Ritual Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi 2026, Tradisi Syukur dan Doa Warga
BanyuwangiNet.com – Ritual adat Kebo-keboan Alasmalang kembali digelar di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (28/6/2026). Ribuan warga dan wisatawan memadati lokasi untuk menyaksikan tradisi turun-temurun yang menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa agar tanah tetap subur dan hasil pertanian melimpah.
Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-18 ini diawali dengan kenduri desa, yakni makan bersama menggunakan hidangan tumpeng dan sajian khas Banyuwangi, Pecel Pithik, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat.
Setelah kenduri, ritual dilanjutkan dengan prosesi ider bumi, yaitu arak-arakan mengelilingi desa melewati empat penjuru mata angin. Tokoh utama dalam prosesi ini bukanlah kerbau sungguhan, melainkan puluhan warga yang berdandan menyerupai kerbau.
Tubuh mereka dilumuri jelaga hingga berwarna hitam pekat, mengenakan tanduk di kepala, serta kerincing di tangan dan kaki. Perut mereka juga diikat menggunakan tali layaknya kerbau yang tengah membajak sawah.
Selama arak-arakan, para peserta memeragakan perilaku kerbau, mulai dari membajak sawah, berkubang di lumpur, hingga berguling-guling di sepanjang rute yang dilalui. Atraksi tersebut menjadi daya tarik utama yang selalu dinantikan masyarakat maupun wisatawan.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan tradisi Kebo-keboan merupakan bagian dari budaya masyarakat agraris yang masih terjaga hingga kini. Menurutnya, kelestarian ritual tersebut menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya leluhur.
“Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya dengan melaksanakannya secara turun-temurun. Saya sampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang, dan semua yang menjaga nyala tradisi tetap hidup,” kata Ipuk.
Ipuk menambahkan, Kebo-keboan tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang relevan hingga saat ini, seperti kerja keras, gotong royong, dan disiplin.
“Nilai ini sesuai dengan semangat Banyuwangi ‘tandang bareng’, kerja bersama, tumbuh bersama. Di mana semua capaian prestasi dan hasil kinerja Banyuwangi merupakan hasil gotong royong seluruh masyarakat,” ujarnya.
Tradisi Tumpeng Sewu Kemiren Banyuwangi Jadi Magnet Wisata dan Pelestarian Budaya Osing
Keunikan ritual Kebo-keboan juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya Tara, wisatawan asal Amerika Serikat, yang mengaku terkesan dengan prosesi adat tersebut.
“Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan,” ujarnya.
Sebelum menyaksikan ritual Kebo-keboan, Tara diketahui juga mengunjungi Gunung Ijen sebagai bagian dari perjalanan wisatanya di Banyuwangi.
Tradisi Keboan Aliyan Banyuwangi, Ritual Syukur yang Jadi Magnet Wisata Budaya
Pelaksanaan ritual adat ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Siti, pemilik warung di sekitar lokasi acara, mengaku penjualannya meningkat karena ramainya pengunjung.
“Mulai minuman, camilan, semuanya laris, Alhamdulillah,” katanya.
Tradisi Kebo-keboan Alasmalang diyakini telah ada sejak abad ke-18 Masehi. Ritual ini berawal dari kisah Buyut Karti, tokoh yang dipercaya memperoleh wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan menjelma sebagai kerbau. Sejak saat itu, tradisi terus dilestarikan secara turun-temurun sebagai simbol penghormatan terhadap alam sekaligus harapan akan kesuburan dan kesejahteraan masyarakat.