Banyuwangi Rutin Latih Warga Tanggap Bencana untuk Minimalkan Dampak Risiko Alam

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 9 Desember 2025, 13:08 WIB
Pelatihan tanggap bencana yang digelar dalam simulasi penanganan bencana Tagana Sapa Kampung (Tasmak) di Desa Tamansari, Kecamatan Licin dalam agenda Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), Senin (8/12/2025).
Pelatihan tanggap bencana yang digelar dalam simulasi penanganan bencana Tagana Sapa Kampung (Tasmak) di Desa Tamansari, Kecamatan Licin dalam agenda Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), Senin (8/12/2025).

BanyuwangiNet.com – Pemkab Banyuwangi terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana. Berbagai pelatihan rutin digelar agar warga memahami langkah-langkah yang harus dilakukan saat kondisi darurat terjadi, terutama pada musim hujan dan periode cuaca ekstrem.

Sebagai wilayah dengan bentang pegunungan serta berbatasan dengan laut lepas, Banyuwangi masuk kategori daerah rawan bencana. Risiko mulai dari tanah longsor, angin kencang, hingga kebakaran sering meningkat pada periode tertentu.

Upaya mitigasi dilakukan melalui pelatihan terpadu yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tagana, Dinas Sosial PPKB, hingga Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat). Program tersebut rutin digelar di desa-desa yang memiliki risiko bencana tinggi.

Kepala Daerah dan DPRD Asal Gerindra se-Jatim Bimtek di Banyuwangi, Sinkronkan Program Pusat dan Daerah

Salah satu kegiatan terbaru adalah simulasi penanganan bencana dalam program Tagana Sapa Kampung (Tasmak) di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, bertepatan dengan agenda Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) pada Senin (8/12/2025). Puluhan warga, mulai dari ibu-ibu, anak-anak, perangkat desa, PKK, hingga linmas mengikuti rangkaian latihan kebencanaan.

Pelatihan yang diberikan meliputi penanganan kebakaran, respons cepat saat angin puting beliung dan gempa bumi, mitigasi tanah longsor, hingga pembuatan dapur umum. Simulasi dilakukan secara langsung agar warga memahami praktik dasar penyelamatan diri.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya pelatihan tersebut.

Digulirkan Sejak 2021, Bunga Desa Banyuwangi Layanan Publik Jemput Bola dan Penguatan Potensi Desa

“Simulasi seperti ini penting agar masyarakat bisa tanggap ketika terjadi bencana. Sebagian besar wilayah Banyuwangi adalah rawan bencana, bukan hanya bencana alam, tapi juga kebakaran dan sejenisnya,” ujar Ipuk.

Ia menambahkan, Desa Tamansari yang terletak di lereng Ijen termasuk kawasan yang harus memiliki kesiapan ekstra.

“Kami latih tanggap bencana agar ketika terjadi sesuatu, warga sudah memiliki pengetahuan mitigasi yang baik,” imbuhnya.

Ipuk berharap, kemampuan warga dalam memberikan penanganan awal dapat mengurangi dampak bencana.

Digulirkan Sejak 2021, Bunga Desa Banyuwangi Layanan Publik Jemput Bola dan Penguatan Potensi Desa

“Ibu-ibu tadi sudah mencoba memadamkan api menggunakan kain basah. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, mereka diharapkan tidak panik dan bisa mengambil langkah yang tepat,” tuturnya.

Koordinator Tagana Banyuwangi, Dedy Utomo, menjelaskan bahwa edukasi ini bertujuan menciptakan kemandirian masyarakat dalam penanggulangan bencana.

“Ketika bencana terjadi, yang pertama tahu adalah lingkungan terdekat. Karena itu, kami ingin memberikan kemandirian dalam penanggulangan bencana,” kata Dedy.

Menurutnya, tim penanggulangan kabupaten membutuhkan waktu untuk tiba di lokasi saat kejadian berlangsung.

“Untuk memperpendek jeda waktu itu, kami siapkan masyarakat dan pemerintahan terdekat sebagai garda terdepan,” lanjutnya.

Sepanjang 2025, Tagana bersama sejumlah instansi telah melakukan pelatihan serupa di lebih dari 12 titik rawan bencana di Banyuwangi.

“Minimal kami menggelar sebulan sekali, dan bisa lebih jika bersamaan dengan agenda Bunga Desa,” ungkap Dedy.

Artikel Terkait