Berbagai Inovasi Pelajar Hasil Program Merdeka Belajar Banyuwangi 2022

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 17 Mei 2022, 15:00 WIB
WhatsApp-Image-2022-05-17-at-14.52.28-1
Berbagai Inovasi Pelajar Hasil Program Merdeka Belajar Banyuwangi 2022

BanyuwangiNet–Antusias dalam program Merdeka Belajar, sekolah-sekolah di Banyuwangi pamerkan berbagai hasil karya pelajar, dalam Festival Merdeka Pelajar, di Pendopo Sabha Swagatha, Selasa (17/5/2022).

Seperti metode pembelajaran melalui game bola yang diciptakan Al Ghazali, siswa kelas 5 SDN 1 Lateng. Al Ghazali yang bercita-cita menjadi seorang programmer itu membuat sebuah game permainan bola pantul berlatar pegunungan.

Ada juga pedal stand hand sanitizer karya Nicholas Nizam Zahir dan Fitsal Asfa dari SDN 1 Pakis. Dua siswa tersebut berhasil membuat alat penyemprot hand sanitizer dari paralon yang dilengkapi dengan pedal sebagai pemantiknya.

“Sengaja bikin alat ini karena memang sangat dibutuhkan saat pandemi seperti sekarang. Bikinnya enggak rumit, seminggu sudah jadi. Alhamdulillah, hasilnya sesuai harapan,” ujar Nicholas.

Karya-karya tersebut dapat dilihat pada Pameran Unjuk Karya yang digelar di seluruh Satuan Koordinator Pendidikan di 25 kecamatan se-Banyuwangi. Pameran tersebut merupakan rangkaian dari Festival Merdeka Belajar (FMB) yang dibuka oleh Bupati Ipuk Fiestiandani.

Optimalisasi Pelayanan Publik, Berikut Inovasi Layanan Administrasi Banyuwangi

FMB yang digelar secara hybrid tersebut, merupakan puncak dari serangkaian pendampingan dan monitoring terhadap program merdeka belajar dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti) di sekolah-sekolah di Banyuwangi. Program ini bertujuan menciptakan suasana belajar yang bahagia, merdeka dalam berpikir dan berekspresi bagi siswa maupun para guru.

“Program Merdeka Belajar ini sangat strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Bagaimana pendidikan kita semakin inklusif dan tidak sekadar terkungkung pada formalitas birokratis,” kata Ipuk.

“Program Merdeka Belajar memberikan keleluasaan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Saya senang anak-anak tidak hanya belajar teori, namun juga langsung praktik menghasilkan karya nyata sesuai passion-nya,” ujar Ipuk.

Menurut Ipuk, dengan konsep Merdeka Belajar, para siswa dan guru dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang ada saat ini. Misalnya, di masa pandemi kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung melalui berbagai alternatif yang memadai, dengan memanfaatkan media teknologi.

“Menggunakan teknologi, kegiatan pembelajaran akan semakin mudah. Belajar tidak harus di sekolah, namun bisa dilakukan di mana saja. Mungkin di taman, di café, atau tempat lainnya yang membuat siswa merasa nyaman dan senang menerima pelajaran,” kata Ipuk.

Program Merdeka Belajar, Dorong Pendidik Berinovasi

Dengan konsep Merdeka Belajar, imbuhnya, belajar bisa dilakukan kapan saja, dengan siapa saja. “Siapa saja bisa jadi guru. Danlanal, Dandim, juga bisa diundang untuk memberikan motivasi kepada anak-anak,” imbuhnya,

Ipuk mendorong agar tenaga pendidik bisa terus berinovasi sehingga proses pendidikan tetap berjalan optimal.

“Tidak boleh lagi ada guru yang masih gaptek. Guru harus bangkit, terus meningkatkan kompetensi, kreativitas, dan inovasi untuk memberikan pelayanan yang semakin baik kepada siswa. Lewat Merdeka Belajar, mari kita ciptakan suasana belajar yang semakin nyaman dan membahagiakan,” pinta Ipuk.

Melihat Persiapan World Surf League 2022 di Banyuwangi

Meski demikian, Ipuk juga mengingatkan bahwa Merdeka Belajar berarti memberikan keleluasaan, bukan bebas yang tidak terarah. “Meski lebih fleksibel, norma-norma pancasila harus tetap dijunjung. Sehingga tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas namun juga berkarakter kuat,” ujarnya.

Sementara Plt. Kepala Dinas Pendidikan kabupaten Banyuwangi Suratno menjelaskan, Festival Merdeka Belajar ini bertujuan untuk mendorong percepatan pelaksanaan program Merdeka Belajar yang telah di luncurkan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim.

“Ini adalah tahun kedua kita menggelar FMB. Lewat kegiatan ini kita ingin memastikan sudah sejauh mana program Merdeka Belajar ini dilaksanakan di sekolah-sekolah,” kata Suratno.

Suratno menambahkan, pada pelaksanaannya kali ini FMB diikuti sebanyak 100 lembaga pendidikan formal maupun non formal, mulai jenjang Paud, TK, SD, SMP, hingga PKBM.

Puluhan lembaga pendidikan tersebut telah mengikuti serangkaian seleksi dan monitoring dari tim monev yang terdiri dari pengawas sekolah, penilik, koordinator wilayah, dan perwakilan Dispendik Banyuwangi. Rangkaian kegiatan ini telah berjalan sejak April 2022.

Gaung World Surf League 2022, G-Land Banyuwangi Ramai Dikunjungi Pesurfer dari Berbagai Negara

“Sebanyak 100 lembaga pendidikan ini sudah membuat berbagai inovasi yang selaras dengan konsep Merdeka Belajar. Ada yang melakukan pembelajaran secara hybrid, ada perpustakaan digital, pembelajaran menggunakan game, dan masih banyak lainnya. Dengan ditampilkan dalam festival ini, kami berharap bisa menginspirasi sekolah-sekolah yang lain untuk segera mengimplementasikan Merdeka Belajar,” urai Suratno.

Ada juga pedal stand hand sanitizer karya Nicholas Nizam Zahir dan Fitsal Asfa dari SDN 1 Pakis. Dua siswa tersebut berhasil membuat alat penyemprot hand sanitizer dari paralon yang dilengkapi dengan pedal sebagai pemantiknya.

“Kami bikin alat ini karena memang sangat dibutuhkan saat pandemi seperti sekarang. Bikinnya enggak rumit, seminggu sudah jadi. Alhamdulillah, hasilnya sesuai harapan,” ujar Nicholas.

Karya-karya tersebut dapat dilihat pada Pameran Unjuk Karya yang digelar di seluruh Satuan Koordinator Pendidikan di 25 kecamatan se-Banyuwangi. Pameran tersebut merupakan rangkaian dari Festival Merdeka Belajar (FMB) yang dibuka oleh Bupati Ipuk Fiestiandani.

FMB yang digelar secara hybrid tersebut, merupakan puncak dari serangkaian pendampingan dan monitoring terhadap program merdeka belajar dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti) di sekolah-sekolah di Banyuwangi. Program ini bertujuan menciptakan suasana belajar yang bahagia, merdeka dalam berpikir dan berekspresi bagi siswa maupun para guru.

“Program Merdeka Belajar ini sangat strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Bagaimana pendidikan kita semakin inklusif dan tidak sekadar terkungkung pada formalitas birokratis. Memberikan keleluasaan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Saya senang anak-anak tidak hanya belajar teori, namun juga langsung praktik menghasilkan karya nyata sesuai passion-nya,” ujar Ipuk.

Menurut Ipuk, dengan konsep Merdeka Belajar, para siswa dan guru dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang ada saat ini. Misalnya, di masa pandemi kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung melalui berbagai alternatif yang memadai, dengan memanfaatkan media teknologi.

Meski demikian, Ipuk juga mengingatkan bahwa Merdeka Belajar berarti memberikan keleluasaan, bukan bebas yang tidak terarah. “Meski lebih fleksibel norma-norma pancasila harus tetap dijunjung, sehingga tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas namun juga berkarakter kuat,” ujarnya.

Sementara Plt. Kepala Dinas Pendidikan kabupaten Banyuwangi Suratno menjelaskan, Festival Merdeka Belajar ini bertujuan untuk mendorong percepatan pelaksanaan program Merdeka Belajar yang telah di luncurkan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim.

“Ini adalah tahun kedua kita menggelar FMB. Lewat kegiatan ini kita ingin memastikan sudah sejauh mana program Merdeka Belajar ini dilaksanakan di sekolah-sekolah,” kata Suratno.

Suratno menambahkan, pada pelaksanaannya kali ini FMB diikuti sebanyak 100 lembaga pendidikan formal maupun non formal, mulai jenjang Paud, TK, SD, SMP, hingga PKBM.

Puluhan lembaga pendidikan tersebut telah mengikuti serangkaian seleksi dan monitoring dari tim monev yang terdiri dari pengawas sekolah, penilik, koordinator wilayah, dan perwakilan Dispendik Banyuwangi. Rangkaian kegiatan ini telah berjalan sejak April 2022.

Artikel Terkait