Prevalensi Stunting di Banyuwangi Turun Drastis

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 12 Juni 2025, 11:14 WIB
PENANGANAN STUNTING - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menemui balita di Banyuwangi beberapa waktu lalu. Pencegahan dan penanganan stunting di Banyuwangi dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir dengan melibatkan banyak pihak.
PENANGANAN STUNTING - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menemui balita di Banyuwangi beberapa waktu lalu. Pencegahan dan penanganan stunting di Banyuwangi dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir dengan melibatkan banyak pihak.

BanyuwangiNet.com – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan hingga hanya tersisa 2,44 persen pada tahun 2024. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi penanganan yang menyeluruh dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa penanganan stunting menjadi prioritas utama dalam pembangunan sektor kesehatan di daerahnya.

“Ini sejalan dengan komitmen kami agar tidak ada bayi baru lahir yang mengalami stunting. Dan jika sudah terdeteksi, harus segera tertangani,” ujar Ipuk.

Pengelolaan Sampah Sirkular Tarik Perhatian DPD RI, Banyuwangi akan Jadi Contoh NasionalPenanganan stunting di Banyuwangi tidak hanya dilakukan dari sisi medis. Pemerintah setempat mengambil pendekatan multisektor dengan menyasar akar masalah seperti lingkungan, pola asuh, hingga edukasi gizi sejak dini.

“Kami intervensi mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu melahirkan, hingga anak balita. Semua mendapat pendampingan kesehatan dan perbaikan gizi,” jelas Ipuk.

Pendekatan ini dilakukan secara kolaboratif oleh banyak elemen, seperti tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga tokoh masyarakat. Komitmen bersama inilah yang membuahkan hasil nyata dalam menekan angka stunting setiap tahunnya.

Pelaku Industri Wisata Indonesia–Malaysia Menjelajah Banyuwangi Travel Mart 2025, Ajang Kolaborasi dan Promosi Wisata

Tren penurunan angka stunting di Banyuwangi terlihat jelas dari data EPPBGM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat). Pada tahun 2021, prevalensi stunting berada di angka 8,64% (4.730 kasus). Angka ini menurun menjadi 3,95% pada 2022 (2.704 kasus), lalu turun lagi menjadi 3,53% pada 2023 (2.555 kasus), dan mencapai 2,44% pada 2024 (2.269 kasus).

Salah satu program andalan yang dinilai efektif adalah Banyuwangi Tanggap Stunting. Melalui program ini, pemerintah memberikan bantuan nutrisi kepada ibu hamil berisiko tinggi dan balita dari keluarga kurang mampu. Menariknya, pelaksanaannya turut melibatkan pedagang sayur keliling (mlijoan).

Meski Alami Penundaan, Rencana Kapal Cepat Banyuwangi–Denpasar Tetap Lanjut

“Kami edukasi pedagang sayur tentang ciri-ciri ibu hamil risiko tinggi dan balita stunting. Saat mereka bertemu warga yang dicurigai stunting, mereka bisa langsung menginformasikan kepada posyandu atau puskesmas,” ujar Ipuk.

Selain itu, ada program Hari Belanja Charity yang digelar setiap tanggal cantik—seperti 1 Januari (1/1), 2 Februari (2/2), dan seterusnya. Hasil pengumpulan dari program ini disalurkan kepada warga pra sejahtera, termasuk keluarga yang memiliki balita stunting dan ibu hamil berisiko.

70 Persen Koperasi Desa di Banyuwangi Berbadan Hukum, Siap Dukung Program Koperasi Merah Putih

Langkah preventif lain yang dilakukan Pemkab Banyuwangi adalah menggandeng Pengadilan Agama untuk mencegah perkawinan anak. Pemerintah juga membentuk Duta Pencegahan Perkawinan Anak di setiap SMP dan SMA, yang dibekali dengan pengetahuan mengenai dampak negatif pernikahan dini terhadap kesehatan dan masa depan anak.

“Kami ingin edukasi ini datang dari teman sebaya agar lebih efektif. Duta-duta ini menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah mereka,” tambah Ipuk.

Artikel Terkait