Warga Binaan Lapas Banyuwangi Tulis Al-Qur’an Raksasa, Perpaduan Seni dan Pembinaan Spiritual

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 17 Maret 2025, 17:19 WIB
Warga binaan Lapas Banyuwangi menulis ayat suci untuk membuat Al-Qur'an berukuran besar, Senin (17/3/2025). Harapannya, kitab suci itu bisa rampung enam bulan pengerjaan.
Warga binaan Lapas Banyuwangi menulis ayat suci untuk membuat Al-Qur'an berukuran besar, Senin (17/3/2025). Harapannya, kitab suci itu bisa rampung enam bulan pengerjaan.

BanyuwangiNet.com – Tiga warga binaan Lapas Kelas IIA Banyuwangi tengah mengerjakan proyek penulisan Al-Qur’an berukuran raksasa. Proses ini dilakukan secara manual sejak dua pekan terakhir dengan ketelitian tinggi.

Mereka menulis ayat-ayat suci di atas lembaran kertas berukuran 96,5 cm x 70,3 cm yang didatangkan dari Malang. Diperkirakan, penyelesaian proyek ini membutuhkan waktu sekitar enam bulan.

Istri Gus Dur Serukan Solidaritas Kebangsaan dalam Buka Bersama di Banyuwangi

Sebelum terlibat dalam proyek ini, para warga binaan menjalani seleksi ketat untuk memastikan kemampuan menulis aksara Arab dengan baik. Dari belasan peserta, tiga orang terpilih sebagai yang paling mumpuni. Mereka kemudian mendapat pelatihan khusus dari perajin kaligrafi di Banyuwangi. Tiga instruktur kaligrafi aktif memberikan bimbingan mengenai teknik menulis, pemahaman makna ayat, serta estetika seni Islami.

“Setelah melalui pelatihan, mereka mulai menulis Al-Qur’an setiap hari, terutama pada sore hari menjelang berbuka puasa,” ujar Kepala Lapas Banyuwangi, Mochamad Mukaffi, Senin (17/3/2025).

Mukaffi menjelaskan bahwa program ini bertujuan sebagai bentuk pembinaan positif bagi warga binaan. Selain mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat, pelatihan ini juga bertujuan meningkatkan keterampilan dan spiritualitas mereka.

Pemancing Hilang Diterjang Ombak di Pantai Sukamade Banyuwangi

“Ke depannya, kami akan melibatkan lebih banyak warga binaan dalam program penulisan Al-Qur’an dan pelatihan kaligrafi ini,” tambahnya. Ia berharap kegiatan ini dapat menunjukkan bahwa lapas tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan, tetapi juga wadah bagi pengembangan potensi dan kreativitas para warga binaan.

Salah satu peserta, M. Hanafi, mengaku awalnya tidak memiliki keterampilan khusus dalam menulis aksara Arab. Namun, setelah mendapatkan pelatihan di lapas, ia mulai menguasai teknik kaligrafi.

Misteri Kematian Warga Bali di Banyuwangi, Jasadnya Dikembalikan, Dugaan Pembunuhan Makin Kuat

“Dulu saya hanya menyukai seni, tetapi di sini saya belajar lebih banyak,” ujarnya.

Dalam sehari, Hanafi dan dua rekannya dapat menyelesaikan tiga lembar ayat suci. Dengan konsistensi ini, mereka optimistis dapat menyelesaikan proyek dalam enam bulan sesuai target yang telah ditetapkan.

“Sudah berjalan dua minggu. Kami berusaha semaksimal mungkin agar selesai tepat waktu,” katanya.

Artikel Terkait