Rembuk Anak Banyuwangi, Suara Remaja Jadi Arah Kebijakan Ramah Anak

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 21 Juli 2025, 16:55 WIB
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar forum “Rembuk Anak”, Senin (21/7/2025). Kegiatan ini menjadi wadah untuk menjaring aspirasi anak-anak yang akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan daerah.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar forum “Rembuk Anak”, Senin (21/7/2025). Kegiatan ini menjadi wadah untuk menjaring aspirasi anak-anak yang akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan daerah.

BanyuwangiNet.com – Pemkab Banyuwangi kembali menyelenggarakan forum tahunan “Rembuk Anak”, Senin (21/7/2025).

Kegiatan yang digelar di pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) ini menjadi ruang terbuka bagi anak-anak dan remaja untuk menyampaikan aspirasi yang akan dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan daerah yang lebih inklusif dan ramah anak.

Ribuan Warga dan Wisatawan Padati CFD Banyuwangi, jadi Tempat Favorit Olahraga dan Kuliner Keluarga

Sebanyak 50 pelajar tingkat SMP dan SMA dari berbagai penjuru Banyuwangi hadir sebagai peserta. Mereka berasal dari beragam latar belakang, termasuk sekolah formal, homeschooling, anak yatim piatu, hingga anak berkebutuhan khusus (ABK). Forum ini dirancang untuk mendorong partisipasi aktif anak-anak dalam menyuarakan isu-isu yang mereka hadapi sehari-hari.

Dalam sesi diskusi, para peserta membahas enam topik utama yang relevan dengan kehidupan remaja saat ini: perundungan siber (cyberbullying), kekerasan terhadap anak, bullying di lingkungan sekolah, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan relasi dalam keluarga.

Pemerintah Pusat Tunjuk Banyuwangi Jadi Proyek Percontohan Digitalisasi Bansos Nasional

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan pentingnya peran anak-anak dalam pembangunan daerah. Menurutnya, forum ini bukan sekadar ajang diskusi, tetapi juga bentuk nyata pelibatan anak sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

“Rembuk Anak adalah ruang penting bagi anak-anak untuk menyampaikan gagasan, ide, dan keresahan mereka,” ujar Ipuk.
“Kalian tidak hanya memberi saran, tapi juga punya tanggung jawab saling mengingatkan sesama teman sebaya.”

Ipuk juga berharap agar peserta forum menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

MUI Banyuwangi Dukung Larangan Sound Horeg, Dorong Regulasi Konkret di Daerah

“Kalau dari 50 anak ini bergerak, Insya Allah anak-anak Banyuwangi di luar sana akan ikut semangat, punya tekad, dan mimpi tinggi untuk berpartisipasi membangun daerahnya,” tambahnya.

Salah satu ide menarik datang dari Jeanny Annisa Risqiah, siswi homeschooling dari PKBM Khodijah, Kecamatan Songgon. Ia bersama timnya mengusulkan pembentukan komunitas anti-cyberbullying yang dilengkapi aplikasi edukasi tentang media sosial serta ruang aman untuk para korban.

“Korban biasanya ingin identitasnya dilindungi, jadi penting ada komunitas yang mendampingi mereka,” tutur Jeanny.

Penutupan Jalur Gumitir, Pemkab Banyuwangi Siapkan Alternatif Tambah Pemberhentian KA dan Rute Bus

Jeanny juga mengungkapkan bahwa keikutsertaannya di forum ini memberinya banyak wawasan baru tentang beragam pengalaman hidup remaja lainnya.

“Saya ikut karena penasaran, ternyata di sini seru. Saya bisa bersosialisasi dan bertukar gagasan,” katanya.

Sementara itu, Ilham, siswa dari SMA Luar Biasa (LB) Banyuwangi yang memiliki keterbatasan penglihatan, menyampaikan usulan tentang pentingnya ketersediaan informasi dalam huruf braille di ruang-ruang publik.

“Kalau semua tempat ada informasi pakai braille, kami bisa tahu tentang bangunan-bangunan dan fasilitas di Banyuwangi,” ujarnya.

Program Makan Bergizi Gratis di Banyuwangi Kini Miliki 6 Dapur Umum, Jangkau Ribuan Pelajar

Ada pula masukan dari Kensi Permata Hati, pelajar SMAN 1 Wongsorejo, yang menyoroti pentingnya sosialisasi tentang pencegahan kekerasan terhadap anak dan pelecehan seksual secara lebih luas.

“Saya usul kegiatan sosialisasi seperti ini datang ke sekolah-sekolah,” katanya.

Kensi yang sudah kehilangan ayahnya sejak kecil dan membantu ibunya berjualan rujak, tetap memelihara cita-cita besar menjadi pramugari kereta api. Ia mengaku terinspirasi oleh diskusi dalam forum ini.

“Acara ini menyenangkan dan menginspirasi. Saya tergerak karena cerita soal kekerasan anak,” tambahnya.

Artikel Terkait