Bupati Ipuk Apresiasi Peran Bidan dalam Pencegahan Stunting dan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 8 September 2024, 20:20 WIB
IMG-20240908-WA0059

BanyuwangiNet.com – Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, memberikan apresiasi tinggi kepada para bidan atas peran mereka dalam menekan angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) serta pencegahan stunting di wilayah Banyuwangi. Pernyataan ini disampaikan Bupati Ipuk saat menghadiri Seminar Akselerasi Penurunan AKI/AKB dan Stunting melalui inovasi “Barak Pitu”, yang diadakan dalam rangka HUT Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-73 di Aula STIKES, Minggu (8/9/2024).

Seminar ini dihadiri oleh seribu bidan yang bertugas di Puskesmas, RSUD, rumah sakit, klinik swasta, serta bidan mandiri di seluruh Banyuwangi.

“Selamat kepada Ikatan Bidan Indonesia yang kini berusia 73 tahun. Kami sangat berterima kasih atas peran aktif IBI dalam upaya penurunan AKI/AKB dan stunting di Banyuwangi,” ujar Ipuk.

Berkat Angkutan Pelajar Gratis, Banyuwangi Raih Dua Penghargaan Dari Kementerian Perhubungan

Ipuk menekankan bahwa penanganan masalah AKI/AKB dan stunting bukan hanya soal kesehatan, tetapi berdampak jangka panjang pada pembangunan manusia dan ekonomi bangsa. Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui edukasi kepada remaja, calon pengantin, dan ibu hamil terkait pentingnya gizi dalam tumbuh kembang anak.

Selain itu, Ipuk menyebut bahwa penanganan stunting dan AKI/AKB di Banyuwangi melibatkan banyak pihak, termasuk dokter spesialis anak dan spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn).

Shrimp Festival, Cara Banyuwangi Dorong Pembudidayaan Udang Ramah Lingkungan

“Kami sangat mengapresiasi inovasi Barak Pitu dari IBI Banyuwangi. Bersama-sama, kita akan sinergis dalam menuntaskan masalah stunting dan AKI/AKB,” tambahnya.

Ketua IBI Banyuwangi, Yulianingsih, menjelaskan bahwa Banyuwangi memiliki 1.828 bidan yang siap berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting dan penurunan AKI/AKB. Salah satu inovasi yang telah dijalankan oleh IBI adalah program “Barak Pitu” yang berfokus pada penanganan kehamilan dengan risiko “tujuh terlalu” — terlalu muda, terlalu tua, terlalu lambat hamil, terlalu cepat hamil, terlalu kurus, terlalu gemuk, dan terlalu pendek.

“Kami telah sepakat untuk menggiatkan Barak Pitu dalam pelayanan kebidanan. Apabila ditemukan kasus, rujukan dini segera dilakukan untuk intervensi oleh rumah sakit dan dokter kandungan,” jelas Yulianingsih.

Seminar ini diharapkan dapat meningkatkan sinergi antara pemerintah daerah dan tenaga kesehatan dalam menurunkan angka kematian ibu, bayi, serta mencegah stunting di Banyuwangi.

Artikel Terkait