Banyuwangi Dipilih Jadi Tuan Rumah Bicara Film, Kemenekraf Dorong Lahirnya Sineas dan Cerita Lokal
BanyuwangiNet.com – Seratusan pelajar, komunitas film, dan konten kreator mengikuti ajang Bicara Film Banyuwangi yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Badan Ekraf). Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi para talenta kreatif untuk mengembangkan kemampuan menulis skenario, mengapresiasi film lokal, serta memperkuat ekosistem perfilman di Banyuwangi.
Kegiatan yang diselenggarakan Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenekraf/Badan Ekraf ini berlangsung di sebuah bioskop di Kota Banyuwangi, Jumat (30/10/2026). Peserta mengikuti masterclass penulisan skenario sekaligus menyaksikan pemutaran lima film pendek karya sineas Jawa Timur.
Direktur Film, Animasi, dan Video Kemenekraf/Badan Ekraf, Doni Setiawan, mengatakan Banyuwangi dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki perkembangan perfilman yang cukup baik. Bahkan, dari sisi sejarah, Banyuwangi telah memiliki bioskop sejak sebelum Indonesia merdeka.
“Dari sisi produksi, teman-teman Banyuwangi juga aktif memproduksi film-film pendek dan bahkan di kami ini ada satu anak magang nasional yang magang di Direktorat Film Animasi dan Video,” kata Doni.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman daerah agar semakin banyak melahirkan cerita dan karya baru yang berasal dari Banyuwangi.
Dalam masterclass tersebut, peserta mendapat materi dari dua praktisi perfilman, yakni produser sekaligus penulis skenario film Seni Merayu Tuhan, Salman Aristo, dan Rino Sarjono.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan definisi dan berbagai jenis adaptasi cerita dalam film, penerapan teknik adaptasi, hingga kerangka kerja (framework) dalam menerjemahkan sumber cerita menjadi narasi visual.
Peserta juga mengikuti latihan kelompok untuk mengembangkan premis berdasarkan pendekatan adaptasi yang telah dipelajari. Metode pembelajaran ini memadukan pemahaman konseptual dengan praktik langsung dalam proses penulisan skenario.
Doni berharap berbagai cerita, legenda, sejarah, hingga kekayaan alam dan pariwisata Banyuwangi dapat diangkat menjadi karya film yang mampu menjangkau penonton lebih luas.
“Sehingga orang bisa lebih tahu lagi tentang Banyuwangi. Tentu mendatangkan orang lagi ke sini dan kemudian juga menggerakkan ekonomi di Banyuwangi,” tegasnya.
Ia menambahkan, kekuatan sebuah film terletak pada kemampuan narasi membangun kedekatan emosional dengan penonton. Karena itu, pemahaman terhadap struktur cerita dan pendekatan kreatif menjadi bekal penting bagi para pembuat film.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka ruang pembelajaran bagi para talenta di daerah agar semakin memahami proses pengembangan cerita dan memiliki kapasitas untuk menghasilkan karya yang berkualitas,” jelas Doni.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Nafi Feridian, mengapresiasi penyelenggaraan Bicara Film Banyuwangi. Menurutnya, kegiatan ini membuka ruang bagi generasi muda dan komunitas kreatif untuk memahami proses produksi film sekaligus mengembangkan potensi cerita daerah.
Delegasi Bisnis Nigeria Jajaki Potensi Pertanian dan Investasi di Banyuwangi
Ia menilai Banyuwangi memiliki kekayaan tradisi, budaya rakyat, sejarah, bentang alam, hingga dinamika sosial yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi karya perfilman.
“Semua itu merupakan modal cerita dan narasi lokal yang luar biasa melimpah,” ujarnya.
Serahkan SK 14 Kepala SMP, Ipuk Minta Sekolah Banyuwangi Perkuat Pendidikan Karakter
Namun, menurut Nafi, mengubah kekayaan budaya menjadi naskah film yang kuat membutuhkan penguasaan teknik adaptasi dan penelusuran genre yang matang.
“Makanya acara ini penting sekali buat kita masyarakat Banyuwangi, dan semoga teman-teman yang ada di sana benar-benar mengikuti, benar-benar menyimak sehingga mendapatkan manfaat,” pungkasnya.