Ojek Sampan di Pantai Meneng Banyuwangi, Nadi Penghubung ABK Kapal Pencari Ikan

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 8 Januari 2026, 17:23 WIB
OJEK SAMPAN - Sunaryo di sampan bermotor miliknya di Pantai Meneng di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (8/1/2026). Ia adalah satu dari sekian pengojek sampan yang biasa mengantar para anak buah kapal.
OJEK SAMPAN - Sunaryo di sampan bermotor miliknya di Pantai Meneng di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (8/1/2026). Ia adalah satu dari sekian pengojek sampan yang biasa mengantar para anak buah kapal.

BanyuwangiNet.com – Langit mendung menyelimuti Pantai Meneng, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (8/1/2025). Di muara sungai, sebuah sampan bermesin tampak bersiap berangkat. Sunaryo (60) tengah menyiapkan perahunya untuk mengantar anak buah kapal (ABK) dari kapal besar yang bersandar di tengah perairan.

Di perairan Pantai Meneng, belasan kapal motor pencari ikan tampak berlabuh. Mayoritas kapal tersebut berasal dari Jawa Tengah dan singgah di Banyuwangi setelah berbulan-bulan berlayar mencari ikan. Pantai Meneng menjadi salah satu titik persinggahan penting sebelum mereka kembali melaut.

Kapal-kapal tersebut bersandar sekitar 200 meter dari garis pantai. Setiap kapal rata-rata membawa sekitar 20 ABK. Selama kapal berhenti, para ABK lebih banyak menghabiskan waktu di atas kapal.

“Kalau kelamaan di kapal, mereka bosan. Jadi biasanya minta antar-jemput ke daratan untuk belanja atau keperluan lain,” kata Sunaryo.

BMKG Peringatkan Gelombang Hingga 4 Meter di Perairan Selatan Banyuwangi

Kondisi inilah yang membuat jasa ojek sampan menjadi sangat dibutuhkan. Sunaryo menjadi salah satu pengojek sampan yang setiap hari mengantar puluhan ABK dari kapal menuju daratan, dan sebaliknya. Ia sudah lama mengenal para ABK tersebut, sebagian bahkan telah menjadi pelanggan tetap.

Ketika ABK ingin ke daratan, mereka akan menghubungi Sunaryo lewat telepon. Tak butuh waktu lama, ia langsung meluncur dengan sampannya. Jarak tempuh dari pantai ke kapal hanya sekitar lima menit.

“Satu kali antar tarifnya Rp 10 ribu per orang. Kalau pulang pergi jadi Rp 20 ribu,” ujarnya.

Libur Nataru, Banyuwangi Jadi Destinasi Favorit Penumpang Kereta Api

Dalam sehari, Sunaryo bisa mengantar puluhan ABK. Penghasilannya bervariasi, tergantung jumlah kapal yang sedang bersandar.

“Kalau sepi sekitar Rp 200 ribu per hari. Kalau ramai bisa sampai Rp 500 ribu,” tuturnya.

Saat kondisi ramai, ia bisa menghabiskan hingga tiga botol pertalite untuk operasional sampannya. Sunaryo biasanya mulai bekerja sejak pukul 05.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB.

Profesi ojek sampan telah dijalani Sunaryo selama puluhan tahun. Ia mulai mengantar ABK sejak usia 15 tahun dan belajar mengemudikan perahu dari ayahnya.

“Dulu masih SD sudah bisa bawa perahu,” ucapnya.

Sampan yang ia gunakan merupakan milik pribadi. Seluruh penghasilan keluarganya bergantung pada jasa antar-jemput ABK tersebut.

Selain Sunaryo, ada pula Fikri Firdaus Putra Handata (24), pengojek sampan lain yang telah menekuni profesi ini sejak usia 16 tahun. Ia tampak lincah mengemudikan sampan, menembus arus dari laut menuju muara maupun sebaliknya.

Kisah PPPK Abdurrahman Lari 52 Km Tunaikan Nazar, Ipuk: Cermin Dedikasi ASN

“Setiap hari pasti ada yang diantar jemput. Pekerjaan saya ya mengantar anak buah kapal ini,” kata Fikri.

Berbeda dengan Sunaryo, sampan yang dikemudikan Fikri bukan milik pribadi. Penghasilannya harus dibagi dengan pemilik perahu.

Di Pantai Meneng, terdapat sekitar delapan sampan yang aktif beroperasi untuk melayani antar-jemput ABK kapal. Masing-masing dikemudikan oleh orang berbeda dengan pelanggan tetapnya sendiri.

Menariknya, para pengojek sampan ini tidak melayani jasa antar pemancing.

“Kalau pemancing ada yang khusus mengantar. Saya hanya antar anak buah kapal saja,” ujar Fikri.

Di tengah aktivitas perikanan skala besar, ojek sampan menjadi mata rantai kecil namun vital yang menopang kehidupan ekonomi pesisir Banyuwangi.

Artikel Terkait