Perkenalkan “Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi”, Kartu Nama dari Limbah Pertanian dengan Fitur Augmented Reality

Di Banyuwangi terdapat kelompok yang membuat kertas dari limbah. Salah satu produknya adalah “Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi”, kartu nama dari limbah pertanian yang dilengkapi dengan fitur augmented reality.
BanyuwangiNet-Kartu nama merupakan salah satu aksesoris yang dibutuhkan untuk meningkatkan performa bisnis. Biasanya terbuat dari kertas berisi profil diri dan perusahaan yang menjadi simbol profesionalisme.
Kartu nama digunakan untuk dibagi-bagikan pada rekan kerja, konsumen, atau partner bisnis. Di Banyuwangi terdapat komunitas yang fokus pada kepedulian lingkungan, dengan membuat kartu nama dari bahan limbah pertanian.
Kelompok ini bernama “Sang Paper Glenmore”, berasal dari Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang digawangi oleh seorang dokter spesialis bedah tulang, dr. Ananta Naufak Habibi, Sp.OT.

Salah satu produk dari Sang Paper ini adalah Padyang Smart Card Glenmore Banyuwangi, kartu nama yang terdapat barcode dan terkoneksi dengan halaman media sosial sang pemilik kartu.
Tidak hanya itu, Padyang Smart Card ini juga dilengkapi dengan fitur augmented reality yang membuat kartu nama tersebut terlihat lebih interaktif saat discan.
UMKM Bangkit, Pembuat Spunbond Banyuwangi Bisa Jual 10 Ribu Tas Tiap Bulan
“Cukup scan kartu nama dengan smartphone, akan langsung terhubung dengan profil media sosial Anda. Tampilannya juga lebih interaktif karena kartu ini dilengkapi dengan fitur augmented reality,” kata dr. Ananta.
Dokter yang praktik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan tersebut mengatakan, ide pembuatan kartu nama ini untuk mengurangi konsumsi kertas di Indonesia yang dibilang masih sangat tinggi.

Menurut dr. Ananta untuk membuat 1 rim berisi 500 lembar kertas dibutuhkan satu pohon berusia 5 sampai 10 tahun. Tingkat konsumsi kertas di Indonesia juga masih sangat tinggi, per-orang sekitar 27 kg/tahun, atau mencapai sekitar 13 pohon per orang dalam setahun. “Memakai kertas sama saja dengan menebang pohon,” kata dr. Ananta.
Durian Garden Songgon Banyuwangi: Mensejahterakan Petani, Membawa Durian Lokal Naik Kelas
Dari situlah dr. Ananta membuat Sang Paper Glenmore, yang memproduksi kertas dari limbah pertanian yakni batang pohon pisang dan padi yang sudah dipanen.
“Biasanya batang pohon pisang dibiarkan membusuk, sementara batang padi dibakar. Kami mengolah limbah pertanian itu menjadi kertas dan dibuat kartu nama,” jelas dr. Ananta.
Kartu nama tersebut dia beri nama Padyang (Pari lan Gedyang) Smart Card. Dalam bahasa Banyuwangi pari adalah padi, sementara gedyang merujuk pada pisang.
dr. Ananta menjelaskan pembuatan kertas ini ramah lingkungan. Limbah padi dan pisang tersebut difermentasi menggunakan air hujan.

“Proses panennya kami gunakan sistem rain harvesting, dan kami lakukan delifnifikasi dengan pemanasan menggunakan solar panel (pembangkit listrik tenaga surya),” jelasnya.
“Proses produksinya menggunakan prinsip zero waste. Di mana sisa kertas yang tidak dipakai kami lebur kembali menjadi kertas yang baru,” tambahnya.
Keunggulan Padyang Smart Card lainnya juga bisa ditanam karena di dalamnya berisi benih. Jadi apabila kartu nama tersebut tidak terpakai atau sudah usang bisa ditanam, sehingga tidak menambah limbah pada lingkungan.
“Padyang Smart Card ini juga bisa ditanam karena di dalamnya berisi benih. Jadi tidak hanya memberikan business card, tapi juga sebuah kehidupan. Kami juga mengajak anak-anak muda Banyuwangi untuk, untuk terlibat menjaga dan melestarikan lingkungan bersama Sang Paper,” kata dr. Ananta.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sangat mengapresiasi apa yang dilakukan dr. Ananta bersama komunitasnya. Menurut Ipuk kepedulian menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak orang.
“Sangat menarik dan luar biasa apa yang dilakukan dr. Ananta. Tidak hanya menjaga lingkunga, namun juga memberikan inspirasi dan ide kreatif pada kita semua. Saya berharap banyak dr. Ananta lainnya di Banyuwangi,” kata Ipuk.
“Karena menjaga lingkungan adalah tugas kita bersama. Menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan sendirian, tapi membutuhkan banyak pihak,” tambah Ipuk.