Keliling Datangi Anak Putus Sekolah, Bupati Ipuk: Tak Ada Alasan untuk Tidak Sekolah

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 1 April 2023, 20:18 WIB
IMG_5461

BanyuwangiNet.com – Pengentasan anak putus sekolah, menjadi salah satu fokus Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Bupati perempuan itu mendatangi anak yang rentan maupun putus sekolah, untuk kembali mengenyam pendidikan formal.

Seperti Ipuk mendangi rumah keluarga di Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan. Di rumah berukuran sekitar 3×6 tersebut tinggal anak yang putus sekolah, yakni MA. Anak berusia 16 tahun itu putus sekolah saat kelas 7 SMP.

Dia tinggal bersama paman dan bibinya di rumah berdinding triplek tersebut. Sementara kedua orang tua kandungnya telah bercerai, dan telah memiliki kehidupan masing-masing. Di rumah tersebut selain paman dan bibi, juga terdapat dua adik sepupu MA.

Ipuk datang bersama Camat Genteng, Satrio; Kepala Desa Genteng Wetan, M Syukri, dan Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Banyuwangi, Alfian.

“Kenapa tidak sekolah? Sekolahnya kan gratis. Ayo cerita kalau ada masalah, biar bisa dibantu,” kata Ipuk pada orang tua dan anak-anak tersebut.

“Karena biaya Bu. Sekolahnya juga jauh, saya mau sekolah lagi,” kata MA pada Ipuk.

Bupati Ipuk Gelontor Beasiswa Garda Ampuh Banyuwangi

MA memiliki adik kandung, SA (11) dan tinggal bersama neneknya yang tak jauh dari rumah itu. SA juga sempat putus sekolah saat kelas 5 SD, namun kini telah kembali sekolah.

Mendengar cerita mereka, Ipuk meminta kepada camat, kepala desa, dan Dinas Pendidikan, untuk melakukan pendampingan dan memastikan mereka kembali sekolah. Untuk MA akan dimasukkan ke Pelatihan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar cepat lulus dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Nanti dikasih sepeda untuk berangkat sekolah. Dikasih juga bantuan uang saku,” kata Ipuk.

Momen Ramadan Bupati Ipuk Keliling Jenguk Lansia Sakit

Ipuk juga meminta keluarga tersebut mendapat bantuan dari program Program Keluarga Harapan (PKH) dan program bantuan peningkatan ekonomi lainnya.

Sebelumnya, Ipuk juga mendatangi siswa SMP yang rentan putus sekolah, GRP, di Desa Genteng Kulon. Dia hanya tinggal bersama ibunya di rumah kontrakan. Tiap hari ibunya sibuk bekerja, sebagai pembuat kue. Sudah sekitar satu minggu GRP tidak sekolah. Saat ditanya anak tersebut menjawab enteng, ngantuk dan malas.

“Ibumu sudah bekerja keras membanting tulang untuk kebutuhan kamu. Masak kamu tidak kasihan sama ibumu. Sekolahnya juga dekat dari rumah,” kata Ipuk, yang membuat ibunda GPR meneteskan air mata.

Ipuk lantas meminta kepada kepala sekolah dan guru untuk lebih proaktif. Berikan semangat dan motivasi agar anak rajin sekolah.

Sendratari Meras Gandrung Banyuwangi, Upaya Hidupkan Ekosistem Seni Budaya

Ipuk mengatakan tidak selalu masalah biaya sekolah yang membuat anak putus sekolah. Terkadang faktor keluarga dan lingkungan juga mempengaruhi anak menjadi rentan bahkan putus sekolah.

“Sekolah itu gratis. Di Banyuwangi juga ada banyak program untuk pendidikan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak sekolah,” jelas Ipuk.

Pemkab Banyuwangi menggelontor anggaran pendidikan cukup besar. Antara lain program-program bantuan pendidikan serta Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah).

Beasiswa dan beragam bantuan pendidikan juga terus dikucurkan, mulai dari beasiswa kuliah, uang saku dan bantuan transportasi tiap hari untuk pelajar, hingga bantuan biaya hidup untuk pelajar rentan putus sekolah.

Untuk program uang saku, di mana pelajar SD mendapatkan Rp10.000 per hari, SMP Rp15.000 per hari, dan SMA Rp20.000 per hari.

Demikian pula bantuan uang transportasi, para pelajar SD mendapatkan Rp10.000 per hari, SMP Rp15.000 per hari, dan SMA Rp20.000 per hari.

“Untuk 2023, pemkab menganggarkan hibah pendidikan sebesar Rp. 13 miliar lebih,” tegas Ipuk.

Adapun rincian penggunaannya antara lain, untuk beasiswa insidental sebesar Rp. 972 juta; beasiswa bidik misi Rp. 4,43 miliar; Garda Ampuh Rp. 2,34 miliar; Biaya Hidup Rp. 2,016 miliar; uang saku Rp. 2,38 miliar; serta uang transport Rp. 771 juta.

Artikel Terkait