Tradisi Keboan Aliyan Banyuwangi, Warisan Budaya Osing yang Jadi Magnet Wisata

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 29 Juni 2025, 22:13 WIB
WhatsApp Image 2025-06-29 at 14.51.26
RITUAL BUDAYA- Ritual adat Keboan Aliyan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Minggu (29/6/2025). Tradisi sakral yang digelar setiap bulan Suro ini sudah menjadi menjadi magnet wisatawan setiap tahunnya.

BanyuwangiNet.com – Ribuan warga dan wisatawan memadati Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (29/6/2025), untuk menyaksikan pelaksanaan ritual adat Keboan Aliyan. Tradisi sakral yang digelar setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa ini merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Osing yang terus dilestarikan lintas generasi.

Meski sempat diguyur hujan, antusiasme masyarakat tak surut. Pengunjung tetap memadati sisi kanan dan kiri Lapangan Desa Aliyan, yang menjadi pusat prosesi ritual. Acara ini bukan sekadar tontonan, tetapi mengandung nilai-nilai spiritual, pertanian, serta kebersamaan sosial yang kuat.

Cekcok Rumah Tangga Berujung Tragis, Anak Tiri Tewas Dibunuh Ayah di Banyuwangi

Keboan Aliyan merupakan tradisi turun-temurun yang dijalankan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen, sekaligus doa agar musim tanam berikutnya diberkahi dengan hasil bumi yang melimpah. Dalam ritual ini, sejumlah warga yang telah mengalami kerasukan bertingkah layaknya kerbau—mereka menirukan aktivitas membajak sawah, berkubang di lumpur, hingga menabur benih padi. Para “kebo” ini bahkan membawa alat bajak kayu di punggung mereka sebagai simbol kerja keras petani.

“Tradisi ini sudah turun temurun sejak ratusan tahun. Sebagai bentuk ungkapan syukur kami atas hasil panen yang diberikan Allah SWT, sekaligus tolak balak dan memohon agar hasil panen berikutnya lebih melimpah,” ujar Kepala Desa Aliyan, Agus Robani Yusuf.

Rangkaian prosesi dimulai dengan selamatan desa dan ider bumi, yaitu ritual mengelilingi desa ke empat penjuru mata angin sebagai simbol penjagaan wilayah. Setelahnya, warga yang telah kerasukan mulai melakukan atraksi khas kerbau di area persawahan maupun jalan desa.

Syelhan Nur Rahmat Raih Emas di ITT Men Elite Kejurnas Balap Sepeda 2025 di Banyuwangi

Prosesi Keboan melibatkan dua kelompok warga dari dusun yang berbeda. Dari sisi timur kantor desa, terdapat rombongan dari Dusun Krajan, Cempokosari, Bolot, dan Temurejo. Sementara dari barat, hadir warga Dusun Sukodono dan Kedawung. Keduanya melakukan arak-arakan dan mempertontonkan atraksi di hadapan tamu dan wisatawan.

Tak hanya ritual, sejak Jumat (27/6/2025), Keboan Aliyan juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan pendukung seperti bazar UMKM, pentas seni tradisional, dan kuliner khas Banyuwangi. Hal ini menjadikan acara lebih semarak sekaligus memberi ruang promosi ekonomi kreatif lokal.

Kehadiran wisatawan mancanegara turut menambah semarak acara. Salah satunya adalah Aleksei, pengunjung asal Rusia yang datang bersama pasangannya.

Kabupaten Banyuwangi Jadi Tuan Rumah Dua Kejurnas Balap Sepeda 2025

“Ini pertama kalinya saya ke sini, diberitahu teman saya yang menyukai budaya Indonesia. (Ritual keboan) ini sangat menarik bagi saya. Budayanya berbeda dan saya suka cara warga menjaga tradisi selama ratusan tahun. Saya bangga bisa ke sini,” ujarnya.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, yang turut hadir menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Desa Aliyan yang telah menjaga dan melestarikan tradisi ini. Menurutnya, Keboan Aliyan tak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga potensi besar dalam mendongkrak sektor pariwisata.

“Tradisi seperti ini sangat penting untuk dilestarikan. Selain menjaga warisan budaya, juga bisa menjadi daya tarik wisata yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujar Mujiono.

 

Artikel Terkait