Gandrung: Simbol Sejarah, Mistis, dan Identitas Budaya Banyuwangi

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 22 Oktober 2024, 10:02 WIB
IMG-20241023-WA0016

BanyuwangiNet.com – Gandrung Banyuwangi, kesenian tradisional yang kini menjadi ikon budaya Banyuwangi, memiliki sejarah panjang yang sarat nilai mistis, perjuangan, dan transformasi. Dimulai sebagai simbol perlawanan dan ritual, tari gandrung kini bertransformasi menjadi pertunjukan megah yang dikemas modern, namun tetap kental dengan nilai-nilai khas suku Osing.

Tarian ini awalnya dimainkan oleh penari laki-laki, salah satunya terkenal dengan nama Gandrung Marsan. Menurut Budayawan Banyuwangi, Aekanu Hariyono, Gandrung Marsan dikenal sebagai pejuang yang menyusuri kampung-kampung untuk menyampaikan pesan perlawanan kepada penjajah Belanda. Literatur yang mencatat sejarah ini juga termuat dalam artikel “Gandroeng van Banjoewangie” karya John Scholte pada 1927.

Pada sekitar 1890-an, gandrung mengalami peralihan menjadi tarian yang dibawakan oleh perempuan, dikenal dengan sebutan Gandrung Semi. Tarian ini tidak hanya sebagai hiburan, namun juga diyakini memiliki kekuatan penyembuhan melalui musik dan herbal yang digunakan oleh para penari.

Plt. Bupati Banyuwangi Ajak Santri Raih Masa Depan Lewat Pendidikan

Aekanu menyebut, struktur tari gandrung sangat dipengaruhi oleh seblang, jenis kesenian ritual lain yang juga populer di Banyuwangi. Seblang diidentikkan dengan ritual tolak bala, sedangkan gandrung, meskipun gerakannya melankolis, masih menyimpan unsur doa dan ritual di dalam setiap tarian. Gandrung terop, versi modern dari tari gandrung, bahkan menghadirkan pakem seperti topengan, jejer, repen, paju, hingga seblang subuh sebagai penutup pentas yang berlangsung hingga fajar.

Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Blambangan, menyebutkan bahwa Gandrung terop memiliki nilai lebih daripada sekadar hiburan malam. “Bagi para tokoh di Banyuwangi, gandrung adalah kesenian yang sarat dengan histori dan kepahlawanan,” ungkapnya dalam artikel “Gandrung dan Identitas Daerah.”

Banyuwangi Gelar Operasi Katarak Gratis, 300 Pasien Ditargetkan Jalani Operasi

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah melakukan berbagai upaya pelestarian gandrung, di antaranya melalui Festival Gandrung Sewu yang diadakan sejak 2012. Festival tahunan ini menarik perhatian wisatawan dengan lebih dari seribu penari gandrung yang tampil di tepi pantai. Event ini pun kini tercatat dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pelestarian tari gandrung juga dilengkapi dengan tradisi Meras Gandrung, semacam wisuda bagi para penari profesional yang telah siap berkiprah. Novi Anoegrajekti, seorang akademisi yang fokus pada penelitian gandrung Banyuwangi, menyebut bahwa sosialisasi tari gandrung secara reguler telah dilakukan sejak periode 2002-2023.

Dengan berbagai upaya pelestarian ini, Gandrung Banyuwangi kini tak hanya sekadar hiburan, tetapi menjadi jati diri masyarakat Osing yang terus hidup, memperkaya kebudayaan lokal dan memperkuat identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Artikel Terkait