Dari Seni Arsitektur Sukarno hingga Pendopo Banyuwangi 1771

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Jumat, 1 Januari 2021, 18:10 WIB
Pendopo-Banyuwangi-6
Pendopo Banyuwangi

Jarang pendopo dikunjungi oleh orang yang hanya sekadar ingin lihat-lihat. Mayoritas orang ke pendopo karena punya urusan, bertemu bupati atau hanya ada acara.

Tapi searching saja di google: pendopo Banyuwangi. Memiliki nama lengkap pendopo Sabha Swagata Blambangan, bisa membuat Anda tertarik untuk main ke tempat itu.

Di situ sudah banyak artikel yang mengulas tentang pendopo yang dibangun di era kolonial Belanda, 1771 itu. Berikut foto-foto pendopo Banyuwangi sudah banyak diupload di internet.

Telah banyak kisah pendopo Banyuwangi yang disajikan. Mulai dari sejarah, renovasi, suasana, mitos, hingga kisah mistis yang ada di pendopo Banyuwangi.

Tinggal klik, pengetahuan Anda tentang pendopo Banyuwangi akan bertambah. Mungkin akan menarik minat Anda untuk berkunjung atau sekadar melepas rasa penasaran tentang pendopo Banyuwangi.

Pun demikian dengan saya. Tapi saya tertarik bukan karena membaca dari artikel tentang pendopo Banyuwangi di internet.

Tapi karena saya sudah ke pendopo Banyuwangi. Sama seperti orang luar pada umumnya, ke pendopo Banyuwangi karena urusan pekerjaan.

Saya ke Pendopo Banyuwangi tahun 2015. Malam itu, saya diundang ke Pendopo karena meliput International Tour de Banyuwangi Ijen. Ajang balap sepeda internasional yang rutin digelar tiap tahun oleh Pemkab Banyuwangi. Hanya saja tahun 2020 ditiadakan karena pandemi corona yang telah membuat banyak orang mengumpat.

Oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, kami diundang ke pendopo Banyuwangi. Saat itu saya hanya mengenakan kaus, celana pendek, dan memakain sendal.

Tapi Bupati Anas tidak mempermasalahkan itu. Dia juga menemui kami mengenakan sarung.

Kami ditemui Bupati Anas di gasebo halaman belakang pendopo Banyuwangi. Pisang goreng, buah lokal, dan kopi arabica khas Banyuwangi menjadi suguhan.

Tidak ada hal serius yang kami bicarakan. Tapi perhatian saya tertuju pada suasana pendopo Banyuwangi. Lain daripada yang lain.

Penerangan di pendopo menggunakan bola-bola lampu berukuran besar yang bergelantungan berwarna kuning. Di sudut halaman belakang terdapat sesuatu seperti tempat duduk (dingklik) kecil berwarna hijau. Saya mengira untuk tempat duduk. Tapi belakangan saya ketahui itu adalah sound atau pengeras suara.

Sound itu ditanam di rumput. Ketika ada acara di halaman belakang pendopo Banyuwangi, pandangan tidak terganggu oleh sound system.

Sejak 2015 itulah saya sering ke pendopo. Karena akhirnya saya ditempatkan di Banyuwangi oleh perusahaan tempat saya bekerja.

Berlalunya waktu, membuat saya banyak mengetahui cerita-cerita tentang pendopo Banyuwangi.

Pohon Pendopo Banyuwangi Menyimpan Cerita

 

Seperti pohon besar yang berada di halaman depan sisi kiri pendopo Banyuwangi. Dari cerita Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan, pohon yang setelah saya searching adalah pohon asam jawa itu, diambil langsung dari Taman Alas Purwo Banyuwangi.

Alas Purwo merupakan hutan yang dipercaya merupakan cikal bakal tanah Jawa. Hutan yang memiliki beragaman kisah mistis yang menarik untuk diikuti.

“Pohon itu diambil dan dibawa langsung dari Alas Purwo sekitar tahun 1970-an menggunakan truk, dan ditanam di pendopo Banyuwangi” kata Arief.

Arief saat itu masih muda. Masih menjadi tenaga harian lepas (THL) atau honorer di Dinas PU Banyuwangi. Kebetulan Arief terlibat dalam pemindahan pohon dari Alas Purwo ke pendopo Banyuwangi itu.

“Usia pohon di halaman depan pendopo Banyuwangi sudah ratusan tahun,” katanya.

Jejak Batik Banyuwangi, Kreasi Estektika dari Rakyat

Selain pohon asam jawa, juga ada pohon kepel yang saat ini sudah langka ditemukan. Pohon kepel ini banyak terdapat di halaman belakang pendopo Banyuwangi.

Menurut cerita, pohon ini merupakan hadiah dari Keraton Jogjakarta untuk pemerintah Kabupaten Banyuwangi kala itu, di awal abad ke-19. Pohon pemberian raja keraton Jogyakarta itu lantas ditanam di pendopo Banyuwangi.

Pohon-pohon di pendopo Banyuwangi mayoritas telah berusia tua. Karena dalam proses renovasinya, Anas mengintruksikan agar tidak ada pohon di pendopo Banyuwangi yang dibuang.

Sukarno dan Pendopo Banyuwangi

Pendopo Banyuwangi

 

Pendopo Banyuwangi dibangun saat kepemimpinan Tumenggung Wiroguno I atau Mas Alit yang merupakan bupati pertama Banyuwangi. Mas Alit pula bupati pertama yang tinggal di pendopo dan menjadikannya sebagai rumah dinas pada era kolonial pada 1771.

Pendopo Banyuwangi mengalami banyak renovasi. Di masa kepemimpinan Bupati Anas, pendopo Banyuwangi digarap dengan serius dan mengembalikan fungsinya.

Dulu kesan jorok disematkan pada Pendopo Banyuwangi. Pendopo Banyuwangi dulu pernah menjadi tempat memelihara ayam. Bahkan pendopo Banyuwangi sempat menjadi mess pemain Persewangi.

Di tangan Anas pendopo Banyuwangi menjadi ikonik, yang membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung. Dalam renovasi pendopo Banyuwangi Bupati Anas terinspirasi oleh Presiden Indonesia pertama, Sukarno.

Saat NU “Melawan” Pancasila

Dalam renovasi Anas memakai jasa arsitek. Adi Purnomo adalah arsitek ternama yang dipercaya merenovasi pendopo Banyuwangi.

 

Anas percaya arsitek tak boleh dilepaskan dari pembangunan. Menurut bupati yang memimpin Banyuwangi dua periode itu, Presiden Sukarno pernah menunda sidang kabinet, karena menunggu kedatangan arsitek.

Itulah yang membuat bangunan yang dibangun di era Presiden Sukarno tidak lekang oleh zaman. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Andri Setiawan di laman Historia, Sukarno juga merupakan seorang arsitek.

Dalam membangun negeri ini, Sukarno mengerti betul peran seorang arsitek. Sukarno pernah mengenyam pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, atau yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Karya Sukarno terlihat nyata dalam landmark kota Jakarta. Sebut saja patung Dirgantara, patung Selamat Datang, hingga monumen Pembebasan Irian Barat.

Monumen Nasional (Monas) juga yang diarsiteki oleh Sudarsono, juga merupakan gagasan dari Sukarno. Tidak hanya di Jakarta, Sukarno juga meninggalkan sejarah arsitektur di berbagai daerah.

Misalnya di relief kayu “Ruang Gembira” Hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Relief “Untung Rugi di Kaki Merapi” di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta dikerjakan oleh Harjadi S. Relief ruang VIP Bandara Kemayoran.

Mozaik porselen tari nusantara dalam Kubah Ramayana di Hotel Indonesia karya G Dharta. Peninggalan lainnya bisa ditelusuri di Bali, Ende, Kalimantan hingga Papua, dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya yang mendapat sentuhan arsitektur dari Sukarno.

Dari Presiden Sukarno itulah Anas terinspirasi. Di tiap pembangunan Banyuwangi Anas selalu merangkul arsitek. Tidak hanya saat merenovasi pendopo Banyuwangi, bangunan lainnya seperti Bandara Banyuwangi, Rumah Djuang, Taman Sri Tanjung, Taman Blambangan, Taman Makam Pahlawan, dan lainnya tak lepas dari sentuhan arsitek.

Contohnya seperti bangunan Pendopo dan Taman Blambangan dirancang Adi Purnomo. Adapun Andra Matin adalah arsitek dari Bandara Banyuwangi, Terminal Pariwisata Terpadu, dan RTH Taman Sayuwiwit. Yori Antar mendesain ruang terbuka hijau Kedayunan dan rest area di Ijen. Sedangkan Budi Prodono mendesain Stadion Diponegoro dan Lapangan Atletik GOR Tawangalun.

Jadi silahkan berkunjung ke Pendopo Banyuwangi!

Artikel Terkait