Dari Sopir ke Juragan Buah: Kisah Pasangan Banyuwangi Suplai Jeruk hingga 4 Ton per Minggu

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 14 Juni 2025, 15:39 WIB
SORTIR JERUK - Seger Riyanto (54) dan Lilik Ekowijayanti (50) sibuk menyortir puluhan boks buah jeruk yang baru saja didapat dari para petani di rumahnya di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (12/6/2025). Kisah Seger menunjukkan kenaikan taraf ekonomi dari sopir menjadi juragan buah.
SORTIR JERUK - Seger Riyanto (54) dan Lilik Ekowijayanti (50) sibuk menyortir puluhan boks buah jeruk yang baru saja didapat dari para petani di rumahnya di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (12/6/2025). Kisah Seger menunjukkan kenaikan taraf ekonomi dari sopir menjadi juragan buah.

BanyuwangiNet.com – Di sebuah rumah sederhana di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, sepasang suami istri tampak sibuk menyortir puluhan boks buah jeruk. Seger Riyanto (54) dan Lilik Ekowijayanti (50) memastikan satu per satu buah jeruk siam yang baru saja mereka beli dari para petani memiliki kualitas terbaik—ukuran seragam dan tingkat kematangan ideal. Buah-buah itu segera diberangkatkan ke toko buah langganan mereka di Kabupaten Ponorogo.

Dalam seminggu, Seger mengirim buah dua kali dengan volume sekitar dua ton per pengiriman. Tak hanya jeruk, ia juga menyuplai buah naga dan pepaya. Semua dikirim langsung menggunakan mobil pikap miliknya.

Seblang Bakungan Banyuwangi, Tradisi Leluhur Berusia Ratusan Tahun yang Tetap Hidup di Tengah Modernitas

“Jadwal kirim saya seminggu dua kali. Sekali kirim sekitar dua ton. Bukan hanya jeruk, tapi juga buah naga dan pepaya,” jelas Seger.

Desa Bulurejo, tempat Seger tinggal, merupakan salah satu sentra produksi jeruk siam di Banyuwangi. Lebih dari 60 persen warganya menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Sebagian besar menanam tanaman hortikultura, khususnya jeruk siam. Melihat potensi itu, Seger memilih menjadi pengepul—membeli langsung dari petani untuk kemudian memasok ke toko-toko di luar kota.

Meski tak memiliki kebun sendiri, Seger kini dipandang setara juragan oleh para petani. Di lahan kosong samping rumahnya, puluhan boks buah rutin menumpuk sebelum diberangkatkan.

“Sekali kirim saya bisa menghasilkan antara Rp15 juta sampai Rp20 juta. Itu hasil kotor. Tujuannya hanya dua toko di Ponorogo,” katanya.

Banyuwangi Catat Surplus 159 Ribu Ton Beras, Dukung Program Swasembada Pangan Nasional

Jika dikalkulasikan, dengan dua kali pengiriman per pekan, penghasilan kotor Seger dalam sebulan bisa mencapai lebih dari Rp100 juta. Namun semua pencapaian itu tak diraih secara instan.

Seger memulai usahanya dengan keterbatasan modal. Bahkan kendaraan untuk mengirim buah pun awalnya ia sewa. Titik balik datang ketika istrinya, Lilik, mendapatkan pinjaman ultra mikro dari BTPN Syariah.

“Istri saya awalnya dapat pinjaman tanpa agunan Rp3 juta dari BTPN Syariah melalui program pemberdayaan,” ujarnya.

Dana tersebut digunakan sebagian untuk membeli buah, dan sebagian lagi untuk ongkos kirim. Jarak Banyuwangi–Ponorogo yang mencapai 450 kilometer tak menghalangi niat mereka. Pengalaman Seger sebagai sopir pengangkut buah sebelumnya justru membantu membuka jaringan pembeli di luar kota.

Kini, setelah dua tahun usaha berjalan stabil, Seger mampu membeli mobil pikap sendiri dari keuntungan bisnisnya.

Judi Online di Banyuwangi, Polisi Tangkap Enam Pelaku Termasuk Ayah Penyanyi Cilik Terkenal

“Alhamdulillah,” ucapnya singkat, penuh syukur.

Hingga kini, Seger dan Lilik masih mengandalkan program pinjaman ultra mikro sebagai tambahan modal. Jumlah pinjaman yang diterima Lilik pun meningkat setiap tahun. Pada 2024, limit pinjamannya mencapai Rp13 juta.

“Lumayan buat tambahan modal. Dari program pinjaman itu juga ada pelatihan-pelatihan yang sangat membantu,” kata Lilik.

Lilik tergabung dalam sebuah sentra—komunitas nasabah perempuan yang menjadi bagian dari program pemberdayaan BTPN Syariah. Mereka rutin berkumpul setiap dua minggu untuk mengikuti pelatihan, berbagi pengalaman, dan mendapat pendampingan dari bankir pemberdaya.

Prevalensi Stunting di Banyuwangi Turun Drastis

“Ada pertemuan rutin setiap dua minggu. Salah satu kegiatannya sharing untuk menambah dan berbagi ilmu,” lanjutnya.

Menurut Ainul Yaqin, Corporate and Marketing Communication Head BTPN Syariah, program ini menyasar perempuan pelaku usaha ultra mikro agar lebih mandiri secara ekonomi.

“Di Banyuwangi, kami memiliki 32 ribu nasabah seperti Bu Lilik yang tergabung dalam 3.011 sentra,” ujarnya.

Artikel Terkait