Perdebatan Wayang dan Jejak Sejarah Walisongo di Banyuwangi

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 31 Maret 2022, 21:02 WIB
Foto kolase wikipedia: Sunan Giri dan Sunan Kalijaga
Foto kolase wikipedia: Sunan Giri dan Sunan Kalijaga

Jauh sebelumnya, perdebatan wayang bermula dari dua Wali Songo, yakni Sunan Giri dan Sunan Kalijaga yang sama-sama memiliki jejak sejarah dengan Banyuwangi.

KH Toha Muntoha Manan, Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab Krikilan Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, mengutarakan, jauh sebelum perdebatan wayang tersebut muncul ke permukaan belakangan ini, dua Wali Songo telah melakukan kontradiksi terkait wayang, yakni Sunan Giri dan Sunan Kalijaga.

Jelang Ramadan, Bupati Ipuk Cek Ketersediaan Stok di Pasar Tradisional

“Sunan Giri dan Sunan Kalijaga merupakan saudara ipar dan memiliki keterikatan dengan Banyuwangi,” kata KH Toha, saat memberikan kajian di Festival Kitab Kuning Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

Menurutnya Sunan Giri atau Maulana ‘Ainul Yaqin lahir procot di Banyuwangi. Ini dibuktikan dengan adanya Kecamatan Giri di Banyuwangi.

Ibu dari Sunan Giri yakni Dewi Sekardadu adalah orang Banyuwangi asli yang dinikahi oleh Maulana Ishaq.

Diketahui Maulana Ishaq memiliki dua istri. Selain Dewi Sekardadu, Maulana Ishaq juga memiliki istri bernama Syarifah Pasai. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai seorang putri bernama Dewi Saroh, yang kemudian menjadi istri dari Sunan Kalijaga. “Jadi Sunan Giri adalah kakak ipar dari Sunan Kalijaga. Jadi Banyuwangi ini punya peran terkait sejarah Wali Songo,” kata KH Toha.

Awal Perdebatan Wayang

Perdebatan soal wayang, menurut KH Toha, bermula dari peresmian Masjid Demak yang baru selesai dibangun. Sunan Kalijaga yang asli Jawa tersebut, menawarkan konsep wayang untuk peresmian tersebut.

Mengetahui konsep yang diajukan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Giri menolak karena bentuk wayang yang sama seperti manusia, dan itu termasuk bid’ah. Mendapat penolakan tersebut Sunan Kalijaga tidak menyerah. Dia lalu berkreasi, sehingga muncullah wayang yang oleh KH Toha disebut wayang syariah.

“Dengan konsep wayang yang gepeng dan tangan yang sampai ke mata kaki, sehingga wayang tersebut tidak menyerupai manusia,” kata KH Toha.

“Dengan konsep tersebut, Sunan Giri akhirnya menerima wayang tersebut. Bahkan Sunan Giri memberikan gending tersendiri yakni gending Asmorodono,” tambahnya.

Keroyokan Turunkan Stunting di Banyuwangi Lakukan Penanganan Seperti Penurunan Kemiskinan

Sunan Giri sendiri dikenal sebagai ulama yang menciptakan banyak gending atau tembang yang masih melekat hingga saat ini. Sebut saja tembang Padang Bulan, Cublak-Cublak Suweng, Turi-turi Putih, Pucung, dan lainnya.

Dalam beberapa literasi, tembang asmorodono (asmaradana) memiliki filosofi manusia yang suka memberi dan menolong sesama mahluk hidup tanpa rasa takabur, seperti cinta Allah terhadap manusia.

Jadi kotradiksi atau perdebatan wayang telah jauh lama terjadi, yang dilakukan oleh dua orang wali yang memiliki keterikatan saudara. “Kalau ada yang berdebat soal wayang, itu hanya mengulang sejarah saja,” tambah KH. Toha.

Artikel Terkait