tinggal sekitar 10 persen saja yang bertahan,” ujar Widie.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren penggunaan produk ramah lingkungan kembali mendorong kebangkitan kerajinan bambu di Papring. Kini, hampir seluruh keluarga di lingkungan tersebut kembali menekuni kerajinan bambu.

Bupati Ipuk Temui Jamaah Haji Banyuwangi di Makkah, Titip Doa untuk Kebaikan Daerah

“Sekarang sekitar 80 keluarga aktif memproduksi kerajinan bambu. Bahkan mereka makin kreatif, ada sekitar 20 jenis produk bambu yang dihasilkan,” jelas Widie.

Tak hanya besek, para perajin di Papring juga memproduksi berbagai produk lainnya seperti tas bambu, gedek (dinding dari anyaman bambu), capil (topi khas petani), dan beragam bentuk kerajinan bambu lainnya.

Artikel Terkait