Bikin Peternakan Ayam Petelur: Strategi Desa Watukebo Banyuwangi Atasi Kemiskinan dan Stunting

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 7 Mei 2025, 13:46 WIB
Resizer_17468815585501

BanyuwangiNet.com – Pemerintah Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, memanfaatkan Dana Desa untuk mengembangkan peternakan ayam petelur sebagai solusi terpadu memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi angka kemiskinan di wilayahnya.

Program yang berjalan sejak pertengahan 2024 ini tak hanya berfokus pada produksi telur, tapi juga menjadikannya sebagai bantuan gizi bagi kelompok rentan seperti warga miskin, lansia, ibu hamil, dan balita stunting.

Inisiatif ini menjadi salah satu contoh konkret pemanfaatan Dana Desa yang berorientasi pada dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Peternakan tersebut kini telah mempekerjakan warga dan secara rutin menyalurkan telur hasil produksi sebagai bagian dari program bantuan pangan bergizi.

Tim Gabungan Tarik Produk Mengandung Babi Bersertifikat Halal di Banyuwangi

“Ini merupakan salah satu contoh efektif pemanfaatan Dana Desa. Selain memperkuat ketahanan pangan, juga mampu menjadi sarana pengentasan kemiskinan,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Ipuk menambahkan, program ini selaras dengan visi ketahanan pangan nasional yang tengah digencarkan oleh pemerintah pusat.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo, kita harus memastikan semua keluarga bisa mengakses pangan yang cukup dan bergizi. Semoga program seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya,” imbuhnya.

Makin Tak Biasa, Petugas Damkar Banyuwangi Bantu Warga Lepas Regulator Gas Elpiji yang Macet
Kepala Desa Watukebo, Maimun Hariyono, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari semangat menciptakan kegiatan ekonomi produktif yang bisa langsung dirasakan masyarakat. Dana Desa yang dialokasikan sebesar 20 persen atau sekitar Rp 263 juta digunakan untuk membangun kandang, membeli bibit ayam petelur, dan menyediakan pakan.

“Kami membangun kandang dengan kapasitas ribuan ayam, lalu membeli bibit dan pakan. Semua proses dipantau oleh tenaga ahli untuk memastikan keberhasilan budidaya,” jelas Hariyono.

Dalam pelaksanaannya, Pemdes melibatkan kelompok peternak lokal dan warga sekitar agar tercipta pemberdayaan serta transfer pengetahuan. Meski saat ini baru delapan orang yang terlibat langsung, sistem kandang yang sudah semi-modern memungkinkan proses budidaya dilakukan lebih efisien.

Saat ini, sebanyak 1.000 ayam petelur dikelola dalam kandang tersebut dengan tingkat produktivitas mencapai 85 persen, atau sekitar 850 butir telur per hari. Hasil panen sebagian besar dialokasikan untuk mendukung program ketahanan pangan desa.

Setiap bulannya, sekitar 4.000 hingga 5.000 butir telur dibagikan kepada warga yang tergolong kelompok rentan. Pembagiannya dilakukan melalui kader posyandu dan menyasar langsung ibu hamil, balita stunting, lansia, hingga warga miskin.

“Masing-masing penerima mendapatkan 10 butir telur per bulan. Pembagian dilakukan oleh kader saat kegiatan posyandu,” terang Hariyono.

Tak hanya untuk program gizi rutin, hasil telur juga dibagikan dalam berbagai kegiatan sosial desa, seperti pengajian, peringatan hari besar Islam, hingga saat warga meninggal dunia.

“Saat ada kegiatan besar atau warga yang berduka, biasanya kami juga menyumbangkan telur untuk acara pengajian di rumah warga,” tambahnya.

Pertemuan Hangat Ipuk dan Dewi Agustiningsih, Doktor Termuda dari Banyuwangi yang Kini Mengajar di ITB
Program yang telah berjalan hampir satu tahun ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data desa, angka balita stunting berhasil ditekan dari 57 anak pada 2023 menjadi 37 anak pada 2024.

Merespons hasil positif tersebut, Pemdes Watukebo kembali menganggarkan Dana Desa sebesar Rp 344 juta untuk tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas kandang dan menambah 1.500 bibit ayam petelur.

“InsyaAllah akan kami realisasikan segera setelah Dana Desa cair. Targetnya agar cakupan bantuan pangan dan skala produksi bisa meningkat,” tutup Hariyono.

 

Artikel Terkait