Berburu Batik Kuno Banyuwangi, Simbol Status dan Kebanggaan

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Jumat, 9 Juni 2023, 10:38 WIB
batik12

BanyuwangiNet.com – Batik kuno Banyuwangi merupakan simbol status dan kebanggaan bagi pemiliknya kala itu.

Pada masa lalu tak semua orang bisa memiliki batik karena harganya yang sangat mahal, satu lembar kain batik Banyuwangi setara dengan harga satu ekor sapi dewasa.

Dulu sentra pembuatan batik Banyuwangi terletak di daerah Temenggungan. Tapi pembelinya sebagian besar berasal dari Kenjo dan Kemiren

Daerah Kenjo dan Kemiren dikenal sebagai tempat tinggal para tuan tanah yang kaya. Awalnya, Kemiren merupakan bagian dari wilayah Kenjo. Nama “Kenjo” sendiri berasal dari Bahasa Jepang yang berarti lumbung padi.

Catat Tanggalnya, Ini Rangkaian Parade Budaya Banyuwangi Ethno Carnival 2023

Jejak batik kuno Banyuwangi bisa ditemukan di antaranya di Desa Kemiren dan Kenjo. Dulunya desa ini dikenal sebagai tempat tinggal para tuan tanah, sehingga bisa membeli batik.

Di Kemiren misalnya banyak warga yang mewarisi batik-batik berusia ratusan tahun dari generasi ke generasi, seperti koleksi batik milik Holilah, seorang warga Kemiren berusia 49 tahun. Ia memiliki puluhan batik warisan dari mertua dan generasi sebelumnya.

“Batik-batik ini telah diwariskan turun temurun dan hingga saat ini masih saya simpan,” kata Holilah.

Meskipun telah berusia ratusan tahun, warna batik tersebut tetap terjaga karena menggunakan pewarna alami.

Banyuwangi Kembali Menjadi Tujuan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia Dari Berbagai Negara

Proses pencucian batik pun dilakukan menggunakan daun klerek, bahan alami yang ramah lingkungan.

Batik-batik kuno Banyuwangi tersebut disimpan dalam toples kaca agar kualitas warnanya tetap terjaga. Warna-warna pada koleksi batik Holilah masih terlihat cerah dan bisa dipakai hingga saat ini.

Sucipto, suami Holilah, menceritakan bahwa batik-batik tersebut adalah pemberian dari kakeknya. Kakeknya meninggal pada usia 127 tahun dan batik-batik itu kemudian diturunkan kepada ayahnya, Zailan, yang meninggal pada usia 93 tahun. Sucipto sendiri tidak mengetahui dengan pasti berapa usia batik-batik tersebut, tetapi yang jelas batik-batik tersebut telah berusia ratusan tahun.

“Menurut cerita ayah saya, batik-batik ini dulu ditukar dengan satu ekor sapi,” kata Sucipto, seorang petani.

Di Kemiren, wilayah yang dihuni oleh suku Using, terdapat banyak motif batik asli Banyuwangi yang masih dipertahankan hingga saat ini. Beberapa di antaranya adalah Sembruk Cacing, Gajah Oling, Umah Tawon, Kopi Pecah, Gedheg’an, Gajah Mungkung, Paras Gempal, Srimpet, Wader Kesit, Kangkung Setingkes, Lakaran, Juwono, Gringsing, Garuda Mungkur, dan Sekar Jagad. Sucipto sendiri enggan menjual batik-batik tersebut dan berencana untuk mewariskannya kepada anak cucunya.

Batik Banyuwangi tidak hanya menjadi warisan budaya yang berharga, tetapi juga menunjukkan kekayaan seni dan keindahan yang terus diperjuangkan. Keberlanjutan penggunaan batik ini sebagai simbol status dan kebanggaan membawa harapan agar warisan budaya ini terus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Artikel Terkait